Keputusan Yang Akan Dipilih

1013 Kata
Keberanian adalah apa yang diperlukan untuk berdiri dan berbicara. Keberanian juga diperlukan untuk duduk dan mendengarkan." - Winston Churchill *** Aku mendorong kuat tubuh Rizky yang akan menindihku. Sungguh aku belum siap untuk saat ini. "Kamu jahat!" makiku. Aku tidak terima atas ciuman yang dia lakukan kepadaku. "Maafkan aku, maaf... Lain kali aku tidak akan memaksa," ucap Rizky, mengiba penuh penyesalan. "Kau telah mengambil ciuman pertamaku" protesku, memanyunkan bibir.. Aku menggulung tubuhku dengan selimut. Aku abaikan si Rizky. Dia memang suamiku. Tapi aku belum siap menerimanya. Dan dia juga tidak aku izinkan menyiumku dengan paksa. Aku tidak suka di paksa. *** Hari berikutnya aku kembali bertemu Albert. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Bagaimanapun juga aku telah menikah. Walaupun sepenuhnya aku belum benar-benar mencintai suamiku, namun sebuah ikatan pernikahan bukanlah sebuah ikatan sehari ataundua hari, namun sebuah ikatan untuk seumur hidup. "Sayang, kenapa mukamu di tekuk seperti itu?" protes Albert, saat dia sudah duduk di hadapanku, Aku hanya membalas dengan senyuman yang terkesan ku paksa. Ku tarik napasku dalam, aku tahu mungkin menyakitkan baginya. Namun ini juga menyakitkan untukku. "Maafkan aku Albert...l Mungkin kita harus akhiri hubungan kita," kataku terbata. "Kamu jangan bercanda Sayang," elak Albert. "Aku serius. Hubungan kita tidak bisa di lanjutkan lagi." ungkapku. Dengan air mata yang aku tahan. "Kamu mau buat kejutan ya Sayang?" tanyanya, matanya berkaca, mencoba tersenyum. "Tidak. Kita memang tidak di takdirkan bersma." lanjutku. "Tapi Sayang, apa yang membuatmu berkata seperti itu, apa salahku, aku minta maaf jika aku salah kepadamu. Kini aku seorang muallaf, yang sebentar lagi siap meminangmu." katanya. "Tidak. Kamu tidak salah. Akulah yg salah, kamu terlalu baik untuk aku miliki. Kita harus akhiri ini semua," terangku. Aku tidak bisa berkata jujur atas pernikahanku. Albert menarik tanganku, dan dia melihat cincin yang melingkar di sela jari manisku. "Kamu.. Apakah kamu sudah bertunangan dengan orang lain? Apakah kamu menghianatiku?" Tanyanya, bertubi. Dia nampak marah, baru kali ini aku melihat dia benar-benar marah kepadaku. Air mata kamipun tak dapat di bendung lagi. Aku tak mampu menjawab. "Maafkan aku." hanya kata maaf yang dapat keluar dari mulutku. "Aku tidak menyangka, kau tega mengkhianatiku!!" makinya. Meskipun dia marah, namun tidak ada kata kasar yang keluar dari mulutnya. Dia pun pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. "Maafkan aku, Albert maafkan aku!!" isakku. Albert tidak memperdulikanku lagi. Dia berjalan menjauhiku. Aku tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang seakan menyalahkanku. Aku sendiri di sini, hancur hatiku karena telah menyakiti hatinya. Terdengar dering suara gawaiku, panggilan dari suamiku. "Iya." jawabku, menahan tangisku "Assalamu'alaikum," ucapnya dari ujung ponselku. "Wa... Wa'alaikum sallam, "jawabku terbata "Sayang kamu menangis? Kamu di mana?, aku akan menjemputmu." Rizky nampak kuwatir "Tidak. Aku baik-baik saja. Aku sudah di dalam taksi mau pulang" kataku, berbohong. "Sayang.l. Ada apa denganmu, kamu di mana aku jemput kamu." Rizky terus menanyakan keberadaanku. Ia nampak panik. Ia begitu sangat mengkhawatirkanku. "Tidak usah. Nanti kita ketemu di rumah." jawabku. Dan aku langsung mematikan ponselku, tanpa mengucap sallam. Ku seka air mataku. Dan aku bergegas keluar dari restoran, aku menghadang sebuah taksi dan langsung masuk ke dalam taksi tersebut Macet di jalanan. Membuatku gusar, apalagi aku masih dalam keadaan datang bulan. Semakin kesal di buatnya. "Kenapa pak?" tanyaku, gusar. "Sepertinya baru ada kecelakaan di depan Non." jawab supir taksi. "Tapi sepertinya sudah di bawa mobil ambulance korbannya," sambungnya. Aku tidak menghiraukannya. pikiranku benar-benar sangat kacau. Namun tiba-tiba aku teringat Albert, Semoga Albert baik-baik saja. Semoga kelak kau akan menemukan cinta sejatimu. Semoga kamu bahagia dengan orang lain dan aku bahagia dengan hidupku saat ini, meskipun aku tanpamu dan kau tanpaku. Tapi entah kenapa perasaanku tidak enak sama sekali. Sampai di rumah, aku bergegas mandi. Mandi air dingin, untuk menyegarkan diriku dari kepenatan. Seharusnya, sore itu aku akan photo buat cetak undangan pernikahan. Namun mood aku yang kacau membuat Rizky membatalkannya. Teman-temanku tahu, jika aku sudah menikah, Mereka terkejut, sebab pernikahan yang sangat mendadak. Tidak ada satu bulan akan di adakan resepsi pernikahan. Semua sudah di persiapkan keluarga Rizky. Kakek Nenekku yang dari Yogyakarta juga sepekan lagi datang kemari. Rumah bakal ramai dengan kehadiran sanak saudara. *** Sejak terakhir bertemu Albert, aku tidak pernah tahu kabarnya. Bahkan nomor dia tidak aktif sama sekali. Aku tidak banyak kenal teman Albert. Jadi aku tidak tahu keadaannya. Surat undangan untuknya, awalnya akan aku berikan langsung. Tapi mengingat dia saat marah dan meninggalkanku. Membuatku merasa sangat bersalah. Dia sangat terluka, begitu juga denganku. Walaupun aku belum siap menganggap Rizky sebagai suamiku, namun sedikit demi sedikit aku akan mencoba menerima dia sebagai suamiku. Aku melayani Rizky selayaknya seorang istri. Namun untuk hubungan di atas ranjang, aku belum bisa melayaninya. Bahkan sejak kejadian ciuman itu. Aku kini jika tidur aku selalu membatasi kasurku dengan sebuah guling. Dan aku selalu memakai baju yang panjang. Tidak terbuka lagi. Hanya di depan keluarga aku mampu menunjukan kemesraan kami. Rizky pria yang baik. Dia pandai menjaga hatiku. "Sayaaang... Kamu masih mikirin pacarmu?" tanya Rizky, tiba-tiba dia melihat layar ponselku yang aku pakai wallpaper fotoku dengan Albert saat di pantai. "Dia tampan, pantesan kamu tidak bisa membuka hatimu untukku." katanya, aku tersenyum mencibir. "Shok tau!" geramku. Aku matikan daya ponselku. "Coba liat pacarmu seperti apa?" tanyanya. Dan meraih ponselku. "Di larang kepo." elakku. "Cuma mau lihat doank nggak boleh?" protesnya. Akupun menyerahkan ponselku. Dan membuka kunci gawaiku. Dia suamiku, aku tidak bisa terus menutupi darinya. "Pacarmu ganteng.. Mirip temanku.Tapi siapa yaa." Rizky manggut-manggut, seakan sedang mencoba mengingat sesuatu. "yaa kenallaah, orang dia yg aku post di IG aku." jawabku. Sewot. "Ih.. Sayangku kalo lagi ngambek, jadi tambah manis dech," ledeknya. "Aku sudah putus sama dia, dan sampai saat ini sudah seminggu sedikitpun tak ada kabar tentangnya." terangku. "Kamu menyesal menikah denganku?" tanyanya, pasang wajah memelas. "Menyesal banget. Tapi aku tak bisa menolak. Mungkin ini memang takdirku, harus menikah denganmu, si bocah cengeng," ledekku. Lagi-lagi dia mencubit hidungku. Spontan mataku melotot. "Ah terserah kau, yang jelas aku sangat bahagia bisa menikahi si putri galak." ledeknya, tak mau kalah. Lalu ia menggelitiki tubuhku, membuatku merasa kegelian, "Aah jangan aku nggak suka di gelitiki, geli!" protesku. Mencoba mengelak, namun Rizky seakan malah di suruh, ia terus menggelitiki tubuhku. Membuatku tak bisa menahan tawaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN