Pertemuan kedua

1507 Kata
Chapter 5 story N.A Setelah kembali dari Italia, ia tidak menyangka akan kembali bergaya di lintasan balap lagi. Lebih menakjubkan lagi, tahta yang ia impikan berhasil ia genggam. Tahta yang dulu pernah membuat sang kakak hampir celaka, kini berada di tangan Nancy. Tentu semua itu juga karena campur tangan dari sahabatnya, Elvrince. Sebenarnya ia tidak masalah jika tahta itu dimiliki Elvrince, asal bukan geng Felix saja. Ia sangat faham, tanpa harus meminta sahabatnya itu rela berbagi dengan dirinya dalam apapun. Kecuali kekasih. Itu hal wajar. Elvrince sahabatnya lebih menggilai sebuah mobil daripada tahta. Banyak orang menyangka jika memiliki banyak harta akan bahagia, tapi tidak untuk dirinya dan Elvrince. Apa yang diingkan selalu harus melalui ijin terlebih dahulu, membosankan bukan. Tidak ada pilihan untuk mereka, Tuhan telah memilih dirinya dan Elvrince. “Nancy, apa yang kau pikirkan?” seru Elvrince menyadarkan lamunan Nancy. “Ah, tidak ada. Hanya bahagia memilikimu dan keluarga ini” jawab Nancy santai setelah tersadar dari lamunan. “Benarkah begitu?” Elvrince memastikan. “Tentu saja” jawab Nancy cepat. “Oh, Nancy. Manis sekali...” ucap Elvrince manja. “Berhenti menampilkan wajah menjijikkan itu, El!” ucap Nancy dengan bergidik ngeri. “Ck! Kau ini. Aku ini terharu, bukan sok bermuka menjijikkan seperti yang kau katakan,” ucap Elvince sewot. “Uluh.. tuan putri merajuk. Ayo tersenyum! Nanti riasanmu pecah jika kau bermuka masam seperti itu” Nancy menggoda Elvrince yang merajuk oleh kata-kata darinya. “Di rias lagi, apa susahnya. Ayo! Kita berangkat,” kata Elvrince mengakhiri perdebatan kecil itu. Mereka bergegas turun. Dua mobil mewah sudah terparkir cantik di depan, siap untuk dilajukan. Mereka memasuki mobil masing-masing, tapi Elvrince berhenti sebelum benar-benar masuk, ia mengalihkan pandangan ke Nancy yang melenggang ke arah mobil lain, “Kau tidak mau satu mobil denganku?” tanya Elvrince dengan sedikit berteriak. “Tidak. Aku harus pulang ke rumah nanti” jawab Nancy yang berdiri di depan pintu mobil yang telah terbuka lebar. “Oh, baiklah.” Mereka mulai meninggalkan pelataran mansion menuju hotel tempat diadakan Prom malam ini. Sebenarnya orang tua Elvrince menganjurkan menggunakan sopir, tapi Elvrince menolak mentah-mentah. Bagi Elvrince, mobil yang didapat seminggu lalu adalah mobil paling keren dan berkelas. Ah, bukan lagi berkelas saja. Tapi di level paling atas. Ia berhenti karena lampu merah, sambil menunggu ia meneliti setiap tombol. Pandangannya jatuh pada tombol yang berada di samping kemudi, tombol itu juga di ukir sebuah inisial. Suara klakson yang bersahutan menyadarkan Elvrince untuk melajukan kendaraannya. Jalan yang mereka lalui adalah jalur satu arah, jalur yang dikhususkan untuk siswa Hidden side atau tamu tertentu yang diundang. Hanya beberapa menit saja, mereka tiba di Hotel tempat Prom. Mobil sport jenis Porsche yang telah di modifikasi luar biasa keren, berhenti tepat di depan Lobby yang telah terpasang karpet merah. Seorang gadis dengan balutan gaun yang indah dan mewah keluar dari mobil yang sejak tadi menyita puluhan pasang mata. Salah satu gadis menghampiri dan mereka melangkah dengan anggun di atas karpet merah. Layaknya model ternama, dua gadis itu bahkan mengabaikan tatapan kagum semua yang ada. Mereka terus berjalan memasuki ruangan dan berkumpul dengan para siswa lain. Dua gadis itu ialah Elvrince dan Nancy. “Tidak sia-sia aku menukar tahta itu’’ ucap Elvrince lirih “Yeah. Kau lihat sendiri mereka takjub pada mobil itu. Bahkan mereka tidak tahu kalau itu hasil rampasan’’ jawab Nancy pelan dan diiringi tawa ke duanya. Acara begitu meriah. Kebahagian terpacar di wajah semua orang. Malam bersejarah juga malam terakhir untuk mereka. Karena setelah prom ini berakhir mereka akan mulai menentukan jalan masa depan masing-masing. Kini tiba acara inti yaitu berdansa dengan pasangan nya. Mendadak suasana menjadi hening. Elvrince dan Nancy yang memang dari tadi hanya menikmati hidangan yang tersedia atau sedikit minum, karena hanya mereka yang tidak memiliki pasangan. Jadi ke dua nya lebih memilih duduk dan menyaksikan dansa. ‘’selamat malam semua. Aku ingin mempersembahkan satu lagu untuk wanita tercantik bergaun hitam yang sedang duduk bersama sahabatnya’’ suara lantang dari atas panggung tengah aula yang menggema. Dua gadis yang sejak tadi sibuk dengan makanan, sontak terdiam saat seruan lantang masuk ke gendang telinganya. Mereka saling memandang lalu Elvrince menunduk mengamati gaun yang dipakainya. Ia mendongak menatap Nancy menanyakan dengan isyarat mata dan Nancy hanya mengangkat bahunya. Mereka pun memutuskan untuk melihat ke depan. Sontak mata Elvrince membulat tak percaya. Garpu dan sendok yang ia pegang tanpa sadar terlepas membentur piring hingga menimbulkan bunyi Triiingg. Elvrince dan Nancy tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bagaimana mungkin ini terjadi. Dari mana pria itu tahu kalau malam ini ada Prom. Tempat pelaksaannya juga di hotel milik keluarga Nancy. Bagaimana pria itu bisa masuk, karena yang hadir di sini hanya para siswa Hidden side. Tanpa identitas sekolah maka, akan ditolak untuk masuk. Lebih mencengangkan lagi, dengan beraninya bersuara lantang ditunjukkan pada Elvrince. Apa katanya tadi. Menyanyikan lagu untuk Elvrince. Hello. Tidak ada satu pun ada yang berani mengusiknya selama ini, dan malam ini. Pria asing yang tidak dikenal berseru lantang. Oke. Mereka berdua kini fokus ke arah depan dan melupakan makanannya tadi. Hiburan apa yang akan sang pria itu berikan. Sedikit menegakkan badan dan bersedekap tangan, pandangan mereka lurus menatap sang pria yang berada di atas panggung. Pria yang berdebat dengan Nancy satu minggu lalu di Dragon light, karena tidak terima kalah dalam pertandingan, dan mobil Ferrari miliknya dirampas oleh Elvrince. Mobil yang saat ini dibawa oleh Elvrince di acara Prom night. Pria yang berseru tadi mulai memetik senar gitar dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang lebih menjurus untuk sindirian. Baru separuh lagu, pria itu turun dari atas panggung dan berjalan ke arah tempat duduk Nancy dan Elvrince. Tepat di depan Elvrince, lagu yang pria itu nyanyikan selesai. ‘’Hai girls.. kita bertemu kembali’’ ucap Diego ‘’terutama denganmu’’ imbuhnya sambil menundukkan sedikit badannya dan berbisik sensual di depan wajah Elvrince Senyum miring Elvrince persembahkan pada Diego ‘dia pikir aku akan tergoda pada pria sepertinya. Sudah terlalu banyak para pria yang tergila-gila padanya. Tapi ia bukan gadis yang dengan mudah nya jatuh ke pelukan pria. Pria yang bersanding dengan dirinya harus pria baik-baik dan sempurna’ batin Elvrince. ‘’kau pikir sahabatku akan tergoda dengan bualan kosongmu’’ seru Nancy dari samping yang masih menatap dengan bersedekap d**a. Pria itu menoleh dan menegakkan badannya yang sempat menunduk. Menampilkan senyum tipis, Ia berjalan pelan menghampiri Nancy. ‘’Kalau begitu bagaimana denganmu?’’ tanyanya lembut. Nancy hanya menjawab dengan kekehan pelan. “Pria pembual sepertimu biasanya hanya mencari keuntungan sendiri” jawab Nancy dengan suara dingin. ‘’Jangan bilang kau masih tidak terima dengan kekalahan mu Tuan.’’ Ejek Elvrince. Pria itu ialah Diego Celio Auston, inspektur yang dikirim ayah Nancy untuk mengawasi jalannya Prom. Diego yang mendengar lontaran kata keduanya, seketika amarahnya menguar. Rahangnya mengeras. Jika dirinya disini bukan karena mejalankan tugas, sudah dipastikan ia akan memaki kedua gadis di depannya. Dua gadis yang menjadi lawan di area balap ternyata bukan gadis sembarangan. Pantas saja, mereka tidak tertarik padanya seperti gadis lain yang selalu menatap ia lapar. Tanpa mereka sadari, sejak tadi mereka bertiga menjadi tontonan satu aula layak nya drama lamaran yang romantis. Elvrince yang sudah biasa di perhatikan, tak akan merasa keberatan. Bahkan jika seandainya mengajaknya duel, akan ia layani di atas ring. Namun yang terjadi, sang pria mengulurkan tangannya dan menyendok cheese cake milik Nancy. Setelah melahap ia melangkah ke panggung semula tanpa sepatah kata pun. Elvrince dan Nancy saling memandang lalu memandang ke seluruh aula yang hening. Bahkan yang berada di situ masih menatap ke dua gadis tanda tanya. “Apakah anda kekasih salah satu dari mereka?” seru salah satu gadis saat Diego melangkah melewati. Diego hanya menoleh dan tersenyum tipis. Jujur saja, jauh di dalam hati nya ia sangat kesal. Jika saja dirinya tidak menjaga sikap, sudah ia cium gadis itu di depan semua orang. Tapi ia tidak mau, perilaku buruk nya di ketahui publik. Terlebih tempat dan jabatan nya saat ini benar-benar di tuntut profesional. “maaf untuk hal yang tadi. Aku akan memainkan musik dan kalian silahkan berdansa bersama kekasih masing-masing.” Ucap nya. Lalu ia menghampiri piano dan mulai menekan setiap not. Jarinya lihai layaknya pemusik papan atas. permainan piano Diego memang benar-benar menyihir semua yang ada. Alunan musik yang romantis dipadukan suaranya yang indah seolah mendengar nyanyian surga. Bahkan mereka melupakan kejadian tadi. Banyak Pertanyaan yang ingin dilontarkan seketika lenyap,melebur dan terhanyut dengan permainan musik Diego. Nancy berdiri dan mulai beranjak akan melangkah menuju ke lantai dansa tiba-tiba lengannya dicekal. Ia menoleh dan tersenyum pada Elvrince. “Aku hanya ingin melihat seberapa hebat dia El.. jangan kemana-mana” ujar nya. Seakan tau apa yang akan ditanyakan sahabat nya. Nancy melangkah angun dan pasti menuju lantai dansa. Ia mengambil gitar dan mulai melantunkan bait lagu. Biasanya ia bernyanyi hanya karaoke di dalam kamar dengan Elvrince, tapi kali ini ia akan mencoba bernyanyi. Anggap saja malam ini ia membuka salah satu sisi nya. Petikan gitar,suara merdu dengan nada tinggi, berpadu dengan pemain musik pendukung, membuat satu aula menganga tak percaya. Gadis pendiam yang memiliki tingkah laku seperti brandal, malam ini dengan gaun yang indah berada di atas panggung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN