“Aku tidak ingin apa-apa, antar aku pulang.” Jelita mengulang ucapannya. Abizar terdiam cukup lama lalu menghembuskan nafas panjang.
“Baiklah,” ucap Abizar lalu melangkah menuju mobilnya. Jelita mengikutinya dari belakang. Tanpa di suruh Jelita membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Abizar hanya menatap istrinya itu tanpa kata-kata, ia kemudian memasuki mobil.
Mobil melaju membelah jalan yang lengang, keduanya terdiam. Jelita hanya memandang ke arah jendela. ia sedikitpun tidak mengeluarkan suara. Abizar hanya sesekali menolah ke arahnya.
“Apa kau butuh sesuatu untuk di bawa pulang?” Abizar mencoba membuka suara, berharap Jelita meresponnya. Tapi, Jelita malah memejamkan mata. Abizar lagi-lagi menghela nafas.
Sesampainya di halaman rumah, Abizar memarkirkan mobilnya dan keluar. Jelita membuka pintu mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Jelita terus berjalan dan masuk ke dalam kamar dan menutupnya rapat. Jelita mengambil koper yang tersimpan di samping lemari dan membukanya. Ia berjalan kea rah lemari pakaian dan mengeluarkan semua isinya.
Ia tampaknya benar-benar ingin segera keluar dari rumah itu segera. Jelita memasukkan semua bajunya ke dalam koper itu lalu menutupnya dengan rapat. Ia meraih jaket yang ada di gantungan dan memakainya.
Jelita melangkah keluar kamar sambil menyeret kopernya , ia berjalan menuju pintu utama.
Abizar yangh masih duduk terdiam di ruang tamu terkejut begitu melihat Jelita benar-benar membuktikan ucapannya. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Jelita.
“Jelita, apa kau benar-benar ingin meninggalkan rumah ini? malam-malam begini? kau bahkan tidak bisa menunggu sampai besok,” sahutnya merasa tidak setuju Jelita meninggalkan rumah.
“Aku sudah memutuskan apa yang terbaik untuk kita semua, pak. Jadi sebagai istrimu, aku meminta izin untuk pergi dan tinggal di apartemen saja,” ucap jelita tegas sambil menatap suaminya dengan serius.
Abizar tidak mampu berkata apa-apa lagi, ia sebenarnya ingin menahan agar Jelita tidak perlu pindah dan tetap tinggal bersamanya, akan tetapi melihat sorot mata tajam dan sikap dingin Jelita, Abizar hanya bisa mengangguk lemah.
Jelita berjalan keluar rumah tapi tiba-tiba suara bi Sumi terdengar memanggil namanya.
“Nyonya Jelita, tunggu…!” teriak bi Sumi sambil terpongoh-pongoh menghampiri Jelita. Melihat pelayan setia dan baik itu, perasaan Jelita menjadi sedih. Ia dengan cepat menghapus air matanya yang meleleh tanpa disadarinya.
“Nyonya mau pergi ke mana membawa koper begitu?” tanya bi Sumi dengan wajah sedih.
“Saya mau pindah ke apartemen, Bi,” jawab Jelita sambil tersenyum getir.
“Itu berarti nyonya tidak akan ke sini lagi, saya sangat sedih, nyonya.”
“Itu tidak benar, Bi. Mana mungkin saya tidak kembali ke mari . Saya hanya akan tinggal beberapa saat saja, kok. Bibi jangan sedih begitu, dong,” ucap Jelita.
“Saya hanya tidak rela jika nyonya meninggalkan rumah ini, nyonya sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Nyonya sangat baik kepada kami, saya sangat menyayangi Nyonya. Saya tidak tahu masalah apa yang sudah terjadi tapi tidak bisakah Nyonya tidak meninggalkan rumah ini?” Bi Sumi meminta dengan wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca. Hati Jelita semakin remuk dan sedih melihatnya.
Ia sangat ingin mengatakan kalau ia juga sebenarnya tidak ingin meninggalkan rumah itu, tetapi keadaan yang memaksanya untuk segera pergi. Ia tidak ingin terus-terusan melukai hatinya dengan perasaan dan harapan ya g tidak akan pernah menjadi kenyataan.
“Maafkan aku, Bi. Tapi aku benar-benar sudah tidak bisa lagi tinggal di rumah ini. Bibi tidak usah khawatir, aku akan sering-sering menelepon Bibi.” Ucap Jelita menghapus air matanya.
Abizar yang melihat drama sedih itu hanya bisa menyaksikan keduanya larut dalam perpisahan yang penuh kesedihan. ia melihat kedekatan Jelita dengan pelayan setianya. Seorang yang sudah sangat banyak mengambil andil dalam hidupnya hingga sekarang.
Anehnya, Jovanka tidak pernah bisa seakrab itu dengan bi Sumi. Jovanka memang tidak pernah mau menyapa atau hanya sekedar berbincang dengan pelayan. istrinya itu hanya memerintah ini dan itu karena berpikir itulah pelayan. sangat berbeda jauh dengan sikap ramah an penyayang yang di tunjukkan Jelita terhadap para pelayan terkhusus bi Sumi.
“Bi Sumi..” ucap Abizar. Sang bibi menoleh ke arahnya.
“Iya, Tuan?”
“Kemasi barang-barang bibi, ikutlah bersama Jelita. Dia pasti akan sangat membutuhkan seseorang di sana?”
Mendengar itu, wajah Jelita dan bi Sumi seketika cerah. Senyum Jelita terbit.
“Tapi bagiamana dengan Tuan?” tanya bi Sumi terlihat ragu untuk menerima tawaran Abizar. Ia tidak ingin meninggalkan Abizar.
“Ada banyak pelayan di sini, Bibi tidak usah khawatir. Aku akan lebih merasa khawatir jika pelayan yang akan menemani Jelita bukan dirimu. Jadi tolong temani Jelita di apartemen.” Terang Abizar.
Bi Sumi tersenyum lalu mengangguk. Jelita menatap bi Sumi lalu memeluknya.
“Bibi cepat kemasi barang-barangnya.” Ucap Jelita. Ia merasa sangat senang, setidaknya ada bi Sumi ikut dengannya.
“Iya,” ucap bi Sumi lalu bergegas masuk ke dalam. Abizar juga ikut tersenyum dan merasa senang melihat Jelita kembali tersenyum. ia bahkan akan membayar mahal jika berhasil membuat jelita tertawa atau minimal tersenyum.
Setelah semuanya siap, ketiganya masuk ke dalam mobil dan melaju.
Mobil keluar dari pintu gerbang dan hampir berpapasan dengan mobil Jovanka. Jova masih sempat melihat Abizar dari kaca mobilnya.
Jovanka masuk ke dalam rumah, ia langsung menuju kamar dan merebahkan di atas kasur. yang ia lihat tadi itu ternyata benar Abizar. Ia pergi kemana dan kenapa Jelita pergi bersamanya? Apak mereka diam-diam bermain di belakangnya?
Jovanka seketika merasa geram, perempuan itu ternyata tidak selemah yang ia pikirkan. Perempuan itu ternyata sangat licik, ini tidak boleh di biarkan.
Tapi seketika bayangan Katrina berkelebat dalam pikirannya. Senyum bahagia di wajah putrinya itu sungguh sangat berharga. Ia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan sang Putri.
“kau jangan bersikap begitu dengan anakmu sendiri, tidak apa-apa, ini hanya air, sebentar juga kering, kok.” terbayang di pikiran Jovanka bagaimana David menegurnya di depan putrinya sendiri. Katrina bahkan membela David.
“David terlihat seperti ayahnya Katrina, gumannya tanpa sadar lalu memejamkan mata.
Sementara itu, mobil Abizar sudah memasuki halaman bangunan besar yang menjulang tinggi. Abizar memarkirkan mobilnya. Seorang pria dengan cepat membuka pintu mobil, tak lama kemudian mereka pun keluar.
“Bapak boleh pulang sekarang,” ucap Jelita masih bersikap dingin.
“Apa kau tidak ingin aku temani ke atas?” Abizar masih berusaha menawarkan bantuan. Entah kenapa ia merasa sangat tidak rela jika Jelita jauh darinya.
Abizar melihat tangan jelita yang yang seperti meminta sesuatu.
“Kunci, serahkan kuncinya padaku dan Bapak silakan pergi.