Resepsi

1164 Kata
Hari yang di tentukan tiba, hari resepsi pernikahan. Seharusnya ini adalah hari bahagiaku, namun apalah dayaku. Diriku masih selalu memikirkan Albert pacarku. Sejak terakhir bertemu, sedikitpun tidak ada kabar tentangnya. Teman-temanku juga tidak mengetahuinya. Aku dan Rizky, di rias bak putri dan pangeran. Banyak tamu undangan yg datang. Dari teman Ayah, temanku dan keluarga Rizky. Kami memakai adat jawa, sebab orang tua kami asli dari Yogyakarta. Acara demi acara telah terlewati. Namun tamu undangan masih ramai, lantunan shalawat al Baddawi dari grub rebbana Pon pes Al Hikam masih terdengar merdu. Selain rebana juga ada khasidah dari grub Ibu-Ibu pengajian komplek. Lelah sebenarnya tubuh ini, namun tamu masih juga datang dan pergi silih berganti. Temanku Reza ,Dinda juga Lisa. Setia menemaniku. Selepas shalat ashar, Aku ngobrol dengan teman-temanku di kamarku. Rizky masih melayani tamu-tamu yg datang. "Sejak putus dengan Albert, aku belum pernah dapat kabar darinya." kataku, menundukkan kepalaku. "Kamu sudah menikah, fokuslah sama suamimu." Reza menasehatiku. "Iya Qii, walau Rizky bukan yg kamu sukai, tapi aku liat Rizky laki-laki baik." sahut Lisa. Aku hanya menganngguk. Seorang pelayan mengetuk pintu kamar, aku di minta turun. Sebab ada tamu dari keluarga Bandung yang baru tiba. Aku dan teman-temanku turun dari kamarku, riasanku sudah aku hapus, saat aku wudlu dan mau shalat. Aku mlihat Lisa yang sedang menerima panggilan ponselnya, raut mukanya tiba-tiba berubah muram. Aku dan kawan-kawanku menghampirinya. Dia nampak terkejut melihat kedatangan kami. "Ada apa Lis?" tanyaku "Hmm.. Anu hhmmm.. Gimana yaa." Lisa malah nampak kebingungan. "Anu kenapa?" tanya Reza. Lisa memandangku, seakan ada yang ingin di sampaikan. "Barusan telpon dari teman Albert, dia minta tolong sampaikan ke Aqila." katanya. "Hhmm.. Ada apa Lis?" aku khawatir, mendengar nama Albert. "Albert kecelakaan." "Apa?" aku terkejut, air mataku tak dapat kubendung. "Qii, kamu yang sabar yaa?" Lisa mengelus bahuku yang melemah, "Dan sudah tiga minggu ini, Albert koma." lanjut Lisa. Pikiranku melayang ke kejadian saat aku baru bertemu dengan Albert, dan saat aku kembali ada kecelakaan di jalan. Namun aku tidak menghiraukan. Tubuhku terasa lemas seperti tak bertulang, pandanganku kabur. Dan semua nampak gelap. Saat aku tersyadar, aku sudah berada di dalam kamarku, di sampingku ada Rizky. Aku ingin menangis namun seperti tak dapat aku keluarkan air mata ini. Rizky memelukku. Dia tahu apa yang aku rasakan. "Temanmu sudah cerita sama aku, kamu shalat maghrib dulu. Nanti aku antar kamu ke rumah sakit." terang Rizky. Aku memandang Rizky. Dia laki-laki yang sangat sabar. "Bagaimana dengan keluarga kita?" tanyaku. "Aku akan bilang, kita mau pergi berbulan madu..." katanya. Di saat itu mertuaku dan Ayah masuk kamarku. Mereka ingin melihat kondisiku. Rizky berkata, aku hanya kecapek'an. Dan setelah ini. Kami akan pergi honeymoon. *** Rizky mengantarku ke rumah sakit. Di ruang VVIP aku melihat tubuh lemah Albert. Di sana ada Ibunya. Tante menghampiriku. Beliau memelukku. "Bagaimana keadaan Albert Tante?" tanyaku. Tante Berlin memandangku, ia mengulum senyumnya. "Albert tidak ada luka luar secara serius, namun ada luka bathin yg membuat dia koma." terang Tante Berlin. "Maafkan Qila Tante, ini salah Qila." ucapku. Tante menggeleng, beliau memang perempuan yang penyabar dan penyayang. "Tidak apa-apa sayang, Tante tahu kamu sudah menikah, tapi Tante mohon. Buat Albert syadar kembali. Setelah itu, kamu bebas pergi." pinta Tante memohon. "Siapa nama Suamimu?" Tanya beliau. Aku memandang ke arah Rizky. "Saya Rizky tante." jawabnya. "Tante minta, izinkan istrimu menemani anak Tante sampai dia bangun..." pinta Tante Berlin. Rizky mengangguk, dia melempar senyum. "Iya Tante, saya juga akan menemani istri saya selama dia menemani Albert." jawab Rizky. Tante hanya minta aku untuk mengobrol dengan Albert, membangunkannya. Jika dia bangun, aku harus segera pergi. Supaya dia tidak melihatku ada disini. Malam ini, aku dan Rizky menemani Albert di rumah sakit. Mama Albert kembali ke rumahnya. Aku janji akan membuat Albert terbangun. Tubuh lemah dengan tempurung oksigen yang terpasang di hidungnya. Selepas isya aku membaca Al qur'an di telinga Albert. "Sayaang..Albert beneran sudah jadi muallaf?" tanya suamiku. "Iya, kenapa Mas?" tanyaku. "Albert teman lamaku, dia katholik yg taat agama setahuku." jawab Rizky. "Benarkah?" tanyaku "Kami kenal pas kuliah S2 di Jerman... Memang tidak lama tapi..." "Aku percaya sama Albert, dia tidak pernah berdusta." potongku, Akupun melanjutkan bacaan al Qur'anku. Rizky keluar meminta izin cari makan. Inilah bulan madu kita. Bulan madu di rumah sakit. *** Selepas shalat subuh, aku mencoba ngobrol dengan Albert. Walau tidak ada respon, tapi aku yaqin dia sebenarnya mendengarkanku. Aku bercerita tentang awal aku mengenalnya, dan saat kita jadian dan berpacaran, bercerita saat Albert cemburu, bagaimana dia mogok makan sehingga aku harus menyuapinya seperti anak kecil. Tempat favorite yg pernah kita kunjungi, sampai pernah lari di kejar anjing saat kami iseng metik buah di halaman rumah orang. Belum ada respon dari dirinya. Albert tetap membisu. "Kamu siapa?" tanya seseorang perempuan dengan tidak sopan, aku dan Rizky memandangnya secara bersamaan. "keluar kamu.! Aku ingin bicara!!" Aku mengikuti dengan terpaksa karna dia menarik tanganku, "Jadi kamu pacar Albert?, lebih baik kamu menjauh darinya karena dia calon suamiku, sebentar lagi kami akan menikah." ungkapnya, matanya melotot penuh emosi. Aku tersenyum kecut, memandang gadis dengan pakaian yg minim dan nampak seksi tersebut. "Kamu yaqin Albert akan menikahimu?" tanyaku, "Aku yaqin, karena kami sudah di jodohkan." sulutnya. "Tapi aku nggak yaqin, kamu bukan tipenya." jawabku tak mau kalah, dia ingin menamparku, tapi untunglah Mama Albert tepat waktu datang, "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mama Albert. "Tante... Aku mau menemani Albert." jawab gadis tersebut. "Kamu malah akan membuat Albert semakin terpuruk, pergilah." suruh Tante, aku tersenyum merasa menang. "Tapi tante.." gadis itu menolak, Mama Albert memalingkan muka. "Oh iya Neng, kalo kamu yaqin Albert menyukaimu, ganti cara berpakaianmu sebab Albert tidak menyukai gadis dengan pakaian seksi dan terbuka." ungkapku, merasa menang dan meninggalkan gadis tersebut, yang melongo *** Hari berikutnya, Albert masih sama, koma tidak ada respon sama sekali. Tapi saat aku membacakan surah An Nisa, di tengah ayat. Albert merespon, matanya berkedip bersamaan dengan jari tangannya bergerak, spontan Rizky memanggil Dokter. Mama Albert tahu, jika Albert sudah menjadi muallaf, sebab itu aku di izinkan melantunkan ayat al Qur'an di telinganya. Tepat di hari ketiga ini, Albert terbangun. Aku langsung menghindarinya. Aku melihat dia dari balik pintu. Rizky yg menemaninya. Senyum lemah, terpancar dari raut albert, Rizky mencoba ngobrol dengannya. "Kamu butuh sesuatu?" tanya Rizky. "Kamu di sini? Kenapa aku merasa ada Aqiila disini?" tanyanya begitu lemah. "Dari tadi aku sendiri. Kamu kenapa. terus Aqila itu siapa?" Tanya Rizky, pura-pura tidak mengenalnya. "Aqiila pacarku, aku menjadi muallaf demi ingin menikah dengannya. Tapi.. Ah sudahlah." suaranya terhenti. "Silakan kalau mau cerita aku akan mendengarkannya." pinta Rizky. "Aku pacaran dengannya lebih dari satu tahun, aku menyayanginya lebih dari nyawaku, dia baik walau sedikit galak. Aku sudah akan melamarnya. Tapi dia sudah tunangan dengan orang lain. Sakit hati ini rasanya." Albert menangis. Dia menangis demi aku. Aku lari menjauh dari depan kamar Albert di rawat. Akupun menangis di taman rumah sakit. Aku sayang Albert, sisi hatiku mencintainya namun aku sudah terikat pernikahan dengan Rizky. Pernikahan bukanlah permainan. Aku tetap akan mempertahankan. Meskipun hati ini sakit, hatinya sakit. Tapi mungkin inilah yang terbaik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN