Ciuman

1233 Kata
“Apa kau sendirian?” Jelita terkejut mendengar suara pria yang tiba-tiba muncul. Ia segera menoleh dan melihat mantan bosnya saat ia masih bekerja di swalayan tersenyum padanya. Segera ia berdiri dan membungkuk hormat kepada pria itu. “Eh, Bapak ada di sini juga?” sapanya. “Tidak perlu formal begitu Jelita, kau kan bukan lagi karyawan saya. Bersikap biasa saja,” ucap pria itu. “Tidak apa-apa, Pak. Saya malah akan merasa tidak enak kalau saya bersikap santai. Biar bagaimana pun kan, Bapak tetap mantan bos saya,” ucap Jelita. Pria itu pun tersenyum dan mengangguk. “Tapi ngomong-ngomong, Bapak sama siapa ke tempat ini?” tanya Jelita sembari menatap sekeliling. “Saya kebetulan ada meeting di daerah sekitar sini. Setelah selesai kami datang ke mari. Yang lain malah keluyuran entah kemana. Aku berjalan sekitar sini, tidak di sangka malah bertemu kamu. Kamu sendiri sama siapa?” tanya pria itu. “Eh saya bersama suami saya, Pak,” jawab Jelita berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya karena ternyata Abizar sama sekali tidak menghiraukannya. “Oh begitu, tapi kok, saya tidak melihat suamimu di mana-mana.” “Dia pergi membeli cemilan, Pak...iya tadi dia berjalan ke arah sana.” Jelita menjawab sekenanya. Ia berharap Abizar tidak datang dulu sebelum pria yang ada di hadapannya ini pergi. “Oh, iya. Ngomong –ngomong berarti kau sendiri kan? Tidak keberatan, kan kalau saya menemanimu sebentar sampai suamimu kembali?” tanya pria itu lagi. Jelita tidak langsung menjawab, ia sebenarnya tidak ingin pria ini tinggal lebih lama dengannya. Takut ia mencurigai sesuatu. Bagaimana kalau pria ini menyadari kalau dirinya hanyalah istri yang tidak di anggap oleh sang suami. Tapi kalau menolak pun, ia juga merasa tidak enak. “Ah, Boleh, Pak. Dari pada saya bengong sendirian di sini, kan. Lebih baik ada teman ngobrol.” Jelita terpaksa membiarkan pria yang pernah mengungkapkan perasaan padanya ini, duduk di sampingnya. “Bagaimana kehidupan rumah tanggamu, Jelita?” tanya pria itu tiba-tiba. Jelita sedikit terkejut, ia menoleh ke arah pria itu, sejurus kemudian Jelita kembali menatap laut lepas. “Bahagia, Pak. Kalau Bapak sendiri, apakah sudah mendapatkan calon pasangan hidup?” Jelita berusaha mengimbangi perbincangan mereka. “Untuk sekarang, belum Jelita. Terus terang saya masih belum bisa move on dari orang itu. Padahal saya selalu berusaha untuk melupakannya karena dia sudah milik orang lain, tapi entah kenapa perasaanku seakan belum rela.” Jelita tahu jika yang dibicarakan pria yang duduk di sampingnya ini adalah dirinya. “Tetap berusaha, Pak. Saya yakin, pria baik seperti Bapak, akan mendapatkan yang terbaik juga. Sesuatu yang di takdirkan bukan milik kita, sampai kapanpun tidak kan pernah menjadi milik kita, jadi saya hanya bisa berpesan, belajarlah mengikhlaskan.” Jelita terpaksa memberikan sindiran halus kepada pria itu agar berhenti memikirkan dirinya . Bahkan walaupun suatu saat ia akan berpisah dengan Abizar. “Iya, aku akan terus berusaha,” ucap pria itu. “Apa yang kau akan usahakan?” tiba-tiba dari arah belakang, terdengar suara dingin Abizar. Keduanya menoleh, Jelita buru-buru berdiri dan menghampiri Abizar. Ia lega melihat kantongan berisi cemilan dan air mineral. Sehingga ia ternyata tidak berbohong kepada mantan bosnya itu. “Tidak apa-apa kok, Pak. Kami hanya kebetulan bertemu dan ngobrol,” ucap Jelita sambil memegang erat lengan suaminya. Abizar menatap Jelita dengan seksama, ia menerka-nerka apakah arti dari pegangan erat tangannya itu? Abizar membalas dengan memeluk pinggang Jelita dengan posesif, Seakan memperlihatkan jika ia dan istrinya sangat bahagia. “Oh, tidak apa-apa sayang. Tapi sepertinya aku ingin mengajakmu ke tempat itu,” Abizar menunjuk sebuah gazebo yang ada di pesisir pantai dengan air laut yang ada di bawahnya. Terlihat sangat eksotis dan indah. Jelita hanya mengangguk setuju. Abizar tersenyum dan menatap pria yang masih berada di tempatnya. “Anda tidak keberatan, kan kalau kami meninggalkan anda di sini?” tanya Abizar dengan senyum sinis. Ia sebenarnya hanya basa-basi kepada pria yang sejak tadi membuatnya emosi itu. Saat ia melihat pria itu sengaja mendekati Jelita, entah kenapa hatinya merasa panas. Pikirannya tidak fokus lagi, ia pun buru-buru menghampiri istrinya. “Oh, tidak masalah. Silakan, nikmati waktu kalian,” ucap pria itu mempersilakan. Sebelum benar-benar pergi, Abizar masih sempat melirik pria itu dengan tajam, dan hal itu cukup membuat pria itu paham kalau ia tidak punya kesempatan lagi untuk mendekati Jelita. Sebenarnya Abizar tidak ingin melakukan hal itu, ia tidak ingin menghalangi siapa pun mendekati Jelita. Karena biar bagaimana pun, setelah anaknya lahir nanti, ia dan Jelita akan berpisah. Akan tetapi, setiap kali ia memikirkan Jelita dekat dan tersenyum dengan pria lain, hatinya selalu merasa panas dan tidak rela. Ia tahu ini tidak adil untuk Jelita tapi tetap saja perasaanya tidak membiarkan Jelita bersama pria lain. “Sudah, Pak. Sepertinya kita sudah jauh. Dia tidak melihat lagi. Bapak bisa melepaskan saya,” ucap Jelita ragu-ragu. Akan tetapi bukannya melepas, Abizar malah semakin menarik tubuh Jelita, memeluk pinggang rampingnya. “Pak!” panggil Jelita. Ia merasa sikap Abizar berubah aneh. “Iya?’ Abizar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. “Apakah Bapak sadar dengan yang Bapak lakukan sekarang? Bapak memelukku, Pak,” ucap jelita berusaha mengingatkan. Jantungnya sudah berdetak tidak karuan, rasa senang, bahagia dan deg-degan bercampur menjadi satu membentuk muara kebahagiaan di dalam hati Jelita. Tapi, di saat yang sama, ia juga menyadari jika apa yang Abizar lakukan padanya, hanya semata-mata rekayasa. “Memangnya kenapa kalau aku memeluk istriku sendiri? apa aku salah?” tanya Abizar dengan santai. Seakan apa yang ia lakukan sekarang itu adalah hal yang benar dan tidak ada orang yang bisa mencegahnya melakukan itu. “Tapi, bukankah ini hanya sandiwara untuk memperlihatkan kepada orang-orang jika kita hidup bahagia seperti pasangan suami istri lainnya, dan pria tadi sudah tidak melihat kita lagi, Pak.” Jelita masih berusaha memperjelas maksud Abizar melakukan itu padanya. “Siapa bilang ini hanya sandiwara, aku memang ingin memelukmu, Jelita.” Abizar menghentikan langkahnya, ia menatap wajah Jelita yang sudah mulai memerah. Wajah Abizar mendekat sedikit demi sedikit ke arah bibir Jelita. Jantung Jelita benar-benar akan melompat keluar. Gemuruh jantungnya seakan mengalahkan deburan ombak di pantai. Bibir Abizar sudah hampir menyentuh bibirnya, wajahnya tampan itu menatap fokus ke bibirnya. Nafasnya yang hangat menyapu wajah Jelita, membuat Jelita menutup mata. Hatinya bertanya-tanya, apakah Abizar akan menciumnya? Dan apakah arti dari ciuman itu nanti? Akan tetapi, setelah lama menunggu. Ciuman yang Jelita harapkan itu tidak kunjung datang. Jelita membuka matanya dan melihat Abizar tersenyum padanya. Hal itu membuat Jelita malu. Bisa-bisanya ia berpikir Abizar akan menciumnya. Gila, ini benar-benar sangat memalukan. Pak abizar benar-benar jahat…! Jerit hatinya penuh kekecewaan. Ia pun melepas tubuhnya dari pelukan Abizar dan berlari menjauhi . Rasanya ia ingin menghilang saja dan tidak pernah melihatnya lagi. Ini sungguh memalukan. “Jelita…! Jangan lari! Ingat di perutmu ada janin! Kau harus hati-hati…!” teriak Abizar mengingatkan. Namun, jelita tampak tidak peduli. Ia terus berlari tanpa henti. Abizar yang sangat khawatir tidak punya pilihan lain kecuali terus berlari mengejar Jelita. Ia benar-benar khawatir, jangan sampai Jelita terjatuh. Jelita terus berlari sekuat tenaga, ia tidak ingin melihat Abizar karena sangat malu. Tapi sialnya, Abizar malah terus mengejarnya. Tapi tiba-tiba kakinya menginjak tumpukan pasir sehingga keseimbangannya goyah, Jelita pun merasakan tubuhnya melayang dan sebentar lagi terhempas ke tanah. Tapi sebuah tangan kekar menahan tubuhnya sehingga ia merasa melayang. Jelita membuka mata dan melihat wajah tampan suaminya tepat berada di depan matanya. “Kau tidak mau mendengarkan,” ucap Abizar. Tepat sesaat setelah Abizar mengucapkan kalimatnya itu, bibirnya pun langsung melumat bibir Jelita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN