Abytra tertatih-tatih menuju kamar inap Azel. Tulang-tulangnya terasa ngilu, tapi pria itu tetap memaksakan diri. Meski setiap beberapa langkah ia akan berhenti untuk beristirahat; memejamkan mata, mengatur napas dan menghilangkan nyeri yang menyerang persendiannya. Tadi Abytra terbangun ketika suster datang untuk melakukan pemeriksaan. Suster mengatakan besok Abytra sudah bisa pulang karena tidak ada luka yang serius, selain wajahnya yang penuh luka dan memar. Meski saat ini tubuh Abytra terasa remuk, tetap saja ia senang mendengar kabar itu. Rumah sakit bukan hal yang ia sukai--terlebih dulu di tempat inilah ia mengalami kehilangan. Setelah memastikan Abytra meminum obatnya, suster menyuruh Abytra untuk segera istirahat. Abytra mengangguk, dan suster pun pergi. Namun, sepeninggal sust

