“Boleh Om ikut?”
Keduanya menoleh setelah mendengar suara pria yang tiba-tiba terdengar. Jovanka terkejut bukan main saat melihat pria yang berdiri sambil tersenyum lebar ke arah mereka.
“Apa yang kau la….”
“Om Daviiiid…!” tiba-tiba Katrina berseru sambil berlari ke arah David dan memeluknya.
“Oh, sayang. Sahabat Om yang paling cantik. Apa kabar, hmm?” ucap David sambil memeluk Katrina dengan penuh kasih sayang.
“Baik, Om. Oi ya om, aku hari ini bahagia sekali karena mama datang berkunjung. Sini deh om, aku kenalin sama mama.” Katrina menarik tangan David mendekat dengan Jovanka.
Sedangkan Jovanka masih berdiri mematung melihat interaksi mengejutkan antara putrinya dengan David.
Begitu mendekat, Jovanka dengan cepat menarik putrinya menjauhi David. David hanya tersenyum melihat reaksi Jovanka.
“Katrina, jangan dekat-dekat dengan orang itu, sayang,” tegur Jovanka kepada putrinya, ia lalu melirik ke arah Sindy yang berdiri tidak jauh dari mereka, tetapi Sindy hanya menatapnya dengan ekspresi biasa seakan tidak terjadi apa-apa.
“Mama. Om David ini sahabat Katrin. Dia selalu datang dan memberikan hadiah dan makanan enak untuk Katrin. Om David juga orangnya baik sekali, Mama tidak boleh bersikap kasar sama om David, Mama juga harus jadi sahabat Om David." Katrina terdengar menuntut, Lagi-lagi Jovanka terdiam saat Katrina dengan terang-terangan membela David didepannya.
Mendengar pembelaan itu, David pun tersenyum bangga. Ia lalu mengelus kepala Katrina dengan lembut.
“Tidak perlu membela paman seperti itu, sayang. Mamamu hanya terkejut karena baru pertama kali melihat Om. Apalagi mama baru tahu kalau ternyata kita sahabat, wajar kalau Mama bersikap begitu,” ucap David.
Jovanka melangkah menghampiri David dan menatapnya dengan tajam.
“Apa lagi rencanamu, David? Kenapa kau bisa tahu Katrina? Kau siapa sebenarnya? Kenapa kau menyelidiki kehidupanku sampai sejauh ini? apa yang sebenarnya yang kau rencanakan, hah…?!” hardik Jovanka penuh emosi.
“Jangan salah paham berlebihan seperti itu, Jovanka. Aku dan Katrina sudah lama kenal. Jauh sebelum aku bertemu denganmu lagi. Kau tidak perlu cemas, karena Katrina sudah aku anggap sebagai putriku sendiri, tidak mungkin seorang ayah akan menyakiti putrinya sendiri, aku menyayanginya,” ucap David.
“Jangan sembarangan ngomong kamu!Aku sama sekali tidak percaya, aku yakin kau akan menggunakan putriku untuk kembali menekanku kan? Kau pria yang sangat licik, mana mungkin punya hati untuk menyayangi seorang anak kecil. Tidak, kali ini aku tidak akan membiarkanmu menggunakan anakku untuk kepentinganmu itu.” Jovanka kembali menjauhkan Katrina dari David dan kembali menoleh ke arah Sindy.
Jovanka melangkah menghampiri Sindy. “Sindy, apa yang kau ketahui tentang semua ini? Kenapa kau tidak berbicara sedikitpun,” tanyanya penuh emosi.
“Kau tenanglah dulu Jovanka, apa yang harus aku katakan. Katrina anak yang periang dan sangat menyukai orang dewasa. Kau tahu putrimu ini akrab dengan orang tua dari teman-temannya. Dia bisa akrab dengan siapa saja yang di anggapnya baik. Jadi apakah aku harus melarang seseorang yang telah menolongnya? Saat Katrina hampir terjatuh dari pohon waktu bermain, sejak itulah David dan Katrina berteman. Apakah aku harus mencegah mereka dekat jika putrimu sendiri yang setiap hari merengek-rengek meminta David untuk selalu datang?” Sindy akhirnya menjelaskan.
“Kau bilang Katrina hampir jatuh dari pohon? Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Jovanka.
“Apa yang kau katakan itu? Bukankah waktu itu aku langsung menelponmu setelah kejadian? tapi saat itu kau tidak mendengarkan dengan baik. Kau sibuk dengan urusanmu. Apa kau masih ingat apa yang kau katakan? ‘Kalau hanya hampir jatuh berarti Katrina baik-baik aja, kan? Berikan apa yang dia mau nanti aku datang menjenguknya’ dan kau akhirnya datang melihat putrimu seminggu setelah kejadian itu, Jova. Apakah sudah melupakan itu semua?” Sindy terlihat emosional menceritakan kejadian saat itu. Jovanka hanya terdiam mematung mendengar ucapan Sindy.
“Ah, sudahlah. Lupakan saja saat itu. bukankah Katrina ingin ke kebun binatang? Ada baiknya kita segera bergegas, bagiamana?” gagas David sambil menatap Katrina dengan tatapan penuh arti.
“Yeey…! Ayo Om, kita berangkat…!!” Katrina menarik tangan David dan Jovanka menuju ke mabil. Sementara Sindy menyusul di belakang mereka.
Sementara itu, setelah keluar dari kamar Abizar, Jelita kembali ke kamarnya. Ia menatap sekeliling kamar melihat apa saja yang belum dikerjakan. Tapi semuanya ternyata sudah rapih dan bersih.
Jelita duduk di kursi dekat jendela, menatap taman hijau yang menghampar. Di akhir pekan ini seharusnya ia keluar rekreasi atau sekedar jalan ke tempat-tempat yang menyenangkan. Namun, setelah mengingat kemarin ia sudah meninggalkan rumah seharian untuk menikmati pantai bersama ayahnya, ia jadi ragu untuk meminta izin kepada Abizar untuk keluar rumah lagi. Ia pun merasa bosan.
Jelita pun akhirnya hanya bisa menghela nafas dalam, ia lalu membuka –buka majalah dan membacanya tanpa minat.
***
Abizar juga merasakan kebosanan yang sama seperti Jelita, seharusnya di hari libur ini ia gunakan untuk family time dengan Jovanka tapi sedihnya, Jovanka malah pergi meninggalkannya. Ia juga tidak ingin mengerjakan pekerjaan kantor lagi, ia ingin menyegarkan otak hari ini, tapi sayangnya tidak ada yang bisa menemaninya.
Tiba-tiba matanya berbinar, seakan mendapat ide cemerlang. Dengan cepat ia bergegas ke kamar mandi. Abizar keluar dengan tubuh setengah basah yang hanya di bungkus handuk. Tubuh atletisnya benar-benar sangat indah di pandang mata. Ia berjalan menuju lemari dan memilih pakaian yang akan ia pakai.
Setelah rapi dan tentunya tampan, ia pun bergegas keluar dari kamarnya.
Abizar menghela nafas sebelum mengetuk pintu kamar.
Setelah beberapa lama, pintu pun terbuka.
“Oh, Bapak. Eh, ada perlu apa, Pak?” tanya Jelita.
Abizar mengusap tengkuknya, dia sedikit tegang.
“Eh, Aku ingin mengajakmu keluar,” ucap Abizar gugup.