Cemas

1235 Kata
“Oh, tentu saja tidak Ayah, kenapa aku harus merasa kesenanganku akan kurang? Bersama Ayah menikmati pemandangan seperti ini merupakan kebahagiaanku yang paling besar. Hanya dengan melihat Ayah baik-baik saja dan tersenyum bahagia, itulah yang membuatku bahagia. Tidak ada kebahagian lain lagi yang aku harapkan selain itu semua. Ayah tahu, aku sangat bersyukur karena bisa melihat Ayah kembali sehat dan tersenyum seperti sekarang,” ucap Jelita panjang lebar penuh semangat dengan senyum mengembang. Ia benar-benar merasa sangat bebas dan bahagia bisa merasakan suasana seperti ini. “Kau sangat bahagia kan melihat Ayah sehat lagi? apakah kau tidak ingin berterima kasih kepada orang yang telah membuat Ayah sehat seperti ini lagi? bagaimana bisa kau berkata seperti itu di saat suamimu tidak berada di sisimu sekarang? Kenapa, Nak? pak Yuda menatap Jelita dengan serius. Ada rasa curiga yang terbersit di hatinya tentang kehidupan pernikahan putrinya yang menurutnya baik-baik saja itu. Jelita terdiam, ia baru menyadari jika apa yang dimaksud ayahnya dengan kebahagiaan yang kurang adalah ketidakberdayaan Abizar di antara mereka sekarang. Bima yang sejak tadi hanya terdiam menoleh ke arah Jelita yang masih termangu. “Ah, Paman. Kenapa bicara seperti itu. Suami Kak Jelita kan orang yang sibuk. Dia seorang CEO perusahaan besar di kota ini. Cabang-cabang perusahaannya ada di berbagai daerah. Jadi menurutku sangat wajar jika dia tidak punya waktu untuk melakukan hal yang akan membuang waktu berharganya seperti ini,” ucapnya berusaha membela Jelita. Jelita menoleh ke arah Bima dan tersenyum padanya. Ia lalu menghampiri ayahnya. “Ayah, Seperti yang aku katakan tadi kalau aku sangat bersyukur melihat Ayah sehat lagi, aku tidak pernah berhenti berterima kasih kepada suamiku. Dia bahkan bilang kalau aku tidak perlu mengatakan itu karena itu adalah kewajibannya. Dia bahkan berkata, tidak bisa melihatku bersedih. Jika maksud dari perkataan Ayah tadi adalah tentang pernikahanku bahagia atau tidak, maka jawabanku adalah kami sangat bahagia. Jadi Ayah tidak perlu khawatir. Kami baik-baik saja,” jelas Jelita. Mendengar hal itu tatapan Bima terlihat kosong, ia merasa kesal mendengar kata kami baik-baik saja dari Jelita. Padahal ia sudah punya firasat jika kakak yang ia kagumi ini tidak baik-baik saja di sana. Pasti ada yang tidak beres, Jelita menyembunyikan sesuatu. “Sepertinya Paman terlihat tidak percaya, Kak. Hmm, bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah kak Jelita, Paman. Ya, untuk memastikan saja apakah perkataan kakak benar. Meskipun pasti semua yang kakak ucapkan itu benar tapi kan, menurutku tidak ada salahnya jika kita berkunjung. Lagipula selama ini Kakak tidak pernah mengajak Paman untuk jalan-jalan ke rumah Kakak. Bagaimana, Paman? ” ucap Bima memberikan pendapat. Pak Yuda hanya menatap putrinya seakan meminta persetujuan tentang ide Bima itu. Mendengar hal itu tentu saja Jelita panik, tapi ia berusaha menyembunyikan kepanikannya. “Ah…em, soal itu ya boleh saja sih. Iya, kapan-kapan Ayah akan aku ajak ke rumah. Iya,” ucap Jelita. Bima menatap Jelita dengan selidik. Ia menangkap ada gelagat aneh dari respon Jelita. “Nah, begitu dong, Kak. Aku juga ingin melihat-lihat seperti apa rumah seorang CEO perusahaan terkenal seperti suami Kakak,” ucap Bima. Jelita hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Bima. ‘Huh dasar Bima ini, bisa-bisanya dia punya ide berkunjung ke rumah pak Abizar segala. Mana banyak foto pak Abizar dan bu Jovanka lagi, belum foto pernikahan mereka terpajang memenuhi dinding. Duh, bisa gawat kalau begini,’ gerutunya dalam hati. “Ya sudah, ayo kita lanjut jalan lagi,” ucap jelita berusaha mengalihkan perhatian. *** Abizar terlihat masih betah di kantornya, ia benar-benar menenggelamkan diri dengan pekerjaan yang terlihat tidak ada habisnya. Bagaimana tidak, sejak pagi hingga menjelang sore, Abizar tidak pernah meninggalkan laptopnya. Ia hanya makan sedikit dan kembali bekerja. Tiba-tiba ponselnya berdering. “Halo?” sapanya. [Bos, nyonya masih berada di pantai bersama ayahnya dan seorang pemuda,] ucap seorang pria di sambungan telepon. Mendengar itu Abizar terlonjak. “Apa kau bilang, seorang pemuda?” [Iya, Bos, mereka bersama seharian. Makan besama dan saya lihat mereka sangat akrab dan sangat dekat. Apa mungkin pemuda itu adik nyonya, Bos?]” ucap orang kepercayaan Abizar. “Jangan mengada-ngada kamu! Jelita tidak punya saudara. Dia anak tunggal. Baiklah, terus awasi mereka dan laporkan jika kalian melihat ada gelagat aneh dari pemuda itu,” ucap Abizar. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang setelah mendengar laporan orang kepercayaannya itu. Abizar lalu kembali menatap layar laptopnya, namun konsentrasinya sudah terpecah. Ia merasa tidak bisa tenang lagi. “Hah… dasar! Siapa pemuda itu? apa mungkin pria yang pernah menjadi bos Jelita? Tapi dia sudah terlalu tua untuk di panggil pemuda. Apa dia orang lain? atau jangan-jangan seseorang yang dulu naksir Jelita? Teman kuliah atau semacamnya? Hah… aku bisa gila ini!” Abizar mengacak rambutnya frustrasi memikirkan semua hal itu. Ia berusaha untuk konsentrasi terhadap pekerjaannya, tapi saat ini ia benar-benar tidak bisa fokus. Abizar lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. [Halo, Pak?]” suara wanita terdengar dari seberang sana. “Jelita, kau ada di mana sekarang?” tanya Abizar. [Oh, kami ada di pantai ,Pak,] jawab Jelita dengan santai. “Ayahmu ada di sana juga, kan?” Abizar bertanya lagi. [Iya, Pak. Eh, memangnya ada apa, Pak? Bapak membutuhkan sesuatu?] tanya Jelita dengan polosnya. Dasar gadis polos, apa dia benar-benar tidak menyadari jika aku mengkhawatirkannya? Bisa-bisanya dia bertanya seakan tidak terjadi apa-apa. “Ah, tidak ada. Aku hanya mau memastikan kau dan bayimu baik-baik saja. Oh iya, kau berdua saja dengan ayahmu?” Wah, bagus Abizar, sekarang kau seperti suami posesif yang cemburuan. Cacinya dalam hati. Ia merasa aneh menanyakan hal itu kepada jelita, tapi dengan begitu ia bisa merasa tenang. [Oh, saya juga di temani oleh Bima, Pak. Dia tetangga saya di tempat saya yang lama], jawab Jelita masih dengan suara santainya. “Oh, begitu. Jelita, ini sudah semakin sore. Ada baiknya kalau kau pulang saja, tidak baik kalau berlama-lama di luar,” ucap Abizar. [Baik, Pak. Saya akan pulang kalau begitu,] jawab Jelita terdengar tidak bersemangat. Abizar merasa tidak enak mendengar suara Jelita yang terdengar tidak bersemangat. Apa dia sedih aku suruh dia pulang? Tanyanya dalam hati. “Oh, tapi kalau kau masih mau berlama-lama di situ juga tidak apa-apa. Tapi jaga dirimu dan bayimu, ya.” [tidak apa-apa, Pak. Saya akan…] “Baiklah, aku tutup teleponnya. Sampai jumpa di rumah.” Abizar menghela nafas gusar setelah menutup panggilannya. Entah kenapa ia merasa gugup setelah menelpon Jelita. “Huh… aku sudah tidak waras,” gumannya lalu kembali menatap laptopnya. Sementara itu Jelita jadi pendiam setelah menerima telepon dari Abizar. Ia memikirkan semua ucapan suaminya . Abizar memintanya untuk pulang karena khawatir dengan bayi yang ada dalam kandungannya. Kau memang bodoh Jelita, memangnya siapa yang akan mencemaskan dan memikirkan perasaanmu. Mereka hanya menginginkan bayi ini saja. Ia mengelus perutnya yang terasa sudah membesar. “Kakak kenapa. Kok melamun begitu? tadi itu telepon dari siapa?” tanya Bima yang muncul tiba-tiba. “Ah, kamu bikin kaget saja,” respon jelita. “Habisnya kakak tiba-tiba jadi banyak melamun,” ucap Bima. “Aku tidak apa-apa. Ngomong-ngomong sudah sore, kita pulang saja, yuk,” ajak Jelita. “Loh, kok tiba-tiba? ini kan baru jam 5 sore, Kak. Baru juga beberapa jam di sini,” protes Bima yang masih ingin berlama-lama di tempat itu. “Tiba-tiba apanya? Lihat tuh ayahku kasihan. Kelamaan kena angin, nanti sakit,” ucap jelita lalu melangkah menuju mobil. Bima terpaksa mengikuti Jelita dengan perasaan tidak puas sambil mendorong kursi roda ayah Jelita. Mereka pun memasuki taksi dan melaju meninggalkan pantai indah itu. Meninggalkan seorang pria berkaca mata hitam yang sejak tadi mengawasi mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN