Ditinggal

1067 Kata
Abizar menghela nafasnya, ia menatap taksi yang membawa Jelita, ayah dan pemuda itu. Hah… gara-gara pemuda itu semuanya berantakan. Karena pemuda sialan itu, ia terpaksa harus menyusul Jelita untuk memastikan sendiri apa saja yang ia lakukan. Ia memberi isyarat kepada kedua pengawal yang sejak tadi mengawasi Jelita untuk pergi saja dari tempat itu. Abizar memandangi sekeliling, hamparan pasir putih yang indah, dengan deru ombak yang menyisakan jutaan buih di garis pantai. Perasaan Abizar seketika tentram, ia tersenyum memandangi laut biru kehijauan. Bayangan Jovanka yang tersenyum ceria seketika terlintas di benaknya. “Seandainya saja Jovanka punya banyak waktu untuk datang ke tempat ini,” gumannya sambil berjalan menyusuri pasir. Setelah beberapa lama berjalan, Abizar kembali ke mobilnya dan masuk. Lama ia terdiam, pikirannya melayang. Membayangkan kehidupan yang ia jalani sekarang. Ia memiliki istri yang sangat ia cintai tapi perasaannya seakan terasa gamang. Kebahagiaan yang selama ia rasakan kini seakan hambar. Abizar kembali menghela nafas dalam sebelum melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. *** Jovanka membuka mata, Ia menoleh ke samping dan melihat suaminya masih terlelap. Jovanka tersenyum menatap sang suami. Semalam ia pulang larut seperti biasa dan mendapati suaminya sudah tertidur. Sinar matahari mulai beranjak memberikan cahaya terang benderang di hari yang cerah. Karena hari ini adalah hari minggu, Jovanka harus segera pergi. Ia harus bergegas karena sudah ada janji dengan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Menghela nafas dalam lalu berjalan ke kamar mandi. Jovanka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melekat di tubuhnya. Jovanka berjalan menuju lemari pakaian dan mulai memilih pakaian yang hendak ia kenakan. Tapi belum sempat ia memasang bra-nya dengan baik, tangan kekar Abizar sudah memeluk tubuhnya dengan erat. “Ah, Mas Abizar…! Bikin kaget saja,” ucapnya seraya menggeliat karena Abizar sudah menciumi seluruh bagian leher dan dadanya. Tangan Abizar dengan posesif meremas d**a menggunung indah Jovanka yang belum sepenuhnya tertutup oleh bra, Abizar bahkan sudah mencopot bra Jovanka dan melemparnya entah kemana. Desahan Jovanka mulai terdengar seiring gerakan tangan dan ciuman Abizar di seluruh tubuhnya. “Mas, Jangan sekarang ya, aku mohon,” tolak Jovanka saat Abizar akan membawanya ke ranjang. Abizar menghentikan gerakannya. Ia menatap Jovanka lekat. “Ada apa lagi ini, Jova? Apakah kau baru saja menolak suamimu padahal ini sudah akhir pekan?” ucap Abizar. Jovanka menarik selimut dan menutup tubuhnya yang telanjang. “Bukan begitu, Mas. Sebenarnya aku sedang bersiap-siap,” ungkapnya. Abizar mengerutkan kening. Terlihat jelas adanya kekesalan yang seketika terbentuk di raut wajahnya. “Kau mau pergi lagi? ck..aku tidak mengerti denganmu yang sekarang Jovanka. Sebenarnya apa yang kau cari dengan melakukan kesibukan semacam ini? kau tahu, aku bahkan mulai berpikir untuk memintamu menghentikan saja karirmu dan fokuslah di rumah. Setelah anak kita lahir, kau yang akan mengurusnya,” ucap Abizar. Tentu saja ucapan Abizar itu membuat Jovanka terkejut. “Apa yang kau katakan itu, sayang. Kenapa tiba-tiba kau punya pemikiran tidak masuk akal seperti itu?” tanya Jovanka. “Tidak masuk akal katamu? Inilah yang seharusnya kau lakukan sejak dulu. Jika hanya uang yang kau cari, aku bahkan bisa memberimu apa pun yang kau mau. Membawamu berkeliling ke negara mana pun yang kau ingin tuju. Menyenangkanmu dengan semua hal indah yang ada di dunia itu. Emas permata, apa pun yang kau inginkan, aku bisa memberikan itu semua. Tapi kau tetap saja membuang-buang waktumu untuk hal melelahkan seperti ini. Kau bahkan tidak memberikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk bersenang-senang. Lihatlah, bahkan di hari libur pun kau masih ingin pergi bekerja?” Abizar mengungkapkan semua ketidaksukaannya dengan sikap Jovanka yang menurutnya semakin hari semakin keterlaluan. “Mas Abizar, dengan aku dulu. Aku bukannya ingin pergi bekerja, aku hanya ingin bertemu seseorang sebentar saja lalu pulang. Ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada orang itu.” jelas Jovanka. “Kau tidak bisa mengatakan hal pentingmu itu lewat telepon. Apa gunanya kecanggihan teknologi sekarang jika kau tidak menggunakannya di waktu yang waktu seperti sekarang ini? siapa pun orang yang kau ingin temui itu, tidakkah dia tahu kalau hari ini adalah hari untuk kita berdua setelah sekian lama?” sindir Abizar mulai menampakkan kekesalannya. “Justru itu, Mas. Aku harus menemuinya sekarang. Aku tidak punya banyak Aku tidak bisa hanya menelponnya saja, aku harus menemuinya, tolong mengertilah,” Pinta Jovanka. “Siapa?” “Apa?” “Siapa orang yang ingin kau temui itu? siapa orang yang sangat penting itu yang membuatmu tega menolakku hanya untuk menemuinya. Apakah dia lebih penting dariku?” ucap Abizar. Dia mulai merasa tersisihkan dengan seseorang itu. “Siapa dia?” imbuhnya lagi. Jovanka menatap Abizar dengan gugup, Ia menelan ludahnya. “Ah, emm…itu… dia adalah salah satu klien pentingku. Ada hal yang sangat krusial yang harus aku sampaikan secara pribadi dan tertutup jadi aku benar-benar harus berangkat dan menemuinya, sayang. aku mohon kali ini saja,” ucap Jovanka menjelaskan maksudnya. “Berarti kau lebih memilih dia dari pada aku, aku bahkan tidak sebanding dengannya ternyata.” Abizar mulai putus asa. “Kau tetap lebih memilih pekerjaanmu dari pada aku suamimu. Kau bahkan tidak berpikir dua kali untuk berpikir. Oh iya, kau memang sejak awal tidak dalam keadaan memilih, karena kau sudah menentukan sejak awal. Aku bahkan tidak ada dalam pilihanmu itu.” imbuhnya lagi, wajahnya terlihat sangat suram. “Apa yang kau katakan itu, Mas. Itu tidak benar. Aku mohon jangan pernah berpikiran seperti itu tentangku. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti ini. Aku hanya benar-benar harus menemui dia sekali ini saja, aku janji setelah ini kita bisa pergi bersama, kemanapun kau mau. Aku mohon, izinkan aku kali ini saja, sayang.” Jovanka memohon, meminta izin suaminya untuk pergi. “Kau memang selalu mendapatkan yang kau inginkan, Jovanka. Aku bisa apa, aku tidak bisa menolakmu menitikkan air mata. Pergi saja,” ucap Abizar dengan pasrah. Toh ia tidak bisa melarang Jovanka sama sekali. Apa pun yang ia katakan, Jovanka tidak pernah mau mendengarnya. Jangankan meminta pendapat dan mendengarkan, Jovanka selalu saja memaksakan keinginannya. Jovanka menghambur ke pelukan Abizar sambil mencium wajahnya berkali-kali. “Terima kasih, sayang. Terima kasih.” Ucapnya. Abizar hanya bisa menatap kepergian Jovanka, wajahnya murung menatap mobil istrinya lagi-lagi melaju dan meninggalkannya. Abizar kembali menghempaskan tubuhnya di kasur, Jovanka pergi padahal ia ingin sekali melampiaskan hasratnya. Kehidupan pernikahan apa ini sebenarnya? “Tok…tok…!” Abizar membuka mata setelah mendengar ketukan pintu. Ia mengusap wajahnya lalu berjalan menuju pintu. “Jelita?” ucapnya. “Apa Bapak baru bangun? Ini sudah jam 10 pagi Pak dan Bapak melewatkan sarapan lagi!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN