Menyuapi

1163 Kata
Jelita menatap Abizar dengan tatapan ragu, ia senang sekali Abizar berkata seperti itu padanya. Suami yang ia cintai memintanya dengan manja untuk di suapi olehnya. “Kenapa diam saja, ayo suapi aku!” ucap Abizar terlihat bersungguh-sungguh. “Apa Bapak yakin ingin di suapi oleh saya?” tanya Jelita tidak yakin dengan sikap Abizar yang tiba-tiba aneh itu. “Kenapa tidak? Apakah aku terlihat sedang bercanda sekarang? Bukankah aku tidak pernah bercanda denganmu sebelumnya? jadi kenapa kau menganggap ucapanku itu adalah candaan sekarang? Cepat, lakukan saja, kau mau membantah suamimu?” ucap Abizar. Kali ini Jelita pun merasa yakin. “Duh, kenapa Bapak tiba-tiba manja begini sih?” guman Jelita sambil mulai menyuapi Abizar. Sesuai perkataannya, Abizar memang benar-benar makan dengan lahap karena di suapi oleh Jelita. Jelita hanya tersenyum melihat Abizar terlihat begitu menikmati makanannya. Hatinya senang. “Kau tahu Jelita, aku baru kali ini menikmati makanan,” ucap Abizar sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. “Benarkan, Pak? kenapa bisa begitu, bukankah ibu Jova selalu menyajikan makanan enak untuk Bapak?” tanya Jelita bingung. Ia kembali mendekatkan sendok yang berisi makanan ke arah mulut Abizar membuat Abizar membuka mulutnya. “Itu memang benar, tapi Jovanka tidak pernah menemaniku makan sampai makananku habis. Kalau kami makan berdua, makanannya duluan yang habis. Dia kalau makan sedikit, katanya menjaga berat badan. Kalau sudah selesai makan, ia selalu mengangkat telepon dan meninggalkanku sendiri di meja makan. Jadinya aku tidak menikmati makanan lagi. Dan kau tahu, itu berlangsung selama bertahun-tahun.” Wajah Abizar berubah sendu, ia terlihat sedih menceritakan sikap Jovanka terhadapnya. “Tapi meskipun begitu, Bapak seharusnya bersyukur memiliki bu Jovanka yang Bapak sangat cintai. Bapak benar-benar sangat mencitai Bu Jovanka sampai rela menikah lagi untuk mendapatkan keturunan karena permintaanya. Dan saya yakin, bu Jovanka juga sangat mencintai Bapak.” Hanya itu yang bisa Jelita ucapkan. Meskipun suara hatinya tidak seperti yang ia ucapkan. “Iya, kau benar. Aku sangat mencintainya sampai-sampai sepertinya aku tidak akan bisa hidup tanpanya,” ucap Abizar. Jelita hanya tersenyum getir menahan perasaan hatinya yang sakit. “Iya, Pak. Makanya itu, Bapak tidak boleh membuat bu Jovanka marah-marah dan kesal lagi. Kalau memang Ibu terlihat egois itu karena memang keinginannya hatinya yang sangat kuat karena Ibu benar-benar ingin hidupnya dengan Bapak lebih bahagia.” tutur jelita. “Perkataanmu mungkin ada benarnya juga, Jovanka selama ini menderita karena berbagai macam sindiran dari orang-orang tentang kekurangannya, meskipun aku selalu berusaha meyakinkannya untuk tidak peduli. Tapi tetap saja, omongan orang-orang itu seperti duri tajam yang sedikit demi sedikit menghancurkan hatinya.” Ucap Abizar. “Tidak banyak wanita yang memiliki keistimewaan untuk menjadi wanita sempurna, pak. Dan bu Jovanka adalah salah satu wanita yang tidak beruntung itu. Saya sangat mengerti perasaannya,” ucap Jelita sambil tersenyum. “Iya, terima kasih karena kau telah membantu kami. Aku juga ingin meminta maaf atas nama Jovanka dengan sikap dinginnya selama ini padamu,” ucap Abizar. “Iya, pak. Tidak apa-apa. Saya bisa mengerti. Ayo Bapak habiskan makanannya, ya?” Abizar mengangguk. Jelita ingin menyuapi Abizar lagi, tapi pria itu menahan gerakannya. “Sudah, tidak perlu menyuapiku lagi. Biar aku saja yang makan sendiri,” ucap Abizar. “Oh, baik, Pak.” Jelita memberikan sendok yang ada di tangannya kepada Abizar. Abizar melanjutkan makannya hingga habis. “Terim kasih, Jelita. Kau telah membuatku makan dengan lahap karena menemaniku di sini,” ucap Abizar lalu meminum segelas air putih. “Sama-sama, Pak. Saya juga senang melihat Bapak bersemangat lagi seperti biasa. Kalau begitu, saya permisi kembali ke kamar, Pak,” ucap Jelita. Abizar mengangguk. Jelita beranjak dari tempatnya dan keluar dari ruangan itu. Dia berjalan sambil termenung, memikirkan apa yang Abizar ucapkan tadi. “ck.. apa yang kau pikirkan Jelita? Mencintai pria yang sangat mencintai istrinya? kau sudah gila,” cibir hatinya. Jelita terus melangkah masuk ke dalam kamarnya. Bi sumi yang sejak tadi melihat dan mendengar percakapan Abizar dengannya, hanya bisa menatap Jelita dengan tatapan kasihan. Ia tahu kalau Jelita memiliki perasan kepada Abizar, sehingga ia tahu betapa sedih perasaan Jelita saat ini. Jelita menuang segelas air putih ke dalam gelas dan meminumnya sampai habis. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata, hingga ia benar-benar tertidur. Jovanka membuka pintu rumah dan masuk ke dalam. Suasana rumah sudah lengang. Ia berjalan menuju kamarnya, tapi ia terlihat berpikir sejenak lalu melanjutkan langkahnya. Ia membuka pintu kamar dan menatap ke arah tempat tidur, Jovanka menghela nafas lega. Hanya ada Jelita di kasur itu. Ia menatap sekeliling tapi yang ia cari tidak ada di dalam sana. Jovanka tersenyum, menutup kembali pintu dan melanjutkan langkahnya. Jovanka melihat suaminya tertidur pulas di atas kasur di bawah selimut. Keningnya berkerut. “Sejak kapan mas Abizar tidur pakai selimut begini?” gumannya sambil membenarkan selimut suaminya dan menatapnya sambil tersenyum. “Maafkan aku ya, mas. Aku tidak berdaya menghadapi David yang selalu membuatku susah setiap hari. Aku berjanji, setelah aku singkirkan dia, aku akan seperti dulu lagi. Aku janji, Mas. Jadi tolong, bersabarlah sedikit lagi,” guman Jovanka sambil mencium kening suaminya. Pagi-pagi sekali, Jelita sudah rapi. Ia berencana mengunjungi ayahnya lagi, dan kali ini mereka akan jalan-jalan. Seperti biasa, ia menunggu Abizar dan Jovanka berangkat kerja dulu. Mobil Jovanka sudah berangkat dan kini ia menunggu mobil Abizar yang meninggalkan rumah. Jelita duduk di dekat jendela kamarnya memastikan kepergian Abizar. Setelah lama menunggu, akhirnya mobil Abizar meninggalkan rumah. “Oke, sekarang giliranku untuk pergi. Aku akan pulang sebelum malam, Jadi mereka tidak akan sadar aku pergi atau tidak. Baik-baik ya di dalam, Nak. kita akan pergi jalan-jalan bersama kakek. Kita kan bersenang-senang. hi..hi…” Jelita mengelus lembut perutnya sambil tersenyum. “Bi, Jelita berangkat dulu, ya,” pamit Jelita kepada pelayannya. “Iya, Nyonya. Hati-hati loh, ya?” ucap bi Sumi. “Iya, Bi. Assalamu alaikum.” “Waalaikum salam…” Jelita masuk ke dalam taksi dan melaju. Abizar menghentikan mobilnya saat menyadari dokumen pentingnya tertinggal di rumah. Bagaimana bisa dokumen yang harus di tandatangani oleh klien hari ini kelupaan. Ia pun dengan cepat memutar balik mobilnya. Untungnya ia masih belum terlalu jauh, jadi bisa dengan cepat sampai di rumah. Abizar melajukan mobilnya dengan sedikit cepat, meeting di jadwalkan jam 9 pagi sehingga ia harus bergegas. Tidak beberapa lama, ia memasuki pekarangan rumahnya yang luas. Tapi ia sedikit terkejut karena berpapasan dengan sebuah taksi yang akan keluar. Ia tidak sempat melihat siapa yang berada dalam taksi itu karena kaca mobil yang gelap. “Jangan-jangan Jelita keluar lagi,” gumannya. Abizar dengan cepat keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah. “Loh, Tuan pulang?” sapa bi Sumi sedikit heran. “Oya, bi. Siapa yang di bawa taksi tadi?” tanya Abizar. “Oh, nyonya Jelita. Katanya mau ke rumah ayahnya,” jawab bi Sumi. “Ke rumah ayahnya lagi? kemarin kan sudah datang. Bibi tahu ada hal apa jelita datang ke sana lagi? apa ayahnya Jelita sakit?” Abizar bertanya lagi. “Katanya sih Nyonya akan mengajak ayahnya jalan-jalan. Tapi entah, saya juga tidak yakin, Tuan,” jawab bi Sumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN