Di tengah perjalanan pulang, rasa perut tak nyaman menghampiri. Aku merasa kedatangan tamu bulanan, aku berharap bisa segera punya momongan, ah tapi Tuhan masih belum menganugerahi momongan. Aku mulai gelisah saat nyeri itu muncul, kuremas tangan Rizky tiba-tiba, menahan sakit. "Kenapa?" tanyanya "Mas. Aku... Ah sudahlah." jawabku. Mood berubah tidak baik. Kulemparkan pandanganku ke luar jendela. "mampir ke apotek terdekat ya pak?" pintaku "Baik Non," jawabnya. Rizky menggenggam erat tanganku. "Datang bulan lagi, Sayang?" tanyanya. Aku mengangguk frustasi, ternyata hanya terlambat datang bulan, aku kira sudah ada calon bayi dalam perut ini. Tidak lama, supir berhenti di depan apotek, aku ingin keluar membeli pembalut. Tapi Rizky melarangnya. "Biar aku yang belikan untukmu," katanya.

