First Kiss

1012 Kata
Setiap mimpi yang besar dimulai dengan seorang pemimpi. Ingatlah selalu bahwa kamu memiliki kesabaran, kekuatan serta hasrat untuk meraih segala bintang yang dapat mengubah dunia. *** Selepas shalat maghrib, kami bertiga makan malam. Rizky masak spugetty kesukaanku, tapi bumbunya kurang pedas. Rizky selalu mengingatkan aku untuk tidak makan terlalu pedas. Dia ingat kesukaanku. Namun aku yang memang pecinta pedas, tidak terlalu menghiraukannya. Makan malam yang seperti biasa, tanpa banyak obrolan, dan hanya suara sendok dan piring yang beradu. selesai makan, Ayah dan Rizky pergi ke masjid untuk shalat isya berjama'ah. Sedangkan, aku beberes di dapur. Membersihkan semua piring kotor dan sisa lauk lainya, mengelap meja dan menyimpan sisa makanan di kulkas. Selepas isya aku membuatkan s**u jahe, Ayah sangat menyukai s**u jahe buatanku. Aku menaruh dua cangkir s**u jahe di ruang tengah, saat Ayah dan Rizky sudah kembali dari masjid. "Hhmm.. Aroma s**u jahe, mantap sekali." Ayah mengagetkanku. "kok cuma dua, buat Ayah mana?" tanya Ayahku yang berlagak seperti anak kecil. . "Itu buat Ayah sama Rizky." kataku "Hmm... Dia suamimu," Ayah mengingatkanku, Rizky tertawa meledek. "Maksudku Mas Rizky," kataku, sedikit canggung. Di depan Ayah sebisaku menjaga perasaan Ayah. "Makasih Istriku yang cantik." puji Rizky. Membuatku sedikit malu, melihat tingkah Rizky yang juga lucu. "Ayah, lelah hari ini, minum s**u langsung tidur," kata Ayah, kekanak kanakan. "Tidak nonton sinema favorite Ayah?" Tanyaku. Sebab aku melihat ada acara TV laga favorite Ayah. "Ah itu sudah tayangan ulang, Ayah sudah menonton sebelum di tayangkan di layar TV" Jawab Ayah, Ayah mengambil cangkir berisi s**u jahe. Lalu meminumnya sampai tandas, tanpa tersisa sedikitpun. "Ayah mau istirahat dulu, silakan kalian ngobrol untuk masa depan kalian, Ayah sudah tua, segeralah Ayah di kasih hadiah cucu yang lucu." ledek Ayah. Lalu Ayah berlalu. Beliau berjalan menuju kamarnya, yang memang berada di lantai dasar. Aku ingin membuka mulutku untuk protes, namun aku urungkan "Baik Ayah," jawab Rizky, cengengesan nggak tahu malu. "Ah aku juga mau tidur, capek." kataku. Akupun berbalik, dan bergegas menuju lantai atas. Diriku yang sebenarnya cukup lelah padahal seharian aku tidak melakukan aktivitas apapun. "Terus aku ngobrol sama siapa?" tanya Rizky merajuk. "Sama tembok," jawabku, asal Dan aku lari naik ke lantai atas. Aku tidak menghiraukan Rizky, yang seperti orang kebingungan, yang nampak putus asa. Saat aku ingin membuka pintu, dia memelukku dari belakang. "Ini temboknya," katanya, sambil mencium pipiku. "Ah kau ini!" elakku. Aku mencoba menghindar. Dari bibirnya yang akan kembali menciumiku. Rizky tertawa merasa menang. Saat dirinya berhasil menciumku. "Dasar kamu pencuri!" makiku. Aku memonyongkan bibirku, "Mencuri apa?" Rizky pura-pura tak mengerti. "Kamu nyium aku tanpa izin," jawabku, memanyunkan bibirku. "Ya udah aku minta izin mau nyium istriku yang cantik ini boleh?" ledeknya. "Nggak boleh!" bentakku, kesal tapi entah kenapa jantungku jadi berdetak tak karuan. "Tuch kan, izin aja nggak boleh, kalau githuu aku mau nyuri lagi," katanya, "Ah.. Dasar kau!" aku menyembunyikan wajahku, menutup dengan kedua tanganku "Iih.. Pipimu kok jadi merah kaya kepiting rebus?" ledeknya, aku semakin geram. Kenapa si Rizky jadi sangat menyebalkan. Sejak kapan dia jadi seperti ini. Aku masuk ke dalam kamar, mendudukan p****t di ranjang dan bersandar di kepala ranjang, di ikuti Rizky duduk di sebelahku. Kepalaku di tarik perlahan, bersandar di bahunya. Entah mengapa aku manut saja. Dia memulai cerita sejak awal kami berpisah saat dia Masuk SMP. "Kamu tahu nggak sih, aku selalu kepikiran wajah manismu." katanya. Membuka percakapan "Aku sering melamun. Lama-lama. Ayah dan Bunda merasa curiga, atas perubahan sikapku. Kakak aku sangat sayang sama aku, kakak tahu apa yang aku pikirkan, kakak mendekatiku, dan akupun bercerita tentang perasaanku padamu, kakakpun bercerita sama Ayah dan Bunda. Dan Paginya saat aku akan sarapan, Ayah bilang "kamu konsentrasilah belajar, kelak jika sudah waktunya. Kamu akan menikah dengannya." Begitulah kata Ayah. "... Aku tak paham kata Ayah, lalu Ayah menjelaskan. Ternyata saat kamu masih dalam kandungan, ikatan perjodohan sudah di ikrarkan. Aku usia dua tahun, kamu masih dalam perut Bunda. Dan sejak itu aku benar benar konsentrasi dengan sekolahku, aku selalu setia menyukaimu. Kau cinta pertama dan terakhirku. Sebab itu aku selalu menjaga diriku untuk tidak berpacaran. Aku mengikuti semua sosial mediamu. Meskuipun aku jarang berkomentar, tapi aku sedikit tahu apa yang kau lakukan, aku tahu kamu punya pacar. Tapi aku mencoba menutup mataku, Eeh malah pas aku menikah denganmu, ternyata istriku masih punya pacar, padahal aku kira sudah tidak berhubungan lagi dengan pacarmu itu." protesnya. Di akhir kalimatnya. "Aah salah kamu juga, kenapa hilang bagai di telan bumi, sedikitpun tak ada kabar sama sekali" protesku "Sebenarnya aku tahu kamu, aku selalu menanyakan kabarmu lewat Ayahku, tapi saat lulus SMA, aku konsentrasi dengan kuliahku. Jadi memikirkanmu, sedikit berkurang saat itu, bukan aku tak lagi menyukaimu, namun aku ingin konsentrasi untuk masa depanku, masa depan kita " terangnya. "Iih.. Kamu benar-benar jadi bucin yaa," ledekku. "Siapa suruh, kamu cantik sekali, sehingga aku merasa mataku hanya ingin melihatmu saja, tidak ada gadis secantik dirimu, meskipun kau sangat tomboy, tapi aku sangat menyukainya. Apa yang ada dalam dirimu, semua aku menyukainya" jawabnya panjang lebar . "Tapi kamu sudah punya pacar, bahkan sekarangpun masih. Bohong banget kalo aku bilang baik-baik saja. Aku sangat cemburu tau, Aku ingin kamu segera jujur dengan pacarmu itu biarkan aku egois untuk kali ini saja, sebab tanpamu aku merasa tak berdaya," katanya, sambil mencubit hidungku. "Ah jan tarik hidungku," protesku. Rizky memelukku. Dengan begitu erat. "Kapan kamu akan mutusin pacarmu. jujur atas pernikahan kita?" tanyanya, suaranya begitu kembut. Lalu ia melepas pelukannya. Rizky menatapku begitu gemas. Pandangan kami bertemu. Aku tak bisa terlalu lama menatapnya. Inginku palingkan mukaku, namun tiba-tiba ciuman mendarat di bibirku. Aku tak bisa berkutik. Lembut dan semakin dalam. Diriku ingin menolak, namun tubuhku menikmati lumatan bibirnya yang begitu lembutnya. Membuatku seakan melayang. Rizky yang dulu begitu culun, kenapa kini begitu terlihat mempesona. Membuatku rasanya ingin melayang di buatnya. Aku juga baru menyadari, kenapa Ayah dulu sangat protective menjagaku. Ternyata diriku yang sudah di jodohkan, bahkan saat aku masih di dalam kandungan. Lalu saat aku bertemu Rizky di sekolah ketika dirinya di bully, ini apakah sebuah kebetulan dan rencana Tuhan. Dan apa memang benar kita sudah di jodohkan juga oleh Tuhan sang pencipta alam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN