Abizar tampak berpikir. “Ya sudah, bibi boleh pergi,” ucap Abizar. Ia lalu masuk ke kamarnya mengambil dokumen itu lalu keluar menuju mobilnya dan melaju.
Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, beberapa orang di dalamnya sedang duduk dan mendiskusikan sesuatu. Mereka mengadakan meeting.
“Jadi, kita akan meminimalisir resiko dengan memaksimalkan potensi produk kita. Akan ada banyak saingan yang nantinya berusaha mencoba merebut pasar, tapi jika beberapa metode tadi kita gunakan, saya rasa tidak akan ada kendala yang berarti. Saya mengatakan ini dengan penuh keyakinan, karena jika melihat langkah yang sudah kita gunakan 3 tahun terakhir ini, produk kita selalu menerima respon positif dari semua kalangan konsumen. Jadi untuk tahun ini pun, saya yakin tidak akan ada perubahan. Kita akan mendapatkan keuntungan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kita berharap saja semua akan berjalan dengan baik, ya tentunya dengan usaha maksimal.” Abizar menuturkan pendapatnya dengan penuh wibawa di depan semua kepala staf perusahaan dan investor yang bekerja sama dengan perusahaan.
Semua terlihat mengangguk setuju, hanya ada satu orang yang terlihat hanya menatap kertas yang ada di depannya. Berbeda dengan yang lainnya, orang itu tampaknya tidak begitu tertarik dengan apa yang Abizar utarakan.
Setelah meeting selesai, Abizar langsung menuju ke ruangannya. Ia kembali sibuk dengan laptopnya, memeriksa file yang harus segera di persiapkan.
Pintu di ketuk sebelum sekretarisnya masuk. “Pak, berkas kemarin Bapak belum tandatangani, “ ucap pria itu melaporkan.
“Oh, iya aku lupa. Letakkan saja di meja. Kau boleh pergi,” ucap Abizar lalu kembali fokus dengan laptopnya.
Tapi anehnya, sekretaris ini tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya berdiri di hadapan Abizar seakan menunggu sesuatu.
Abizar mengangkat kepalanya dan menatap pria yang ada di hadapannya itu.
“Kenapa masih di situ?” tanyanya.
“Tanda tangannya, Pak. saya butuhnya sekarang juga, berkas ini akan segera di kirim, Pak.” jawab sekretarisnya sambil nyengir.
Abizar menghela nafas lalu meraih map kuning yang ada di hadapannya itu.
“Yang bos sebenarnya siapa di sini, aku apa kamu?” gumannya sambil menandatangani berkas yang di maksud sekretarisnya. Sang sekretaris hanya tersenyum mendengar ocehan bosnya itu.
“Ini, usahakan proyek ini selesai tepat waktu,” ucap Abizar.
“Baik, Pak. Lagipula yang lambat tanda tangan kan, Bapak,” guman sekretarisnya. Abizar meliriknya dengan tajam, ia langsung membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan.
“Hah, benar-benar. Nasibku mungkin lagi apes. Tidak di rumah, tidak di kantor. Semuanya seakan tidak ada yang menghormatiku lagi.” gerutunya sambil mengembuskan nafas kasar.
***
“Iya, proyek baru yang sedang mereka rencanakan adalah mengoptimalkan semua media. Iya, Pak. Mereka masih menggunakan metode lama yang sedikit di modifikasi. Ah, itu gampang. Tapi saya minta Bapak bersabar dan menunggu hasilnya. Iya, Pak. saya akan lebih hati-hati.”
Seorang pria terlihat sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Ia sedang berada di toilet dan secara diam-diam menelpon. Setelah menutup sambungan teleponnya, ia menyeringai lalu keluar dari ruangan itu.
***
Abizar masih menatap layar yang menyala di hadapannya itu. Tapi tiba-tiba ia melirik ponselnya.
Di raihnya ponsel itu dan menekan sebuah kontak.
“Apa semuanya baik-baik saja?”
[Iya Bos, nyonya baru akan berangkat. Kami masih terus mengawasi nyonya.”] jawab seseorang di telepon.
“Bagus, terus awasi jangan sampai terjadi apa-apa,” perintah Abizar.
[“Siapa, Bos,”]
Abizar mematikan sambungan teleponnya lalu menghela nafas dalam.
***
“Yuli, kemari sebentar,” ucap Jovanka lewat telepon.
Tidak lama, seorang gadis mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruang kerja Jovanka.
“Iya Bu?” tanya gadis itu.
Jovanka mengangkat wajahnya dan menatap karyawannya itu.
“Permintaan klien ternyata bukan dari satu sumber saja, mereka memesan secara berkelompok. Ada beberapa lembar yang harus berubah warna, sayangnya mereka memutuskan itu seceta sepihak. Tapi kita harus yetap profesional. Data yang masuk ke pihak konveksi belum di revisi. Segera kamu lakukan pendataan ulang dan lakukan revisi secepatnya. Hah, tidak ku sangka mereka baru memberitahu pada saat-saat terakhir. Untungnya mereka hanya minta perubahan warna saja. Kita bisa mengatasi hal ini. Tapi pastikan lain kali, jika menerima pesanan, kau harus menanyakan secara detail kemauan mereka, jadi kalau ada masalah seperti ini, kita bisa melimpahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada klien itu sendiri,” ucap Jovanka sambil memijat kepalanya yang terasa sedikit pusing.
“Baik, Bu. Akan segera saya siapkan,” ucap gadis itu lalu beranjak pergi.
Jovanka terlihat masih memijat kepalanya sendiri saat ponselnya berdering. Ia sangat berharap jika Abizar yang menelponnya. Namun, lagi-lagi ia membuang nafas kesal karena masalah hidupnya lah yang ternyata mengganggunya.
Panggilan pertama ia abaikan, tapi ponselnya terus saja berdering membuat konsentrasinya buyar. Padahal ia harusnya menyelesaikan desain terbarunya untuk persiapan fashion week yang akan di gelar sebentar lagi.
“Lagi-lagi dia, dasar pengganggu,” gerutunya kesal.
“Apa?!” gertaknya kesal.
[“Wah, kau semakin hari semakin galak, sayang,”] balas suara pria di sambungan telepon.
“Kiat kan sudah sepakat, kalau aku sedang kerja tidak ada saling mengganggu. Kau memang pria b******k yang kata-katanya tidak bisa di pegang,” caci Jovanka emosi. Sampai kapan ia akan di terror oleh orang ini.
[“Ya, mau bagaimana lagi, aku sudah sangat merindukanmu. Kau tahu kan kalau aku selalu mendapatkan semua yang ku inginkan?”] ucap pria itu.
“Oya? tapi sayang kali ini kau tidak akan mendapatkan apa-apa,” balas Jovanka lalu mematikan sambungan teleponnya.
“Sial..!! kapan aku bisa melenyapkan orang itu. Benar-benar membuatku frustrasi!” gerutunya penuh emosi.
“Ting…”
Sebuah pesan masuk, ia sudah yakin pesan itu dari pria b******k itu. Jovanka lalu membacanya.
(Temui aku malam ini di restoran Mutiara, jangan sampai membuatku menunggu ya? sampai jumpa, sayang.)
Jovanka menggenggam dengan erat ponsel yang ada di tangannya itu, wajahnya terlihat sangat geram, seakan ingin menghancurkan apa pun yang di pegangnya agar tidak ada lagi yang menggangu.
Setelah pikirannya mulai sedikit tenang, Jovanka kembali melanjutkan gambar desainnya, tapi bayangan pria itu membuatnya hilang fokus.
Jovanka menghela nafas, ia memikirkan sesuatu. Ia memikirkan bagaimana ia bisa segera menyingkirkan pria itu. Sampai saat ini Jovanka belum mengetahui apa sebenarnya motif David mengganggunya. Ia benar-benar tidak pernah melihat pria itu sebelumnya, tapi David selalu mengatakan jika ia suatu saat nanti ia akan menyadari semuanya.
“Aku harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya,” gumannya penuh kepastian.
***
Jovanka terpaksa harus memenuhi kemauan David, atau foto mereka akan sampai di tangan Abizar. Setelah sampai di tempat yang ia tuju, Jovanka berjalan masuk dan langsung menemui David.
Sementara itu terlihat pria yang mirip sekretaris Abizar sedang makan malam bersama pasangannya. Mereka tertawa dengan penuh cinta.
“Sayang. Bagiamana kerjaanmu di kantor, lancar-lancar saja, kan?” tanya wanita yang ada di hadapannya.
“Semuanya berjalan lancar sih, sayang. Tapi akhir-akhir ini perusahaan banyak menerima proyek jadi maaf kalau aku jarang mengajakmu makan malam seperti ini,” ucapnya penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa dong sayang, yang penting kau itu tetap bekerja dengan baik agar kita bisa menikah secepatnya. Kau tahu kan, ibu sudah sangat ingin kita menikah.”
Pria itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecut mendengar ucapan kekasihnya.
“Sayang, aku ke toilet dulu, ya?” ucap pria itu.
Kekasihnya mengangguk mengizinkan. Sekretaris Abizar itu pun melangkah ke arah toilet yang berada di bagian luar restoran. Ia berjalan keluar menyusuri taman indah yang juga merupakan tempat yang sangat romantis untuk makan malam. Cahaya lapu warna warni dengan bulan temaram menyelimuti, membuat suasana semakin indah.
Pria itu terus berjalan menuju Toilet yang kebetulan terpisah dengan bangunan restoran. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sangat ia kenali duduk bersama seorang.