Setelah Abizar keluar, Jelita terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Ia menyesal telah mengusir suaminya, menyesal telah membuat Abizar bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti itu tanpa alasan.
“Maafkan aku, pak. Aku tidak akan mengganggumu lagi sampai anak ini lahir dan kita berpisah,” guman Jelita di sela isak tangisnya.
Setelah perasannya kembali tenang, Jelita masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat ia keluar dengan wajah dan tubuh segar. Ia berjalan ke arah lemari dan memilih pakaian yang akan di pakainya. Mini dres putih dengan blazer pink di pilihnya. Karena perutnya masih belum tampak, Jelita masih bisa dengan bebas mengenakan pakaiannya.
Jelita terlihat sangat manis dan pastinya cantik, ia mengenakan sneaker putih dan mengambil tas lalu keluar dari kamar.
Abizar yang ternyata duduk di ruang keluarga, melihat Jelita melangkah menuju pintu utama. Abizar dengan cepat menyusul Jelita keluar.
“Jelita, kau mau kemana ?” ucapnya sambil menahan lengan Jelita.
“Saya mau keluar ketemu teman, pak.” jawab Jelita.
“Kau ingin keluar dengan kondisi sedang hamil seperti ini? bagaimana kalau ada apa-apa?” ucap Abizar berusaha mencegah Jelita pergi.
“Kalau itu yang Bapak cemaskan, saya janji tidak akan terjadi apa-apa dengan anak ini. Saya akan menjaganya, bapak jangan khawatir,” jawab Jelita. Ia hanya ingin keluar menghilangkan stress.
“Kau naik apa? kalau begitu biar aku saja yang mengantarmu,” ucap Abizar.
“Tidak perlu, Pak. Saya bisa naik taksi saja. Lagipula rumah ayah tidak terlalu jauh, jadi tidak akan ada masalah. Kalau begitu saya pergi dulu,” pamit Jelita kemudian masuk ke dalam taksi yang sejak tadi sudah menunggu.
Abizar hanya bisa menatap kepergian Jelita dengan perasaan yang gamang. Abizar menghela nafas panjang dan masuk kembali ke dalam rumah.
Di dalam kamar Abizar hanya duduk terdiam. Ia masih memikirkan kenapa Jelita bisa berubah sikap. Hari ini ia sengaja tidak masuk kantor karena ingin bertemu dengan Jelita dan berbincang mengenai kesehatan anak yang ia kandung. Tapi mendapatkan respon seperti itu,entah kenapa Abizar seakan tidak terima. Ia merasa sedih.
‘Mungkin hal itu hanya hormonal kandungannya,” gumannya berusaha meyakinkan diri.
Ia pun membuka laptop dan memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di rumah.
Hari sudah sore, Abizar melihat jam dinding ternyata sudah menunjukkan jam 5 sore,
“Kenapa Jelita belum pulang juga? apa aku telpon saja ya? tapi dia ada di rumah ayahnya, takutnya nanti ayah Jelita berpikir aku suami posesif atau apa.” Abizar pun mengurungkan niatnya untuk menghubungi Jelita.
Ponselnya berdering, ternyata panggilan dari Jovanka.
“Halo sayang? kau pulang sore ini kan?” tanya Abizar tampak bersemangat mendengar suara Jovanka di telepon.
“Maaf sayang, butik hari ini banyak pelanggan. Aku benar-benar sibuk minggu ini, hari ini pun aku akan pulang larut lagi,” ucap Jovanka terdengar menyesal. Abizar menghela nafas panjang.
“Jangan terlalu memaksakan dirimu, serahkan sebagian pekerjaanmu kepada karyawan. Kau tidak perlu bekerja sekeras itu,” ucap Abizar, ucapan ini bukan kali pertama Abizar utarakan. Ia bahkan selalu mengingatkan Jovanka kalau ia tidak perlu terlalu keras kepada dirinya sendiri. Tapi Jovanka yang keras kepala, tidak pernah mau mendengarkan dirinya.
“Iya, sayang. Kita bicarakan nanti saja ya, aku tutup dulu teleponnya. Jangan lupa makan. Da…” ucap Jovanka Abizar menutup sambungan teleponnya. Biasanya Jovanka tidak pernah mau mendengarkan ucapan Abizar. Abizar tampak berpikir sejenak lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Tok..tok..” terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk,” pintu terbuka dan bi Sumi masuk ke dalam.
“Ini tuan, sejak siang tadi Tuan berdiam diri dalam kamar padahal makan siang sudah tersedia di meja. Saya tunggu Tuan untuk turun ternyata sampai sekarang Tuan masih ada di dalam kamar. Makanya saya bawakan makan ini, saya mohon tuan makan, ya,” ucap pelayan setianya itu.
Bi Sumi sudah dianggap seperti orang tua oleh Abizar. Dari kecil sampai sekarang, bi Sumi lah yang merawatnya. Saat kedua orang tua Abizar meninggal, hanya bi Sumi yang selalu ada di sampingnya. Kakek dan neneknya memberikan kepercayaan kepada pelayan pribadi keluarganya itu untuk mengurus Abizar kecil yang sangat tidak patuh dan pembangkang karena mereka sangat sibuk. Hingga sekarang, bi Sumi masih setia melayani Abizar.
“Letakkan saja di meja, Bi. Nanti aku makan,” ucap Abizar lalu kembali menatap fokus layar laptop di depannya.
Bi Sumi pun meletakkan makanan yang di bawanya dan menyajikan dengan rapi. Bi Sumi berjalan ke arah pintu tapi sebelum ia melangkah keluar, pelayan itu menoleh ke arah Abizar.
“Tuan, jika Bu Jovanka belum pulang, menurut saya, alangkah baiknya jika Tuan menjemput nyonya Jelita untuk menemani Tuan di rumah,” ucap bi Sumi lalu meninggalkan tempat itu.
Abizar mengangkat kepalnya, ia terdiam memikirkan ucapan pelayannya itu.
Apakah jika aku menjemputnya di rumah ayahnya, Jelita akan ikut, ya? bagiamana kalau dia menolak lagi bertemu denganku. Pikirnya. Abizar menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar.
***
Jelita keluar dari taksi dan berjalan masuk ke dalam rumah. Jam 6 sore ia kembali dari rumah ayahnya. Ia berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalam.
Ia menghempaskan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata. Seharian bersama ayahnya ternyata membuatnya terhibur dan bahagia. Andai ia bisa tinggal di rumah ayahnya saja.
Ia bangkit dan melihat meja kecil di samping ranjang, ternyata air minumnya habis, padahal ia ingin langsung tidur saja. Ia tidak bisa tanpa air minum, karena semenjak hamil, kerap merasakan haus.
Jelita bangkit dan keluar kamar, berjalan menuju dapur dan mulai mengisi botol minumnya dengan air. Setelah botolnya terisi penuh, ia kembali berjalan ke kamarnya. Tapi saat hendak berbelok masuk ke arah kamar, ia tanpa sengaja melihat Abizar tertidur di meja kerjanya di dalam kamar.
Ia berjalan perlahan menghampiri kamar Abizar dan melihat suaminya itu dari ambang pintu. Ia melihat sekeliling ternyata Jovanka tidak ada di dalam sana. Ada perasaan sedih yang menjalar di hatinya, ia menyesal karena dirinya tidak bisa menjadi istri sepenuhnya untuk Abizar padahal ia sangat ingin melakukannya.
Jelita melihat makanan yang tersaji di atas meja tapi sama sekali belum di sentuh. Abizar terlihat kurang perhatian padahal ia memiliki istri bahkan ada dua. Jelita merasa kasihan pada Abizar.
Jelita menghela nafas dalam dan menguatkan hatinya untuk masuk ke dalam. Ia melangkah menghampiri Abizar yang tertidur.
“Pak, sepertinya Bapak melewatkan makan siang lagi. Pak, tolong bangun dulu dan makan,” ucap Jelita sambil mengguncang halus bahu suaminya itu.
Abizar terbangun, dan terkejut melihat Jelita tida-tiba ada di hadapannya. Abizar mengucek matanya untuk melihat lebih jelas Jelita.
“Kau sudah pulang? Bagaimana kabar ayahmu?” ucap Abizar.
“Iya, Pak. Ayah sehat. Kenapa Bapak tidak memakan makanan ini? pasti Bapak tidak makan siang lagi kan?”
Abizar menatap Jelita dan tersenyum, ia pun mengangguk.
“Sudah ku duga, lagian kenapa sih Bapak itu selalu saja memaksakan diri untuk bekerja bahkan sampai lupa makan. Bagaimana kalau Bapak sakit? siapa yang akan mencari uang?” Abizar hanya tersenyum mendengar omelan Jelita.
“Jangan hanya tersenyum begitu, pokoknya Bapak harus makan dan habiskan ini,” tuntut Jelita sambil meletakkan makanan itu di hadapan Abizar.
Abizar hanya memandangi makanan itu tanpa menyentuhnya.
“Makan, Pak!” ucap jelita mulai gregetan.
“Aku mau makan tapi kau harus menyuapiku.”