Keputusan Akhir

1091 Kata
Ciuman itu terasa hangat, lembut dan menggetarkan. Hati Jelita bagai terbang di atas awan, apakah rasa dari sebuah ciuman memang seindah ini? ini luar biasa. Jelita baru kali ini merasakan perasaan yang begitu menggetarkan sanubarinya, gerakan bibir Abizar yang sangat pelan dan lembut membuatnya menahan nafas dan mencengkeram erat kerah pakaian suaminya. Bisakah perasaan ini aku miliki selamanya, Tuhan? Tapi jika Engkau memang tidak menakdirkan Abizar untukku, maka aku mohon, biarkanlah perasaan ini menjadi kenangan kekal dalam hidupku. Akan aku simpan dalam bingkai dalam hatiku, akan aku kunci rapat agar kenangan indah ini tidak akan pernah pudar dan hilang. Akan aku pastikan setiap detik perasaanku tersimpan dalam ingatan kuat hingga tiada satu moment pun yang terlupakan. Izinkan aku merasakan perasaan indah ini lebih lama, ya Tuhan. Suara permohonan hati Jelita terus meminta agar apa yang ia tengah rasakan akan seterusnya ia nikmati. Jelita menggerakkan tangannya, memeluk leher suaminya dengan erat. Memastikan Abizar tetap dalam posisinya. Jelita mulai membalas ciuman Abizar dengan menggerakkan mulutnya menghisap bibir Abizar. Abizar kemudian menyadari sesuatu, ia jadi tersadar jika yang ia lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan. Ini tidak benar. Ia tidak sepatutnya mempermainkan perasaan istri sementaranya ini. Abizar kini sadar jika ia telah menciptakan sebuah lubang luka untuk Jelita. Luka yang semakin lama akan semakin menyakitkan. Ia kini sadar jika Jelita telah menyukainya. Abizar perlahan melepas ciuman bibirnya, meskipun ia merasa jika Jelita keberatan, ia harus mengakhirinya sebelum masalah semakin melebar. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa melakukan hal itu pada gadis polos di hadapannya ini. “Maaf Jelita, tapi kita tidak bisa melanjutkan ini. Aku, aku melakukan kesalahan. Maafkan aku.” Dengan terpasang Abizar mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Ia sengaja mematahkan harapan Jelita kepadanya. Wajah Jelita berubah pucat, matanya berkaca-kaca. Hati yang sebelumnya berbunga-bunga dan melayang diantara awan putih di langit biru nan indah, kini terhempas jatuh ke bawah dan itu rasanya sungguh luar biasa sakit. Jelita bahkan terhuyung ke belakang tidak lagi mampu menahan bobot tubuhnya. Abizar dengan sigap menangkapnya tapi dengan cepat pula Jelita menghindar dan menjauhi Abizar. Jelita berusaha sekuat tenaga menahan bendungan air mata yang sebentar lagi akan tumpah. Ia tidak boleh menangis di hadapan pria k*****t ini. Ia harus kuat untuk harga dirinya yang mungkin masih tersisa. “Jadi, Bapak anggap yang Bapak lakukan padaku tadi lain hanyalah sebuah kesalahan. Tidak ada artinya sama sekali untuk Bapa Wah, Bapak memang pria hebat, Bapak luar biasa hebat.” Dengan suara yang bergetar Jelita berusaha mengeluarkan sisa tenaganya untuk berbicara. “Jelita, aku minta jangan salah paham padaku, aku hanya tidak ….” “Mulai sekarang, Bapak tidak berhak meminta lagi padaku. Aku sudah memberikan semuanya pada Bapak, anak yang aku kandung ini, adalah hal terakhir yang aku akan berikan pada Bapak,” ucapnya lalu melangkah meninggalkan Abizar. “Jelita, aku mohon maafkan aku. Jangan berkata seperti itu, kau tahu kita masih suami istri dan aku masih berhak menentukan ataupun melarang sesuatu yang aku tidak inginkan. Jelita…!” Abizar terus mengejar langkah Jelita hingga berhasil meraih tangannya. Jelita menghentikan langkahnya, deru ombak laut seakan mewakili gemuruh dari rasa sakit yang ia rasakan. “Aku tidak pernah menyangka, pria yang selama ini aku kagumi ternyata tidak lebih dari seorang pria egois yang serakah. Aku bahkan sekarang menyesal telah mencintaimu, Pak. Kau ternyata tidak pantas untuk aku cintai. Lepaskan tanganku sekarang juga, jika Bapak masih menganggap pernikahan omong kosong ini adalah belenggu untukku, maka aku mau sekarang juga Bapak ceraikan aku. Jangan khawatir, anak yang aku kandung ini akan aku lahirkan dan aku serahkan kepada kalian,” ucap Jelita dengan tegas. Ia harus kuat dan terlihat tegar di harapan Abizar. Meskipun hatinya telah hancur berkeping-keping. Sedangkan Abizar hanya diam membeku mendengar semua ungkapan kekecewaan Jelita terhadapnya. “Apakah aku sudah bersikap terlalu jauh?” ia bertanya- tanya dalam hati. “Oke baiklah, mungkin aku sudah sangat menyinggungmu. Tapi kau tahu kan kalau aku sangat mencintai Jovanka. Aku tidak bisa hidup…” “Aku tidak peduli lagi dengan perasaan atau alasan Bapak melakukan ini. Yang aku mau, segera ceraikan aku dan jangan pernah menemui aku lagi. Oh ya, Bapak kan tidak perlu repot-repot mengurus surat cerai segala. Bapak tinggal bilang talak padaku saja, itu sudah cukup memutus belenggu Bapak terhadapku, dan setelah itu aku mau tinggal di rumah ayahku saja,” ucap Jelita. “Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan mengucapkan kata-kata itu padamu. Terserah kau mau bilang aku pria egois atau serakah, tapi aku tidak akan melakukan apa pun terhadapmu sebelum anak yang kau kandung itu lahir.” Abizar akhirnya memberi keputusan. “Terserah…!” balas Jelita sambil berusaha melepas genggaman tangan Abizar dari tangannya. “Oh iya satu lagi, karena aku masih suamimu, aku melarangmu untuk tinggal bersama ayahmu. Jika memang kau tidak ingin lagi tinggal di rumah, kau tinggallah di apartemen yang sudah aku siapkan untukmu,” lanjut Abizar lalu melepas tangan Jelita dan membiarkan istrinya itu melangkah pergi. Abizar menyesali apa yang terjadi hari ini, keinginannya untuk bersenang-senang ternyata berakhir kacau berantakan. Ia malah bertambah pusing dan frustrasi dengan masalah hidupnya kini. Dan Jovanka, entah sedang apa istrinya sekarang. Apakah masih sibuk bekerja? Jelita berjalan dengan langkah panjang, air matanya akhirnya keluar tak terbendung. Mengalir bagai tumpahan air bah yang seakan tiada akhir. Sungguh kekecewaan dan rasa sakit yang hati yang ia rasakan membuatnya tidak berdaya. Setelah merasa sudah cukup jauh dan yakin kalau Abizar tidak melihatnya lagi, Jelita duduk di atas pasir putih dan menatap ke arah hamparan laut luas. Hatinya hampa dan gamang. Kini tidak ada lagi harapan yang tersisa untuknya. Ia tersenyum, menertawakan dirinya yang sangat naïf. Berkali-kali ia ingatkan hatinya untuk tidak pernah jatuh ke dalam perasaan semu itu, tapi tetap saja ia keras kepala. “Lihatlah Jelita akibat dari kebodohanmu, kau jadi sakit sendiri kan? Sungguh kasihan hidupmu,” cibir pikirannya. Ia menghela nafas dalam lalu menghembuskan. Ia harus menata kembali perasaannya, menghapus semua delusi yang selama ini tertanam Dalam pikirannya. Menghilangkan secara permanen semua perasan hatinya untuk Abizar dan kembali ke tujuan awal yaitu melahirkan anak dan mendapatkan uang. Memang seharusnya seperti itulah yang sebenarnya, ia saja yang terlalu terbawa perasaan dan menyakiti dirinya sendiri. Sudah cukup ia menangis. Ia haris kuat. Jelita menghapus air matanya dan melangkah menghampiri Abizar yang ternyata masih berada di tempatnya. Melihat Jelita kembali menghampirinya, Abizar senang bukan main. Apakah suasana hati Jelita bisa berubah secepat itu, yah mungkin karena hormonalnya. “Jelita kau kembali?” apakah kau butuh sesuatu, biar aku ambilkan. Katakan saja, kau mau apa?” ucap Abizar antusias. “Aku tidak ingin apa-apa, Pak. Sebaiknya kita pulang. Aku akan mengemas pakaianku dan pindah ke apartemen.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN