Berusaha Memperbaiki

1185 Kata
Jovanka tersentak mendengar Abizar meninggikan suara terhadapnya. Ia tidak pernah mengira, pria yang selama ini selalu lembut padanya, kini telah tega bersuara lantang. “Apa kau baru saja membentakku, Mas?” mata Jovanka berkaca-kaca. hatinya seketika remuk mengetahui fakta jika Abizar sudah berubah dan ia tidak mengerti kenapa. “Jovanka, tolong. Aku sedang tidak ingin bersitegang denganmu sekarang. Aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya capek, sayang. Boleh aku tidur?” ucap Abizar menatap dengan tataan sayu. “Ya sudah, tidur saja. Besok saja kita bicaranya,” ucap Jovanka akhirnya mengalah. Abizar tersenyum, ia lalu meraih kepala Jovanka dan mencium keningnya. “Terima kasih, sayang. Selamat malam,” ucap Abizar lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Jovanka menghela nafas , menatap suaminya sekilas lalu merebahkan tubuhnya. mereka pun akhirnya terlelap. Abizar membuka mata, dia melihat jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 5 subuh. Ia menoleh ke samping dan melihat Jovanka masih terlelap sambil memeluknya. Nafas istrinya yang hangat menyapu dadanya. Ia tersenyum, istrinya begitu sangat cantik, apalagi jika tertidur begini. Abizar hendak bangun tapi pelukan Jovanka tidak mau lepas. Abizar perlahan melepaskan tangan istrinya yang memeluk erat pinggangnya tapi Jovanka malah terbangun. “Hmm, mas jangan di lepas.” rengek Jovanka sambil terus memeluk Abizar. “Jovanka, aku mau ke kamar mandi.” Jovanka tidak bergeming, ia malah semakin mempererat pelukannya. Abizar terpaksa kembali merebahkan tubuhnya. “Jova, kau sudah bangun kan? Tangannya di lepas dulu dong, aku mau kencing. Kau mau aku kencing di sini?” ucap Abizar dengan gambling. Itu membuat Jovanka langsung membuka mata. “Ih, mas kok ngomongnya jorok begitu?” jovanka lalu melepas pelukannya. Abizar tertawa. “Kau yang memaksaku ngomong begitu.” ucap Abizar lalu beranjak masuk ke kamar mandi. Padaku.merasa senang. itu berarti mood suaminya sudah kembali membaik. “Aku akan memperbaiki semuanya, aku tidak ingin Abizar berubah bersikap seperti tadi malam. Aku ingin suamiku yang dulu. Yang selalu tunduk dan sayang padaku. yang selalu mencintaiku tanpa pamrih. Pengorbananku sudah sedemikian jauh, aku tidak akan membiarkan orang lain menghancurkannya, terutama si perempuan sederhana itu.” ucapnya dalam hati. Tak lama kemudian, Abizar keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, menunaikan sholat lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur. “Kau enggak sholat?” tanya Abizar. “Lagi halangan, mas.” “Oh.” Abizar kembali terdiam. “Mas, Mau sarapan apa pagi ini?” tanya Jovanka. Abizar menatap istrinya, ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk sang istri. “Aku sebenarnya ingin sarapan tubuhmu saja pagi ini, tapi sayangnya kau lagi halangan,” ucap Abizar sambil menggesek-gesekkan wajahnya ke d**a lembut Jovanka. Jovanka tersenyum nakal lalu menggerakkan tangannya kearah bawah, membuat mata Abizar terpejam sambil mengeram lirih. “Ap..apa yang kau lakukan Jovanka? Bukankah kau sedang haid?” ucap Abizar sambil menggigit bibirnya menahan sensasi nikmat karena sentuhan tangan lembut Jovanka. “Aku masih punya cara lain untuk memuaskanmu, sayang.” ucap Jovanka dengan mata sendu menggoda. Abizar menelan ludahnya, seakan semua kekalutan pikirannya sirna, ia pun dengan rakus melumat bibir mungil Jovanka. Mengisap dan mengulum sepuasnya, tangannya dengan agresif menyentuh d**a Jovanka membuatnya mendesah. Tubuh bagian atas Jovanka sudah telanjang, hingga Abizar dengan bebas memuaskan tangan dan mulutnya di bagian tubuh itu. Sayangnya ia harus menahan diri untuk tidak menyentuh daerah tubuh bagian bawah milik Jovanka. Jovanka benar-benar sangat lihai memanjakan tubuh Abizar, tapi pria itu sepertinya ingin lebih. Jovanka tahu keinginan suaminya itu. ia pun meminta suaminya telentang. Abizar dengan pasrah mengikutinya. Sejurus kemudian, Jovanka sudah membuat Abizar mengerang tanpa henti dengan kelihaiannya hingga tubuh Abizar mengejang dan lemas terpuaskan. Jovanka tersenyum puas sambil mengelap bibirnya dengan tisu. Nafas Abizar masih memburu, ia tersenyum. “Kau memang paling pintar membuatku mabuk kepayang, Jovanka.” Ucap Abizar dengan lirih. Jovanka menghampiri suaminya dan berbisik. “Aku akan melakukan apa pun agar kau tidak terjatuh ke dalam pelukan wanita lain, mas. Percayalah padaku.” ucapnya. Abizar memejamkan matanya dan kembali terlelap. Jovanka beranjak dari kamar mandi. Abizar membuka mata, cahaya pagi menerangi seluruh ruangan. Ia tidak melihat Jovanka di kamar, Abizar beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Jovanka terlihat sibuk di dapur, sebelum memasak ia pergi melihat kamar Jelita tapi kosong, ia berpikir kalau mungkin Jelita menginap di rumah Ayahnya. itu lebih baik, dari pada ia harus terus-terusan kesal melihatnya berada di dalam rumah. ada baiknya memang ia tinggal saja di tempat ayahnya, dari dulu memang Jovanka menginginkan itu. Tapi kenapa bi Sumi juga ikut-ikutan menghilang? Tapi Jovanka tidak terlalu memikirkan hal itu, ia mengira kalau pelayannya itu hanya pergi berbelanja atau ke suatu tempat. “Wah makanan enak,” ucap Abizar yang ternyata sudah duduk di meja makan dan siap melahap semua yang ada di atas meja. “Kau sudah bangun? Ini, kau pasti sudah sangat lapar kehabisan energi kan? Makan yang banyak, ya.” ucap Jovanka sambil menyajikan makana di atas piring Abizar. Akan tetapi baru saja Abizar ingin memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, ia tiba-tiba mual dan tidak tahan bau makanan yang ada di depannya itu. “Loh, kenapa mas? Bukannya ini makanan kesukaanmu?” tanya Jovanka bingung. “Maaf sayang, tapi aku tidak kuat mencium bau makanan ini. Apa kau mencampur nya degan bawang?” tanya Abizar. “Tentu saja, makanan ini kan memang harus memakai ba…wang.” Jovanka terdiam. Ia baru ingat kalau suaminya ini menolak makanan yang ada campuran bawangnya, semenjak Jelita hamil, suaminya mengalami ngidam aneh itu. Wajah Jovanka tiba-tiba muram. Ia sangat kecewa dan kesal. Ia semakin membenci Jelita. Bahkan di saat perempuan itu tidak ada di rumah pun, ia masih saja mengganggu kebahagiaannya. “Ya sudah, aku masak makanan lain saja. tunggu sebentar, ya.” Ucap Jovanka sambil membereskan kembali semua masakannya yang ada di meja. Memasukkannya ke dalam kulkas. “Sudah cukup Jovanka, kau pasti capek memasak tadi. Kita makan roti saja diluar.” Ucap Abizar lalu meraih tangan Jovanka tapi tiba-tiba saja Jovanka menepisnya. “Tidak, aku tetap akan memasak untukmu. Selama ini kau selalu makan makanan Jelita dengan sangat lahap. Tapi kenapa giliran aku yang masak, kau malah mual dan ingin muntah.” Ucap Jovanka dengan tatapan geram. “Kenapa kau malah membahas tentang Jelita lagi? bukankah kau tahu sejak Jelita hamil aku tidak bisa tahan mencium aroma bawang? Aku tidak bisa memakan masakan buatanmu karena kau mencampurkan bawang.” Abizar menjelaskan. Jovanka hanay terdiam, ia sadar ia lalai mengingat hal itu dan itu semakin membuatnya kesal, apalagi jika mengingat kalai Jelita tidak pernah lupa kalau suaminya tidak suka bawang sehingga ia selalu masak tanpa bawang untuk Abizar. “Sudahlah, jangan memperbesar masalah ini. kita bisa makan di luar, kan. Ayolah aku sudah lapar.” Ucap Abizar sambil kembali meraih tangan Jovanka. Mereka pun meninggalkan dapur dan masuk ke dalam mobil. Sesampainya di sebuah kafe, Keduanya turun dari mobil. Abizar menggenggam erat tangan Jovanka dan membawanya masuk ke dalam. Mereka memesan kopi dan roti lalu memakannya. Mereka pun tampaknya sudah melupakan perdebatan kecil mereka tadi pagi, meraka terlihat santai menikmati kebersamaan itu. Abizar sesekali merapikan anak rambut Jovanka yang ada di wajahnya. “Wah, ternyata pria beristri ini sedang main gila dengan perempuan lain rupanya.” Tiba-tiba suara sinis terdengar, keduanya terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN