bc

Petarung Buta Pencabut Nyawa

book_age16+
103
IKUTI
1K
BACA
friends to lovers
goodgirl
powerful
independent
brave
confident
drama
city
crime
civilian
like
intro-logo
Uraian

Gigan terlahir sebagai penyandang sindrom highlander. Kondisi itu ditandai dengan berhentinya pertumbuhan fisik seseorang. Demikian yang terjadi dengan Gigan, dirinya terlihat seperti anak kelas lima sekolah dasar saja. Namun, orang tuanya tidak membiarkan anak semata wayangnya menjadi lemah. Adnan - Ayah Gigan mengajarkan sekian banyak seni bela diri pada anak perempuan bertubuh mungilnya, agar kelak tidak menjadi generasi yang lemah.

Perkenalan Gigan dengan seorang anak lelaki bernama Sukru, membawanya pada persahabatan yang berakhir dengan rasa cinta. Keduanya bertunangan dan akan segera menikah. Namun, terbukanya rahasia tentang kemampuan bela diri Gigan karena Sukru, membuat dirinya menjadi incaran Yuri. Lelaki bernama Yuri itu adalah seorang promotor untuk pertarungan liar. Di bawah tekanan Yuri yang menculik dan membutakan kedua belah matanya, Gigan harus mau menjadi petarung sampai mati dengan imbalan yang tidak seberapa.

Mampukah Gigan melepaskan diri dari Yuri? Dapatkah Sukru menemukan Gigan kembali?

chap-preview
Pratinjau gratis
Gigan Highlander 135
Prolog                 Dengan mata terpejam, perempuan mungil berjulukkan Gigan itu mendengarkan kata demi kata yang diucapkan Master of Ceremony. Lelaki bertuxedo sedang berkoar-koar di atas ring menggunakan bahasa internasional, membacakan kriteria petarung yang akan bertanding malam ini. Lawan perempuan mungil itu adalah: perempuan dengan bobot dan tinggi lebih dari si mungil, berasal dari Brazilia. Kepala Gigan segera menerawang pengetahuan yang dimilikinya. Sepengetahuan si perempuan mungil berambut ikal besar itu, seni bela diri Brazilia berupa tarian dengan nama kapuera. “Aku tidak akan melawannya dengan silat bercampur parkour,” pikirnya membatin sambil segera menyusun strategi.                 Benar saja, saat lonceng tanda pertarungan dimulai, lawannya yang langsing tinggi semampai itu mengayunkan tangan dan kakinya melangkah berirama. Itulah tarian kapuera. Getaran yang ditimbulkan oleh jejakkan kakinya yang bergantian terhantarkan ke telinga Gigan yang buta. Dirinya bergeming, menajamkan indera pendengaran dan perabaan. Menunggu serangan pertama dari lawan yang diperkirakan berupa lompatan menyapu setinggi kepala. Benar saja dugaan Gigan. Pada detik tak lebih dari ke sepuluh, lawannya segera menyerang. Gesit Gigan mengelak dengan gerakan kayang, mencondongkan tubuh ke arah belakang sehingga membentuk sudut sembilan puluh derajat. Setelah itu, melanjutkannya menjadi gerakan berbalik ke belakang. Dua kakinya yang terayun ke atas menendang sebelah kaki lawannya tepat ketika melayang di atas tubuhnya. Mengakibatkan perempuan asal Brazilia itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab. Selanjutnya Gigan kembali bergerak cepat berbalik ke depan. Dengan tubuh merentang agar titik jejak memanjang sehingga dapat mendaratkan kaki pada punggung lawan. Hal itu serupa seperti tendangan dengan dua belah kaki. Membuat perempuan Brazilia gagal untuk bangun dan kembali terjerembab dalam keadaan tetap tertelungkup. Gigan tidak mau buang waktu, itu memang caranya untuk memperkecil rasa perih di hati setiap kali harus menghabisi lawan tandingnya. Sejurus dirinya melayang dan menduduki punggung si Brazilia. Lutut mungil sekeras baja spontan mengunci gerakan tangan dengan lutut. Sementara kedua belah tangannya cepat bergerak memuntir. Dengan satu kali putaran, kepala lawannya langsung terkulai tak berdaya. Semua terjadi hanya dalam waktu kurang dari satu menit.                 Sorak kemenangan orang-orang yang telah mempertaruhkan uangnya atas nama si mungil Gigan terdengar menderu. Seperti akan meledakkan gedung pertarungan liar itu. Perempuan mungil berambut ikal besar sengaja memicingkan kedua mata yang hanya bisa menangkap bayangan buram. Dirinya tidak kuat menyaksikan kelebatan-kelebatan orang-orang yang sedang merasakan euphoria. Yuri pun menghampiri, manajer sekaligus orang yang pengeksploitasi kemampuan dirinya itu langsung menaikkan jagoannya ke atas bahu. Dia ikut bersorak gembira sambil mengacung-acungkan tangan Gigan ke atas. Meneriakkan kemenangan, sementara perempuan mungil itu meneteskan air mata. Dirinya selalu menangis setiap kali harus mengirim lawannya untuk bertemu dengan malaikat maut yang menjemput. **PBPN** Part 1. Gigan Highlander 135                   Namanya Gemma, tetapi Adnan - Ayahnya senang sekali memanggil anak semata wayangnya itu dengan nama Gigan. Kamu tahu `kan apa arti Gigan atau lengkapnya Gigantisme? Sebenarnya itu nama dari suatu penyimpangan dalam pertumbuhan yang dialami seseorang yang berupa membesarnya salah satu anggota tubuh. Bisa terjadi pada telinga, tangan atau kaki. Bahkan mungkin juga terjadi pada alat vital.  Namun, pada kenyataannya Gigan dinyatakan sebagai penyandang sindrom Highlander. Yang mana penyimpangan ini justru memiliki gejala mengecil atau berhentinya pertumbuhan seluruh anggota tubuh. Gigan mengalaminya mulai saat menginjak usia remaja. Akibat sindrom itu, tubuhnya berhenti bertumbuh. Hingga saat ini hanya sampai 135 cm dan menurut dokter yang menanganinya akan tetap sampai akhir hayat. Tidak hanya tubuh, tetapi wajah dan yang lainnya juga menetap seperti anak kecil, bahkan Gigan tidak mengalami akil baligh.                 Saat dirinya bertanya pada Adnan, mengapa ayahnya itu senang memanggilnya dengan nama Gigan. Ternyata karena Ayahnya ingin membuat Gigan memiliki keberanian yang besar dan meraksasa. Bukankah nama itu sebuah doa? |Jadi, meski Gigan hanya memiliki tinggi badan seratus tiga puluh lima senti meter dan terlihat seperti anak kelas 5 SD, tetapi keberaniannya untuk menjalani hidup, jangan pernah dibandingkan dengan dirimu. Dia tidak punya rasa takut pada satu hal apa pun.  Gigan hidup di zaman sulit, di mana kedzaliman menjadi model pemerintahan. Yang mayoritas bermanfaat hilang dan adab baik tidak berkembang. Sementara segala hal yang menyimpang diberi penghargaan, bahkan diberi jaminan meluas menyelimuti dunia. Sungguh bukan hal mudah untuk berani bertahan hidup pada keyakinan yang didasari oleh hati nurani pada masa itu. Kebaikan dan keburukan saling membias hingga menjadi buram.                 Isi dunia ini terasa begitu mengglobal. Meski pun berada pada satu titik kecil di dalam peta, tetapi sangat mudah mendapati setiap ras dan suku yang tersebar di pelosok dunia. Sistem kekuasaan yang digunakan pun cukup satu saja.  Seperti hanya memiliki satu mata. Akhirnya tujuan hidup setiap orang saat itu juga hanya satu, bersenang-senang saja. Apa pun yang diusahakan mereka, hanya akan berujung pada kesenangan sesaat di dunia, uang, dan harta benda. Tidak heran, karena bagi kebanyakkan mereka, hidup setelah mati itu tidak ada.                 Ayah dan ibu Gigan bertekad, tidak meninggalkan generasinya dalam keadaan lemah, baik fisik mau pun rohani.  Dengan alasan itu, keduanya menjejali tubuh mungil itu dengan sekian banyak pengetahuan untuk mempertahankan diri. “Hidup dalam situasi sulit itu butuh keberanian dan kekuatan tanpa limit,” demikian pesan Adnan padanya di suatu waktu.                 Sebenarnya Gigan belum benar-benar tahu situasi sulit itu seperti apa. Seumur hidupnya masih selalu bersama, Adnan dan Neslia - Ayah dan Ibunya. Kedua orang tuanya itulah yang selama ini memecahkan masalah. Sampai pada suatu ketika, akhirnya kesulitan itu datang menerpa. Terundang karena ulah Gigan sendiri yang bertindak ceroboh dan semena-mena. Tepatnya terjadi pada hari kelahirannya yang ke tujuh belas tahun. Sore hari menjelang senja, ketika Adnan dan Neslia sibuk dengan urusan rumah, Gigan bertanya pada Ayahnya, “Ayah, ini hari ulang tahunku, `kan?”  “Ya,” sahut lelaki usia kepala empat itu tanpa menoleh, sementara tangannya sibuk menjahit matras yang robek.  “Ayah, ingat janji yang telah Ayah berikan?” Lelaki tegap dengan lengan kokoh itu tidak langsung menjawab. Sebentar dirinya seperti sedang mengingat-ingat lalu berkata, “Janji apa, ya?” “Kata Ayah saat usia tujuh belas tahun, aku akan memperoleh kebebasan yang lebih, benar `kan Ayah?” jelas Gigan tegas.                 Lagi-lagi Ayahnya tidak langsung menjawab. Beliau memandangi gadis mungilnya sekilas lalu menunduk kembali, tetap sibuk dengan kegiatan sebelumnya, menjahit matras yang robek. Sebentar dahinya terlihat berkerut, seperti sedang berpikir tentang jawaban yang tepat untuk pertanyaan anak perempuannya tadi. Sementara Neslia yang sedang mencuci piring terlihat seperti gelisah, berulangkali memandang ke arah Adnan.                   “Gigan, itu, `kan janji Ayah sebelum tahu kalau kamu penyandang sindrom highlander. Ayah masih khawatir, Nak. Janji Ayah, dibatalkan saja, ya!” jawab Adnan setelah beberapa jenak.                 “Maksud Ayah? Apa Ayah meragukan kemampuan Gigan untuk membela diri di luar sana saat sendiri? Karena tubuh mungil ini?”                 “Ayah tidak pernah meragukan kemampuanmu.”                 “Lalu kenapa menjadi payah setelah tahu Gigan penyandang highlander?”                 Lelaki nyaris paruh baya itu tidak dapat menjawab. Ekor mata Adnan melirik sedikit tajam. Hal yang ditakutkan hati lelaki itu terbaca oleh puteri semata wayangnya. Adnan memilih diam.                 “Anggap saja ini kesempatan untuk membuktikan kemampuan Gigan, Ayah,” desak gadis mungil itu tidak sabar.                 “Maafkan Ayah belum bisa meluluskan permintaanmu, Nak.” Sahutan itu diterima Gigan setelah kedua orang tuanya saling pandang.  Gigan yang tidak menyangka kalau janji itu akan dibatalkan secara sepihak. Spontan rasa kecewa menyelinap dan meraja di hatinya. Tak heran, karena dirinya sudah bersabar menunggu untuk mendapatkan kebebasan itu selama beberapa tahun belakangan ini.                 “Ayah pernah bilang, manusia itu yang dipegang adalah kata-katanya. Kenapa kali ini Ayah mengingkari janji Ayah sendiri? Ayah payah!” rutuk Gigan meluapkan kesalnya sambil meninggalkan lelaki yang telah mengajarinya banyak hal itu. Lincah kaki perempuan mungil itu menjejak berlari menuju kamar yang terletak di loteng. Hatinya berharap Ayah dan ibunya akan mengejar. Sebelum-sebelumnya hal itulah yang terjadi sehingga Adnan dan Neslia pada akhirnya akan memberikan apa pun yang dirinya pinta. Akan tetapi, kali ini tidak demikian. Adnan dan Neslia membiarkan Gigan menyendiri di kamar loteng sampai tengah malam. Bahkan saat jam tidur tiba sepasang orang tua yang dianugerahi gadis mungil itu pun segera beranjak tidur. Tidak ada satu di antara keduanya yang menyambangi Gigan untuk menjelaskan alasan janji itu dibatalkan.                 Hal itu membuat Gigan bertambah kesal sehingga keinginannya untuk pergi ke luar pun mengeras. Detik itu juga terlintas niat dalam hatinya untuk menyelinap ke luar meski tanpa izin. Gigan sama sekali tidak merasa khawatir. Dia yakin, kalaupun ayah dan ibunya memberikan kebebasan itu, dirinya akan tetap tunduk patuh dengan peraturan yang ada. Dia tidak akan melanggar norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Itu artinya, Gigan tidak akan menjadi liar meski diberikan kebebasan. Genapnya usia Gigan menjadi 17 tahun itulah yang membuat dirinya ingin sekali merasakan kebebasan. Kebebasan yang berarti memperolah kesempatan keluar rumah tanpa pengawasan dari salah satu orang tuanya. Atau setidaknya diperbolehkan pergi keluar pada tengah malam. Pembatalan janji sepihak itu, telah mendorong si gadis mungil untuk bersikap sedikit membandal. Sengaja dirinya menunggu malam semakin menua, saat Adnan dan Neslia sudah larut dalam mimpinya. Segera Gigan memakai baju tertutup yang biasa digunakan untuk keluar. Setelah mematut diri dengan rapi, Gigan menyelinap ke luar lewat jendela.   **PBPN** Giza,16102021

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
44.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.7K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.8K
bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook