Bertemu Putri

1159 Kata
“Jelita…?” ucap Abizar sedikit terkejut, tidak menduga jika Jelita tiba-tiba berada di hadapannya. “Iya, maaf kalau saya lancang tapi saya terpaksa harus datang kemari mengingatkan Bapak untuk makan. “ tanpa di suruh, Jelita langsung masuk ke kamar Abizar. Abizar pun mengikuti Jelita. Jelita meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja lalu duduk di kursi. Abizar hanya bisa menatapnya sambil tersenyum-senyum. Ia merasa senang karena paginya tidak terlalu buruk atau bisa dikatakan, menyenangkan. “Kenapa Bapak hanya berdiri saja di situ? Apa bapak tidak lapar, tidak mau makan? Atau mau saya suapi lagi?” tanya Jelita dengan serius. Ia merasa kalau suaminya ini lebih manja dari anak-anak. Abizar berjalan menghampiri Jelita, duduk di hadapannya. Ia mengambil piring lalu mengambil nasi, tapi tangan Jelita menahan gerakannya. Jelita mengambil piring itu dari tangan Abizar lalu mengisinya dengan nasi dan lauk lalu memberikan lagi kepada Abizar. Abizar awalnya hanya menatap Jelita, lalu menerima piring itu dengan senyum mengembang. “Terima kasih,” ucap Abizar lalu mulai makan. Jelita megambil piring lagi dan menyajikan untuk dirinya sendiri. mereka pun makan bersama. “Kata ayah, jika suami makan, istri harus menemani suaminya makan. Walaupun istri tidak merasa lapar. Istri juga tidak boleh mendahului suami, walau sudah kenyang sekalipun. Istri harus menunggu sampai suami selesai makan, barulah istri juga menyudahi makanannya,” tutur Jelita. Mendengar hal itu, Abizar tersenyum. “Sungguh nasehat yang sangat baik. Ayahmu dulu pasti sangat mencintai ibumu,” ucap Abizar sambil menatap Jelita lekat. Ia terlihat sangat menikmati makannya. “Iya, Pak. Saya masih ingat waktu itu ayah terlambat pulang. Ibu bukannya bertanya kenapa pulang terlambat, ibu malah langsung membuka sepatu ayah dan memijatnya. Ibu berkata kalau ayah pasti sangat lelah seharian bekerja. Ibu tidak pernah mengeluh sedikit pun dengan kehidupan kami. Ibu selalu tersenyum setiap kali ayah pulang kerja. Saat ibu di sakit, ayah benar-benar menderita. Sampai akhirnya ibu di panggil oleh Tuhan, bertahun-tahun ayah seperti kehilangan jiwa. Tiap malam ayah selalu menangis, tentu saja tidak di depanku. Ayah terlihat tidak bisa menerima kepergian ibu, meskipun begitu ayah tidak pernah berhenti berjuang untuk menghidupi kami, ayah bahkan sengaja bekerja keras untuk meringankan rasa sakit kehilangan, hingga akhirnya ayah jatuh sakit. Tapi semenjak menikah dengan Bapak dan ayah saya kembali sehat, saya merasa tidak ada lagi kebahagiaan lain yang aku harapkan. Melihat ayah sehat adalah kebahagiaan paling besar dalam hidup saya, Pak. dan saya sangat berterima kasih untuk itu.” Jelita mengungkapkan semua cerita hidupnya, Abizar mendengarkan dengan penuh perhatian. “Kau tidak perlu berterima kasih, jelita. Kau tahu, pengorbananmu itu bahkan jauh lebih besar dari siapa pun juga. Yang kami berikan untukmu tidak seberapa. Kamilah yang seharusnya berterima kasih,” ucap Abizar. Jelita hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Pak. Saya ikhlas melakukannya. Mungkin di awal memang saya sempat menolak dan terpaksa melakukannya, tapi entah kenapa, semakin hari seiring berjalannya waktu, saya menikmati peran saya sebagai istri, meskipun saya tidak memiliki keistimewaan sebagai istri yang sesungguhnya,” ucap Jelita dengan senyum sendu. Abizar tidak mampu berkata apa-apa mendengar ungkapan hati Jelita. Memang benar yang di katakan istrinya ini, Jelita tidak memiliki hak dan kewajiban sebagai istrinya. hanya perjanjian kontrak yang sebentar lagi akan berakhir. Entah kenapa memikirkan itu, hati Abizar terasa gundah. “Kenapa Bapak terdiam? Tidak usah di pikirkan, Pak. Ini hanya celotehanku yang tidak penting. Sudahlah Pak, lanjut makan saja, nanti makanannya tidak habis-habis,” ucap Jelita kembali melanjutkan makannya. Abizar mengangguk, mereka pun melanjutkan makan. *** “Tante gak bohong kan kalau mama mau datang?” Katrina sejak tadi gelisah menatap jam dinding. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya yang sudah sebulan ini tidak dilihatnya. “Iya dong sayang, ini katanya mama sudah di jalan. Katrin yang sabar ya. Sebentar lagi Katrina bertemu mama,” bujuk Sindy menenangkan. “Iya, tante,” ucap gadis cilik itu menurut. Tidak berapa lama menunggu, seorang wanita bertubuh tinggi semampai berjalan ke arah mereka. Katrina berdiri dari duduknya dan berlari ke arah wanita itu. “Mama….!” serunya sambil terus berlari. Wanita itu menyambut dan memeluknya dengan erat penuh rasa rindu. “Mama kenapa baru datang, Katrin kangen sama Mama…” rengek Katrina manja sambil terus memeluk wanita yang ia panggil mama itu. Wanita itu pun menatap wajah cantik gadis kecil itu lalu menciumnya berkali-kali. “Kau pikir Mama tidak kangen, sayang? Mama itu kangen banget sama Katrin. Makanya Mama datang mengunjungi Katrin,” ucap wanita itu. Sindy hanya bisa menitikkan air mata haru melihat keduanya melepas rindu. Terutama saat melihat kebahagiaan di wajah Katrina. “Apa kabar Sindy? Maaf aku baru sempat berkunjung,” ucap wanita itu. “Aku baik-baik saja Jova, tapi tidak dengan putrimu ini. Katrina selalu mengigau tiap malam memanggil namamu. Dia benar-benar sangat merindukanmu,” ucap Sindy sambil mengelus kepala Katrina yang masih bergelayutan manja di tubuh Jovanka. Jovanka duduk, ia menatap Katrina dan kembali menciumnya. “Putri Mama kan hebat, pasti kuat tanpa Mama. Apalagi kan ada Tante Sindy yang menemani. Baik, karena Mama sudah datang, Katrin bisa sama-sama mama seharian penuh. Katrina mau main? Makan? Belanja? Apa saja, Mama akan kasi semua, bagiamana?” tanya Jovanka . Katrina hanya terdiam saat Jovanka berkata seperti itu, wajahnya yang awalnya ceria berubah sendu. Ia menatap Jovanka dengan tatapan penuh harap. “Mama tahu tidak, Katrina tidak ingin apa-apa. Katrina hanya ingin Mama ada di samping Katrin. Mama, Mama jangan pergi lagi, ya? Mama sama Katrina saja,” pinta gadis kecil itu dengan air mata yang mulai bercucuran. Melihat putrinya menangis, Jovanka memeluknya dengan erat. Hatinya ikut sakit melihat kesedihan putrinya itu. Ia menyesali semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Bagiamana ia mengandung dan melahirkan Katrina seorang diri sampai akhirnya ia meninggalkannya demi hidup bersama pria yang ia cintai. Semua itu tidak mudah untuknya, tapi demi sebuah impiannya, Jovanka harus melakukan ini. “Sudah sayang, tenanglah. Mama ada di sini,” ucapnya sambil mengusap lembut kepala Katrina. Air matanya pun mulai luruh. “Mama jangan pergi, ya, Ma.” rengek Katrina lagi. “Tidak sayang, mama tidak pernah jauh dari Katrina. Mama selalu ada dalam hati Katrina. Katrina selalu memikirkan mama kan? Mama tidak akan pernah pergi dari Katrina. Hanya saja, Mama harus tinggal sedikit berjarak dengan tempat tinggal Katrina, karena pekerjaan Mama yang mengharuskan Mama melakukan itu. Mama mencari uang untuk Katrina. Untuk masa depan putri mama yang cantik ini. Katrina mengerti kan, sayang?” Jovanka berusahja keras membujuk putrinya itu agar bisa memahami situasi. Katrina hanya mengangguk sambil terus memeluk Ibunya. sedangkan Sindy sudah berlinang air mata. “Anak pintar, kalau begitu sudah dong nangisnya. Masa Mama datang hanya melihat Katrina menangis, sih? Mama mau melihat senyum Katrina saja hari ini, bisa ?” Katrina mengangguk antusias. “Bagus, kalau begitu senyum dong.” Katrina pun tersenyum. Jovanka mencium wajah sang putri. “ Katrina pilih, mau kemana hari ini?” ucapnya. “Katrina mau ke kebun binatang…!” seru Katrina riang. “Oke, ayo berangkat…!” ucap Jovanka dengan penuh semangat. “Asyikkk…!” seru Katrina. “Bisa Om ikut?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN