Kurang

1089 Kata
“Bukankah itu istri Bos? Siapa pria yang bersamanya itu?” Sekretaris Abizar kemudian melangkah diam-diam menghampiri kedua orang yang ia lihat itu. Pria itu memilih duduk di tempat yang cukup dekat dengan tempat Jovanka dan David, kebetulan di sana adalah tempat favorit banyak orang, mereka lebih memilih lokasi out door di banding di dalam ruangan. Suasana yang asri dan teduh membuat pengunjung lebih menyukai tempat itu. Karena ramai, sang sekretaris lebih mudah untuk bersembunyi di tengah-tengah orang banyak. Topi yang ia pakai menutupi sebagaian wajahnya agar lebih aman. Dan benar saja, setelah ia melihat lebih jelas, ternyata kedua orang itu benar adalah Jovanka, istrinya Bosnya dan seorang pria asing. Sang sekretaris bergerak cepat memotret apa yang ia lihat sebagai tanda bukti untuk di gunakan suatu hari, karena masih penasaran dengan apa yang mereka bicarakan ia masih tetap berada di situ. Sementara itu sang pacar yang sudah gelisah menunggunya terpaksa harus menyusul dan mencarinya karena sudah lama menunggu tapi kekasihnya itu belum balik juga dari wc. *** “Jadi kali ini apa maumu?” ucap Jovanka ketus. David hanya tersenyum dan menatapnya. Jovanka semakin kesal di buatnya. “Kau tahu, pekerjaanku di butik sangat banyak dan kau malah membuang-buang waktuku di sini? Kalau tidak ada hal penting yang kau ingin sampaikan, lebih baik aku pergi saja.” Jovanka hendak beranjak dari duduknya tapi dengan cepat Davis memegang tangan Jovanka untuk menghentikannya. Jovanka dengan cepat menepis tangan David lalu duduk kembali. “Kau jangan coba-coba melewati batas…!” hardik Jovanka emosi. “Ha..ha…ha….!” David tertawa lebar membuat Jovanka semakin kesal. “Kau itu sangat lucu Jovanka, Kau berbicara mengenai melewati batasan padahal kau sendiri sudah melakukan sesuatu yang jauh melebihi batasan yang sebenarnya. Kau itu sudah tidur denganku dan jika aku tidak memakai pengaman mungkin kau akan…” David tidak melanjutkan ucapannya, ia hanya menahan senyum dan mengerling nakal kepada Jovanka, hal itu membuat Jovanka semakin emosi. “Dasar pria b******k…! Kita tidak tidur bersama karena kau yang mengelabuiku. Dan itu semua sama sekali sekali tidak ada artinya bagiku Kau tahu, aku hannya menganggapmu sebagai pria sampah pengecut yang hanya bisa memanfaatkan situasi,” cecar Jovanka geram. Mendengar hinaan itu David bukannya terpancing, ia malah tersenyum seperti biasa seakan ucapan Jovanka hanya angin lalu yang tidak berarti apa-apa. “Jovanka, aku tahu semua mengenai dirimu. Siapa suamimu sekarang, bagaimana kondisi keluargamu dan seperti apa hubunganmu dengan nenek mertuamu yang bisa di bilang tidak harmonis itu. Dan apakah kau ingin tahu apa lagi yang aku ketahui selain itu? kau mau aku beberkan di hadapanmu? Ah.. tapi sebaiknya jangan, aku tidak ingin kau cemas karena aku sangat menikmati kebersamaan ini denganmu. Aku ada firasat jika hubungan kita tidak akan berhenti sampai kapan pun.” David menatap lekat Jovanka yang sudah berubah pucat. “A…apa yang kau bicarakan itu? kau berbicara omong kosong!” ucapnya dengan suara sedikit bergetar. “Hmm, ya anggap saja aku berbicara omong kosong untuk saat ini. Tapi itu semua tidak akan menutupi kenyataan.” Jovanka menelan ludahnya dengan gugup. Ia menatap David dengan tatapan tidak percaya. Siapa sebenarnya pria ini? kenapa ia bisa sampai bertemu dengannya dan mengetahui tentang dirinya? Apa benar yang ia katakan tadi? Apa benar ia mengetahui semua mengenai dirinya? “Aku tidak pernah percaya lagi omong kosongmu, kau pasti hanya….” “Ah sayang, rupanya kau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana.” Pria bertopi itu terkejut bukan main saat seorang wanita mengejutkannya. Ia melirik ke arah Jovanka dan Davi d, benar saja keduanya menatapnya dengan curiga. Dengan cepat pria itu beranjak dari tempatnya dan menarik kekasihnya untuk menjauh dari tempat itu. Jovanka masih menatap pria bertopi itu, ia merasa pernah melihat pria itu sebelumnya. Pria itu tidak asing. Ia bahkan sempat melihat wajahnya sekilas di balik topi yang ia pakai. Matanya terbelalak setelah menyadari pria itu, ia kembali menoleh ke tempat pria tadi dan melihat sekeliling tapi orang itu sudah menghilang. “Tidak, jangan bilang kalau dia sekretaris Abizar,” gumannya mulai panik. David melihat kecemasan Jovanka. “Kau jangan cemas, apa kau mau aku membungkam pria itu?” ucap David sambil menggenggam tangan Jovanka. Jovanka mengangkat wajahnya dan menatap David tanpa kedip. “Aku akan membantumu, dia tidak akan pernah berbicara apa-apa kepada suamimu, tenang saja.” ucapnya di telinga Jovanka lalu mengedipkan mata. Jovanka lalu menatap ke arah lain, ia belum bisa menenangkan keterkejutannya. Kenapa sekretaris Abizar bisa melihat mereka di sini? *** Sekretaris itu terus berjalan dengan terburu-buru meninggalkan restoran itu. Wajahnya sangat tegang dan panik. Ia sangat yakin jika Jovanka curiga padanya, ia hanya bisa berharap Jovanka tidak mengenalnya. Kalau sampai istri bosnya itu menyadari, dirinya akan mendapat masalah besar. “Sayang, kenapa kau jalan cepat sekali. Pelan-pelan, kakiku sakit.” protes kekasihnya dengan manja. Ia gadis itu bahkan berhenti berjalan sehingga menghambat langkahnya. Pria itu menoleh ke arah kekasihnya dengan tatapan tajam. “Kau ini, bisa jalan cepat tidak? Ini masalah serius. Kau tahu, sikapmu tadi telah membuat seluruh hidupku terancam dan kau masih ingin berjalan lambat..!?” hardiknya tiba-tiba penuh emosi. Tentu saja sang kekasih yang tidak tahu apa-apa syok mendengar kekasih yang ia kenal sangat penyayang itu menggertaknya. Air matanya luruh seketika. “A..apa kau baru saja memarahiku?” ucapnya. “Yah, aku marah. Kau seharusnya tidak menghancurkan penyamaranku dan ketahuan. Hah… aku akan mendapat masalah besar. Ayo cepat jalan.” Pria itu menarik tangan kekasihnya, memaksanya untuk masuk ke dalam mobil. *** Jelita berjalan menyusuri pantai pasir putih yang indah. Ia berjalan bersama Bima yang mendorong kursi roda. Sedangkan pak Yuda hanya tersenyum menatap hamparan laut yang membentang indah di hadapannya. Mereka bertiga terlihat sangat menikmati pemandangan itu. “Kak, kau tahu, aku merasa sangat senang sekarang,” ucap Bima sambil terus mendorong kursi roda. Jelita menoleh ke arahnya. “Iya, aku juga. Aku merasa bebas tanpa beban,” ujar Jelita dengan senyum yang mengembang. Ia kemudian menoleh ke arah ayahnya. “Bagaimana dengan ayah, apakah ayah juga merasa senang sekarang?” tanya Jelita. Pak Yuda menoleh ke arah keduanya. Ia tersenyum “Tentu saja ayah senang, Nak. Jalan-jalan bersamamu di tempat ini membuat perasaan Ayah sangat tenang dan bahagia,” jawab pak Yuda. “Ah syukurlah kalau Ayah menikmatinya, kalau begitu kita akan sering-sering melakukan ini. Pokoknya aku ingin membuat Ayah bahagia setiap hari,” ujar Jelita dengan penuh semangat. “Iya, itu ide yang bagus. Tapi Nak, apakah kau tidak merasa kurang?” tanya pak Yuda tiba-tiba. “Kurang, maksud ayah?” tanya Jelita bingung. “Maksud Ayah, apakah kau tidak merasa kesenanganku sekarang ini kurang?” ucap pak Yuda memperjelas maksudnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN