Putri Galak vs Bocah Cengeng

1019 Kata
Sore aku menyiapkan makan malam, biasanya Ayah pulang pukul 17.00 wib. Sedangkan suamiku entah pulang jam berapa. Aku masih ragu, apa yang akan aku katakan saat nanti bertemu dengan suami yang tak aku anggap yang ternyata adalah teman masa kecilku. Aku Ingat saat di pantai Anyer, kita akan saling menunggu dan menikah kalau sudah besar. Namun seiring berjalannya waktu janji itu tinggalah janji dua anak kecil. Sebab saat aku masuk kuliah aku menyukai Albert kakak seniorku. Dan yang kini menjadi pacarku lebih dari satu tahun ini. Rizky pasti tahu aku punya pacar, sebab di akun sosmed aku kadang unggah foto kami berdua. Apa yang harus aku katakan sama Albert, mau tidak mau aku harus mengakhiri hubunganku dengannya, sebab aku telah menikah. Dan ikatan pernikahan bukanlah sebuah permainan. "Assalamu'alaikum... " ucap seseorang dari balik pintu luar, aku segera membuka pintu. Rizky kembali dari kampusnya. "Wa'alaikum sallam..." ucapku, sambil membukakan pintu. Rizky mengulurkan tanganya, aku reflek memukul d**a bidangnya, "Ouh... Sakit, Sayaang." protesnya, "Kemana saja kamu selama ini, hilang tanpa jejak. Nggak lucu tau!!" protesku, entah apa yang ada di pikiranku, Rizky tersenyum meledek. Dan langsung memelukku. Aku menangis dalam pelukannya. Entah juga kenapa aku bisa menangis, aku rindu yang pasti. "Kamu udah ingat sekarang. Putri Galak?" panggilan di saat aku masih kecil. "Iya bocah cengeng" jawabku menahan isak tangis. "Sebenarnya aku selalu ingin mengirim kabar sama kamu, tapi takut menggannggu belajarmu, jadi aku urungkan. Ayah bilang kita sudah di jodohkan, jadi jangan takut kehilangan. Sebab jodoh tidak akan pernah tertukar" jawabnya. Aku memeluk erat tubuhnya. "Ish ish ish... Pelukan di depan pintu, ayo masuk. Entar di lihatin orang," Ayah mengetkanku. Sampai kepulangan Ayahpun, aku tidak menyadarinya Aku memandang Ayahku. "Kenapa Ayah tidak bilang, kalo suamiku Rizky bocah cengeng itu?" protesku. "Kalau bilang, namanya bukan kejutanlah," jawab Ayah, Ayah malah meledekku. "Ya sudah Ayah sama Rizky mandi sana, aku siapin makan malam." pintaku. "Rizky itu suamimu, panggil Mas biar lebih sopan." suruh Ayah, aku tersenyum malu memandang Rizky. Rizky pura-pura tidak melihatku. Aku hanya diam, lalu balik ke dapur Merekapun bergegas ke kamar, mereka mandi dan berganti pakaian. Sementara aku masih goreng tahu, kesukaan Rizky, sambel sudah selesai di buat. Menu yang sederhana malam ini. "Masak apa,,putri galak?" tanya suamiku. Dia memelukku dari belakang, membuat merinding bulu kudukku. "Ah.. Jangan ganggu aku masak." protesku. "Kamu wangi, udah mandi yaa?" tanya Rizky. Aku hanya bergeming. "Bagaimana kabar Oom dan Tante?" tanyaku, kemudian. "Ayah dan Bunda, mereka orang tuamu loch sekarang," protes Rizky. "Hhhmmmm iya." Jawabku. "Aah sana kamu duduk jangan ganggu aku masak!" protesku. Rizky melepaskan pelukanya tanpa protes. "Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya suamiku. "Itu sajikan di meja makan," jawabku tanpa menoleh. "Oh iya.. Besok Ayah bunda dan kakak kakakku mau berkunjung kesini." katanya. Dia keluar membawa lauk yang barusan aku masak. "Memang nggak kerja githuu?" tanyaku, saat Rizky masuk lagi ke dapur. "'kan besok tanggal merah Sayaaang." jawabnya. Aku tersenyum, ah lupa aku. Adzan maghrib berkumandang, Rizky dan Ayah bersiap-siap untuk memenuhi panggilan-Nya. Mereka bergegas ke masjid sebelum adzan iqamah sedangkan aku, masih menyiapkan makan malam untuk makan bersama. Selesai mereka shalat maghrib, kamipun makan bersama. Di lanjutkan dengan obrolan santai di meja makan. "Kira-kira Ayahmu sampai di sini jam berapa, Nak?" tanya Ayahku. "Mungkin jam sepuluhan Ayah." jawab Rizky. "Oh baik, sudah lama juga aku tidak bertemu sama Ayahmu," ungkap Ayahku. Selesai makan, aku merapikan bekas piringnya. Namun yang mencuci piring malah suamiku. "Aku bisa sendiri, sana temani Ayah ngobrol." suruhku. Kedua tanganku mendorong tubuh suamiku "Ayah sudah berangkat ke masjid." jawabnya. "yya sudah, ngapain kamu di sini, sana ke masjid juga. " usirku. Rizkypun tertawa geli. "Baiklah putri galakku" jawabnya, nyerah juga. Selesai merapikan dapur, aku beranjak ke kamarku. Kebiasaan keluarga kami, selesai isya ngobrol santai di ruang tengah. Namun karena datang bulanku yang membuat moodku kacau, rasanya ingin berbaring di kasur. Sebuah pesan chat masuk dari Albert. Besok tanggal merah jadi di minta daftar magang lusa, ah entahlah sepertinya aku tidak jadi magang di sana aku akan mengambil S2 seperti saran suamiku. Secepatnya aku harus berkata jujur, tentang pernikahanku. Meskipun akan menyakitkan hatinya nantinya, tapi aku harus katakan yang sejujurnya. Mungkin lusa aku akan menemuinya, entahlah apa aku juga siap berpisah dengannya. "Assalamu'alaikum." ucap suamiku, dia baru kembali dari masjid. "Wa'alaikum sallam.. " jawabku, masih canggung. Dia melepas sarungnya, dan mengganti baju koko dengan baju santai. "Sayang, mau aku buatkan s**u jahe tidak?" tanyanya "Hhmm... Tidak usah." jawabku. Rizky menghampiriku, ia duduk di samping ranjang. "Perutmu udah tidak sakit?" tanyanya. "Tidak" jawabku. "Kamu masih berhubungan sama pacarmu?" tanyanya. "Hhmm iya." jawabku. "kamu marah?" tanyaku,kemudian. "Marah sich tidak, tapi aku cemburu. Kemarin kamu pergi ke pantai sama dia, kamu pikir aku tidak tahu apa yg di lakukan istriku di luar sana" "Iya aku ke pantai sama dia, tapi tidak terjadi apa-apa." jawabku, tanpa canggung. "Aku percaya sama kamu, aku akan pura-pura tidak tahu hubungan kalian, tapi setidaknya kamu harus jujur. Aku akan setia menunggumu, tidak mudah bagimu menerima status single menjadi istri dengan begitu instan. Ayah menikahkan kita, sebab ada alasan." lanjutnya "Aku tahu, Ayah hanya kuwatir aku akan semakin menyukai pacarku dan meninggalkan agamaku.. Ah tidak. Itu salah besar, aku memang sangat menyayanginya, tapi dialah yang akan menjadi muallaf bukan aku yang ikut agamanya, itu tidak akan pernah terjadi." terangku. "Aku penasaran, siapa pacarmu. Siapa yang sudah menakhlukan hati seorang putri galak ini." ledeknya. Dia mencubit hidungku, aku melirik kesal. Kamipun ngobrol cerita tentang masa lalu, saat masih SD dulu. Hingga akhirnya kami tertidur. Tanpa aku syadari, aku tidur dalam pekukan hangatnya. Malam ini malam yang sangat indah. Namun menjadi kegundahan atas kisah cintaku bersama Albert dan Rizky. Albert pacarku, dan Rizky adalah teman juga suamiku. Keduanya sangat berarti untukku. Albert yang selalu ada untukku. Namun Rizky juga teman kecilku juga kini telah menjadi suamiku, dan ia juga sangat penting untukku. Sebab dia lah yang memang dari dulu aku tunggu. Rizky si cengeng itu kini berubah menjadi seorang dosen yang sangat tampan menurutku, iya Rizky memang sangat tampan, dia juga sangat halus tutur katanya. Aku mungkin belum bisa menerima pernikahan ini, namun aku akan berusaha menerima dia sebagai suamiku. Suamiku teman masa kecilku yang culun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN