Mendengar ucapan Abizar, Jelita tertegun. Ia tidak bisa langsung merespon suaminya karena terkejut. Baru setelah beberapa saat, Jelita tersenyum kikuk.
“Em, Bapak mau mengajak saya ke mana?” tanyanya ragu.
“Kamu ikut saja, nanti kita tentukan mau ke mana. Pokoknya hari ini kau temani aku jalan,” ucap Abizar.
Hati Jelita bersorak bahagia, ia akhirnya di ajak oleh suaminya untuk menghabiskan waktu bersama. Perasaannya berbunga-bunga.
“Baik, Pak, kalau begitu saya siap-siap dulu,” ucapnya berusaha merespon biasa, menyembunyikan perasaan senangnya yang luar biasa.
“Iya, aku tunggu di luar, ya?”
“Iya.”
Abizar lalu berjalan menuju pintu utama, sedangkan Jelita kembali menutup pintu kamarnya dan tersenyum senang. ia menyentuh dadanya yang terasa bergemuruh. Sungguh apa yang ia rasakan membuatnya senang bukan main.
“Aku sangat senang sekali, tapi apakah aku boleh seperti ini, Tuhan? Meskipun begitu, sekali ini saja, biarkan sekali ini saja aku merasakan kebahagiaan ini , Tuhan. Aku benar-benar sangat ingin jalan berdua dengan suamiku. Biarkanlah aku menjadi wanita jahat untuk sekali ini saja,” gumannya.
Setelah merasa hatinya sedikit tenang, ia pun melangkah menuju lemari dan memilih baju yang akan di pakainya.
“Ah, aku harus terlihat cantik di mata pak Abizar,” gumannya sambil memilah baju.
Setelah lama berkutat dengan perdebatan diri sendiri baju mana yang ia harus kenakan, akhirnya Jelita memilih dress cantik berwarna biru muda dengan detail pita cantik di bagian bawah dadanya. Jelita terlihat seperti gadis remaja yang imut.
Abizar masih menunggu, ia duduk di ruang tunggu menunggu Jelita muncul. Sopir sudah menyiapkan mobil yang akan mereka tumpangi berdua. Abizar sengaja ingin berkendara tanpa sopir karena ia ingin menikmati waktunya bersama Jelita.
Setelah beberapa lama, akhirnya Jelita keluar dengan malu-malu berjalan menghampiri Abizar.
Mata Abizar tidak berkedip menatap Jelita, kenapa Jelita terlihat semakin cantik saja? apa matanya sudah tidak beres? Kenapa hari ini Jelita seakan menutupi bayangan Jovanka di mata Abizar. Kenapa hari ini ia bersemangat sekali ingin bersama Jelita seharian? Ini pasti karena ia kecewa dengan Jovanka.
“Apa penampilanku berlebihan, Pak?” tanya Jelita ketika Abizar hanya menatapnya saja.
Mendengar suara Jelita, Abizar jadi tersadar dari lamunannya.
“Oh, tidak kok, kau cantik kok. Ayo kita berangkat,” ajaknya. Abizar tanpa sadar meraih tangan Jelita dan melangkah keluar.
Hati jelita lagi-lagi berbunga-bunga di perlakukan semanis itu oleh Abizar. ‘Ya Tuhan, begini kah rasa indahnya cinta? Ini benar-benar sangat menyenangkan. Tuhan, bisakah perasaan ini jangan kau renggut dariku?’
Abizar membuka pintu mobil untuk Jelita. “Masuklah,” ucapnya. Jelita tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.
Jantung Jelita masih bergemuruh saat ia duduk tepat di samping Abizar di dalam mobil. Ia baru kali ini duduk di dalam mobil bersama suaminya itu.
Abizar kembali melirik Jelita yang terlihat tegang duduk di sampingnya. “Jelita…” panggilnya.
Jelita menoleh ke arahnya. “I..ia Pak?”tanyanya gugup. Ia merasa sejak masuk mobil tadi, Abizar terus menatapnya.
“Kau terlihat tegang, apa kau keberatan menemaniku? Pertanyaan itu sontak membuat Jelita menggeleng keras. Keberatan apanya, yang ada hatinya sudah terbang ke awan saking senangnya.
“Tidak sama sekali, Pak. Saya hanya belum terbiasa saja naik ke mobil Bapak berdua seperti ini. biasanya kan ibu Jovanka yang duduk di samping Bapak, jadi rasanya sedikit canggung dan takut-takut juga,” ucap Jelita memberikan alasannya.
Abizar terdiam sejenak, ada rasa sedikit tidak suka Jelita menyebut nama Jovanka saat ini. hari ini ia benar-benar ingin menghilangkan bayangan Jovanka untuk hari ini saja.
“Jelita.”
“Iya, Pak?
“Tolong, kau jangan sebut nama Jovanka dulu untuk hari ini, ya? aku sedang tidak ingin mendengar apa pun tentangnya. Jadi lebih baik, kau fokus saja dengan dirimu sendiri,” kata Abizar sambil memandang lurus ke depan. Hatinya kembali merasa sedih, kekecewaannya terhadap Jovanka benar-benar membuatnya tidak berdaya.
“Maaf, Pak. aku tidak akan melakukanya lagi,” kata Jelita sambil tertunduk.
Abizar melihat Jelita yang tertunduk. “Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Kita berangkat?”
Jelita hanya mengangguk tanpa bersuara. Ia merasa bersalah dan tidak enak hati telah membuat perasaan Abizar kembali gamang.
Sepanjang perjalanan, Jelita tidak mengeluarkan suar sedikitpun. Tiba-tiba saja ia tidak ingin berbicara, takut ucapannya nanti akan membuat Abizar kembali tersinggung. Ia hanya menatap ke arah jendela.
“Kita akan ke pantai, bagaimana menurutmu?” tanya Abizar kemudian.
Jelita menoleh ke arah Abizar yang sedang fokus menyetir.
“Terserah Bapak saja,” ucapnya singkat. Abizar menoleh ke arah Jelita sekilas lalu kembali fokus ke jalan.
“Sepertinya ideku kurang membuatmu senang, ya?” tanya Abizar melihat Jelita tampak tidak bersemangat.
Dengan cepat Jelita menggeleng. “Siapa bilang saya tidak senang, Pak? Justru saya senang sekali, jadi kalau Bapak ingin ke pantai, pastinya saya juga menyetujuinya,” jelas Jelita.
“Aku pikir kau tidak senang menemaniku jalan seperti ini. Tapi syukurlah kalau kau juga merasa senang bersamaku.” Jelita kembali tersenyum.
“Tentu saja saya merasa sangat senang, Pak.” jawabnya.
‘Bapak tidak tahu saja kalau aku sedang di atas awan sekarang, Pak’ bisiknya dalam hati.
Abizar memarkirkan mobilnya lalu keluar. Jelita baru akan membuka pintu mobil tapi Abizar sudah membuka untuknya.
“Terima kasih , Pak.” ucapnya lalu keluar.
“Ayo, kita ke arah sana,” ucap Abizar dan berjalan mendahului Jelita.
Jelita sedikit kecewa, awalnya ia berpikir Abizar akan kembali menggenggam tangannya dan membawanya ikut serta tapi ternyata Abizar berjalan sendiri dan mendahuluinya.
‘Apa yang kau pikirkan, Jelita? Jangan besar kepala dulu, kau hanya wanita yang mengandung anaknya, tidak lebih. Berhentilah berpikir berlebihan, jangan sampai kau terjatuh karena itu rasanya sangat menyakitkan.
Abizar terus melangkah sedangkan Jelita berjalan santai di belakangnya. Ia sudah meyakinkan hatinya jika dirinya hanya wanita yang menemani tuannya untuk menemaninya berjalan-jalan.
‘Dari pada memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik aku nikmati saja keindahan pantai ini sendiri. biarkan Pak Abizar menikmati waktu sendirinya.’ Ucapnya dalam hati.
Jelita lalu mengingat kebersamaannya dengan Bima dan ayahnya. Seandainya mereka bersamanya sekarang. Seandainya ayahnya bisa lihat keberadaan Abizar yang bersamaku sekarang.
Jelita hanya bisa memandangi Abizar dari jauh, suaminya itu benar-benar hanya ingin sendiri, buktinya Jelita sudah lama berjalan mengikutinya tapi pria itu seakan sengaja meninggalkannya di belakang.
Meskipun Jelita sudan menguatkan hati, tapi tetap saja ia merasa kesal karena suaminya itu seakan tidak ingin dekat dengannya
“Kalau memang tidak ingin bersama, kenapa dari awal dia memintaku untuk menemaninya? Andai aku tahu bakal seperti ini, mending aku di rumah saja istirahat, lagi pula kemarin kan aku sudah ke tempat ini dan bersama ayah dan Bima sepuasnya.
Karena sedikit lelah, Jelita akhirnya duduk di pasir dan memandangi laut lepas tak berujung.
“Apa kau sendirian?”