“Serahkan kuncinya, Pak.” Jelita kembali mengulang ucapannya. Abizar hanya menatapnya tanpa bereaksi.
Abizar menghela nafas dalam lalu menyerahkan sebuah kartu dari dompetnya.
“Ini, unitnya ada di lantai 7,” ucapnya.
“Terima kasih,” balas Jelita sambil menerima kunci itu dari tangan Abizar.
Tanpa menunggu respon Abizar, Jelita langsung menarik kopernya dan membawanya pergi. Bi Sumi menatap Abizar.
“Ikutlah dengannya, Bi,” ucap Abizar sambil menganggukkan kepala.
“Baik, Tuan. Saya pergi dulu,” ucapnya pamit lalu melangkah menyusul Jelita yang sudah berjalan lebih dulu.
Abizar berdiri lama di tempatnya, ia memandang ke atas, berharap Jelita keluar dari balkon dan melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum manis, tapi apa yang ia harapkan tidak terjadi. Akhirnya Abizar masuk ke dalam mobil, memandang ke atas sekilas sebelum melajukan mobilnya.
Sementara itu, Jelita yang sejak tadi mengintip Abizar tidak bisa membendung air matanya. Ia menangis sesenggukan, menyesali semua perasaan yang telah tanpa sengaja bersemi indah di dalam hatinya. Menyakiti perasaannya sendiri dengan rasa indah itu tanpa belas kasih sedikitpun.
“Kenapa aku menangis lagi, sih. Seharusnya aku kuat, toh aku sendiri yang bodoh telah kehilangan akal sehat dengan mencintai suami orang. Aku seharusnya fokus dengan tugasku saja, jangan ada niat lain. Aku memang bodoh, aku ini sangat memalukan, hu..hu…” jelita terus saja menangis sesenggukan meratapi nasibnya.
Bi Sumi mengetuk pintu, Jelita dengan cepat menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir.
“Tunggu sebentar, Bi.” Jelita beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju pintu.
Pintu terbuka dan bi Sumi masuk.
“Ini Nyonya, saya bawakan bubur kacang hijau dan s**u. Nyonya harus memakannya, ya,” ucap bi Sumi sambil meletakkan makanan di atas meja.
Jelita hanya menatap bi Sumi sambil tersenyum, ia bersyukur di saat perasaannya sedang terpuruk, masih ada orang yang peduli dan perhatian padanya. Ia masih merasa disayangi. Jelita seperti merasakan kasih sayang seorang ibu dari pelayannya ini.
“Terima kasih ya, Bi. Bibi sudah sangat peduli padaku,” ucap Jelita sambil memegang tangan bi Sumi.
Bi Sumi menatap Jelita dengan tatapan teduhnya.
“Sama-sama, Nyonya. Saya merasa sangat bersyukur bisa melayani dan menemani Nyonya di sini,” ucapnya.
“Ya sudah, ayo lekas di makan buburnya, Nyonya. Nanti ke buru dingin. Jangan lupa minum s**u. Supaya dedenya sehat terus di dalam perut mama,” ucap bi Sumi sambil menyentuh perut Jelita yang sudah mulai membesar.
Jelita tersenyum mendengar guyonan bi Sumi, ia lalu menyantap makanannya dengan lahap. Bi Sumi tersenyum senang melihat Jelita makan dengan lahap.
“Bi, kalau anak ini lahir nanti, apakah dia akan memanggilku mama?” tanya Jelita.
Bi Sumi menatap Jelita. “Tentu saja Nyonya, Nyonya kan ibunya. Yang melahirkan dan yang akan menyusuinya kelak. Yang akan merawat dan membesarkannya. Tentu saja ia akan membuat Nyonya menjadi Ibu yang paling berbahagia di dunia ini. Kenapa Nyonya menanyakan hal yang sudah pasti itu?”
“Itu karena aku merasa, setelah anak ini lahir, dia tidak akan memiliki kesempatan untuk memanggilku mama. Akan ada ibu lain yang akan dia panggil mama dan ibu itu bukan aku,” ungkap Jelita dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hus, Nyonya jangan berbicara seperti itu. Tidak baik. Nyonya seharusnya berpikir dan berharap yang baik-baik.
“Bibi kan tahu kalau anak ini bukan milikku. Setelah lahir nanti, dia akan aku serahkan kepada pak Abizar dan bu Jovanka. Aku hanya bertugas melahirkannya saja, aku tidak berhak atas apa pun menyangkut dirinya.”
“Jangan bicara begitu, Nyonya. Saya sangat yakin hal itu tidak akan terjadi. Nyonya yang paling berhak atas anak nyonya. Bukan orang lain. Anak adalah amanah Tuhan untuk hambanya yang di anggap sudah layak mendapatkan kesempatan itu. Tuhan tidak akan memberikan sesuatu di luar kemampuan kita. Calon bayi yang ada di kandungan Nyonya sekarang ini adalah titipan Tuhan untuk Nyonya. Tuhan memberikan amanah itu untuk Nyonya jalankan. Karena Tuhan tahu kalau Nyonya bisa memenuhi tanggung jawab itu.” Bi Sumi mencoba memberikan pemahaman untuk Jelita.
“Iya, Bi. Tapi semua ini terjadi karena rencana bu Jovanka. Aku mengandung anak dari Pak Abizar itu semua karena rencana bu Jovanka. Perjanjian kami menikah pun untuk memberikan mereka anak, dan setelah anak ini lahir aku harus menyerahkannya kepada mereka.”
“Walau bagaimana pun manusia merencanakan, jika Tuhan tidak mengizinkan Nyonya untuk mengandung, maka semua rencana bu Jovanka tidak akan berhasil. Jadi yang saya maksudkan di sini adalah, semua yang terjadi di dalam hidup Nyonya adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Nyoya hanya perlu menjalaninya saja dengan ikhlas . Saya percaya, suatu hari akan ada keajaiban yang kita tidak pernah sangka sebelumnya. Semua akan baik-baik saja, Nyonya. Jadi berharaplah yang terbaik,” kelas bi Sumi dengan senyumnya yang teduh.
“Terima kasih atas nasehatnya, Bi. Aku akan mencoba menjalani kehidupanku ini dengan lebih baik. Setelah mendengar bibi, aku merasa lega,” ucap Jelita.
“Iya Nyonya sama-sama. Ya sudah kalau begitu, ini sudah larut. Nyonya harus istirahat. Saya keluar dulu,” ucap bi Sumi lalu beranjak meninggalkan ruangan sembari membawa bekas makanan Jelita.
Jelita merasa sangat kenyang, semangkuk bubur kacang hijau dan segelas s**u memenuhi perutnya.
Ia beranjak menuju kasur dan merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.
***
Abizar masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar. Pikirannya masih kalut memikirkan Jelita. Ia merasa bersalah telah membuatnya kecewa. Padahal ia tahu betul jika dirinya juga kini sudah mulai bergantung pada Jelita. Tapi setelah kejadian tadi, ia baru menyadari kesalahannya.
Ia membuka pintu kamar dan mendapati Jovanka sudah tertidur. Abizar menatapnya sekilas lalu masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa saat ia keluar dari kamar mandi dan melangkah ke arah lemari pakaian.
Abizar berjalan gontai menuju kasur dan merebahkan tubuhnya. Ia memunggungi Jovanka. Entah kenapa pikirannya kini dipenuhi dengan Jelita sampai-sampai ritual sebelum tidur yang ia dan Jovanka selalu lakukan tidak ia lakukan malam ini.
Jovanka menunggu Abizar mencium keningnya dan mengucapkan kata cinta di telinganya, tapi setelah lama menunggu, hal yang ia harapkan tidak terjadi. Ada apa dengan suaminya yang sangat mencintainya ini? baru pertama kali Abizar tidak melakukan kebiasaan mereka. Dan hal itu sangat mengganggunya.
Jovanka tidak bisa memejamkan mata lagi, ia harus berbicara dengan suaminya sekarang juga.
“Mas..” panggilnya.
“Hmm…” sahut Abizar masih memunggungi Jovanka.
“Jangan tidur dulu, kita harus bicara,” ucap Jovanka sambil menyentuh bahu suaminya.
“Maaf Jovanka tapi aku sangat letih sekarang, aku mau istirahat, besok saja ya kita bicaranya. Ayo tidur saja. kamu juga kan pasti capek seharian kerja.” Entah kenapa ucapan Abizar terasa menyindirnya. Berarti Abizar mengira dirinya kerja seharian, padahal ia bersenang-senang seharian dengan putrinya. Anak yang selama ini ia sembunyikan keberadaannya dari Abizar. Anak dari seseorang di masa lalunya.
“Kau tidak menciumku lagi sebelum tidur,” ucap Jovanka.
“…”
“Mas…”
“…”
“Kau tidak melakukannya lagi, kau sudah melupakannya, ya? itu berarti kau juga sudah mulai tidak mencintai aku sekarang. Apakah… apakah itu karena istri kontrakmu?” Jovanka masih berusaha membuat Abizar terbangun, dan ternyata berhasil.
Abizar membalikkan badannya dan menatap Jovanka dengan tatapan tajam.
“Kenapa kau selalu ingin memulai pertengkaran Jovanka?!”