Ketakutan

1150 Kata
Jelita keluar dari taksi dan masuk ke pekarangan rumah. Ia berjalan perlahan menuju rumah dan masuk ke dalam. Ia menatap jam tangan di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan jam 11 siang. Jelita yakin, Abizar dan Jovanka sudah tidak berada di rumah lagi. Akan tetapi sesampainya di dalam rumah, ia terkejut melihat Jovanka yang sedang duduk di ruang tengah. “Oh, Bu Jova, Ibu gak ke butik?” sapa Jelita dengan senyumnya seperti biasa. Jovanka menatap Jelita dengan tajam. “Apa kau yang meminta suamiku untuk datang mengunjungimu? Kau sudah berani memiliki niat untuk menggoda suamiku, hah?!!” cecar Jovanka emosi. “Ah, ti..tidak Bu. Saya sama sekali tidak menghubungi pak Abizar,” jawab Jelita ketakutan. Ia baru kali ini melihat kemarahan di wajah cantik Jovanka. Selama ini Jovanka selalu bersikap baik padanya, meskipun akhir -akhir ini sikap madunya itu sudah berubah dingin terhadapnya. Namun sekarang, Jelita benar-benar merasa seperi terancam melihat wajah bengis yang menakutkan itu. Mata tajam yang melotot itu benar-benar membuatnya takut. Tapi Jelita berusaha bersikap normal. Jovanka melangkah perlahan menghampiri Jovanka, menatap langsung ke matanya dengan penuh kebencian. “Kau ingat ini baik-baik, aku tidak akan membiarkan siapa pun yang berani merebut Abizar dariku. Jangankan dirimu yang hanya aku anggap debu yang menempel, kau hanya sorang perempuan miskin biasa, aku sudah menyingkirkan saingan yang bahkan lebih berat,” ucap Jovanka lalu melangkah meninggalkan Jelita yang terdiam bingung. Tapi wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jelita. “Oh iya, satu hal lagi, kesepakatan kita tetap berjalan seperti biasa. Kau melahirkan bayi itu lalu pergi, jadi jangan banyak pikiran,” imbuhnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan Jelita. ‘Apa maksud perkataan itu, menyingkirkan saingan yang lebih berat? Saingan apa yang ia maksud?’ Gumannya sambil terus memikirkan ucapan yang baru saja ia dengar. Beberapa hari setelah Jovanka mengancamnya, Jelita memutuskan untuk tinggal di dalam kamar. Memastikan ia tidak pernah bertemu atau berpapasan dengan Jovanka atau pun Abizar. Ia baru keluar kamar jika keduanya sudah tidak ada di rumah. Jelita benar-benar merasa takut setelah mendengar ucapan Jovanka. Entah kenapa Jelita merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Jovanka. Ia bahkan berencana untuk meninggalkan rumah itu dan tinggal bersama ayahnya. Selama itu pula Abizar ataupun Jovanka tidak pernah lagi menyapa ataupun bertemu dengannya. Akan tetapi, ancaman Jovanka waktu itu tidak bisa hilang begitu saja dari pikirannya. Seperti biasa, setelah mandi dan sarapan, ia akan menunggu kedua suami istri itu keluar rumah baru ia keluar untuk menghirup udara segar di taman. Jelita sudah beberapa kali bolak-balik ke jendela melihat apakah mereka sudah pergi atau belum. “Duh, kenapa mobil Pak Abizar belum berangkat juga? padahal mobil Bu Jovanka sudah lebih dulu pergi? Kalau begini aku tidak bisa keluar kamar,” gerutunya sambil terus mengintip di balik jendela kamarnya. Lama Jelita menunggu, namun mobil Abizar tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. “Loh, kenapa belum berangkat juga, sih? Berarti aku harus tinggal seharian di kamar,” gumannya sedih. Jelita duduk di sofa dan menggigit buah apel sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Beberapa kali ia menghela nafas dalam. Tiba-tiba pintu di ketuk. “Siapa?” tanyanya waspada, ia takut sekali jangan-jangan Jovanka datang lagi untuk mengancamnya. “Ini saya, tolong buka pintunya.” Jelita terkejut mendengar suara Abizar. ‘Duh, gawat kenapa pak Abizar harus datang ke kamar ini ? kalau bu Jovanka tahu aku berhubungan lagi dengan suaminya bagiamana?’ pikirnya gelisah. “Jelita, kau baik-baik saja di dalam kan? Tolong buka pintunya, ada sesuatu yang harus aku sampaikan.” Kembali Abizar bersuara. Jelita pun melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya. Setelah pintu terbuka, Abizar langsung masuk tanpa di persilakan. “Pak, tolong jangan bersikap seperti ini. Sebaiknya Bapak keluar sebelum bu Jovanka melihat kita berdua di dalam kamar,” ucap Jelita dengan wajah yang gelisah. Abizar yang duduk di sofa menatapnya bingung. ‘Kau ada apa sebenarnya? Justru hal inilah yang akan aku bicarakan denganmu. Kenapa beberapa hari ini kau hanya berdiam diri di dalam kamar? bukankah kau sendiri yang bilang akan merasa stress kalau berada di dalam kamar terus?” tanya Abizar bingung. “Saya tidak apa-apa, Pak. Entah kenapa saya sekarang hanya suka di dalam kamar. Tidak ada masalah, bayi di perut saya juga baik-baik saja. Bi Sumi menemani saya cek kandungan minggu lalu dan hasilnya baik-baik saja, jadi Bapak tidak perlu khawatir,” terang Jelita, berharap dengan begitu Abizar akan keluar secepatnya dari kamar. “Oh, syukurlah kalau begitu. Tapi tetap saja aku merasa kalau sikapmu aneh sekali. Kau bertingkah seakan menghindariku, tidak seperti biasanya. Lihatlah, aku duduk di sofa dan kau hanya berdiri di sana seakan kau sangat takut berada di sekitarku. Kemarilah, duduk di sini,” ucap Abizar. Jelita panik, ia dengan cepat menggeleng dan tanpa sadar mundur beberapa langkah. Abizar yang melihat tingkah aneh Jelita bertambah bingung. Ia lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Jelita. Tentu saja Jelita semakin panik. “A..apa yang bapak lakukan? Kenapa ke mari. Saya tidak apa-apa, saya baik-baik saja. Tolong, tidak perlu terlalu mencemaskan saya,” ucapnya gagap karena ketakutan, Jelita terus mundur setiap kali Abizar melangkah mendekatinya, seakan istrinya sangat takut jika ia menghampirinya. Abizar akhirnya menyadari ketakutan itu. “Jelita, katakan padaku, apa yang telah terjadi? Kenapa kau terlihat ketakutan seperti ini? kau bahkan tidak ingin aku berada dekat dengamu lagi, kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini?” tanya Abizar, ia melangkah menghampiri Jelita yang sudah tersudut tak mampu lagi bergerak. Mengurungnya dengan ke dua lengan kekarnya. Jelita menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. “Pak, aku mohon. Mulai sekarang Bapak jangan pernah menemui saya lagi di sini atau di manapun. Saya hanya ingin melahirkan bayi ini dan pergi dari sini. Saya janji akan melahirkan bayi ini ini dengan baik dan menyerahkan kepada kalian. Tapi tolong Bapak jangan pernah lagi mengunjungi saya seperti ini,” pinta Jelita dengan derai air mata. Abizar terkejut, ia tidak mengerti kenapa Jelita bisa mengatakan hal itu. Padahal sebelumnya istrinya ini baik-baik saja, Jelita tidak pernah bersikap aneh seperti itu sebelumnya. Jelita tidak bisa jauh darinya dan selalu ingin melihatnya bahkan tidur bersamanya. Memang beberapa hari ini ia berada di luar kota untuk menyelesaikan proyek sehingga ia tidak pernah sempat menelpon dan menemuinya lagi. Abizar bingung saat tiba di rumah, Jelita tidak pernah keluar kamar lagi. Ia bahkan tidak pernah bertemu dengan istrinya itu. Abizar sempat menanyakan hal itu kepada Jovanka tapi istrinya itu tidak peduli. Ia menjadi penasaran dan akhirnya datang menemui Jelita untuk memastikan sendiri. Sekarang, setelah ia melihat Jelita menangis di hadapannya. Memintanya untuk tidak mengunjunginya lagi, membuatnya sedikit kesal dan bingung. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu Jelita? Apa kau marah karena aku menolak sarapan denganmu waktu itu? aku kan sudah minta maaf dan kau bilang tidak apa-apa. ” Jelita tidak menjawab, ia hanya menggeleng dan terus menangis. “Bukan itu masalahnya, Pak. Tolong tinggalkan saja kamar ini, Pak, saya mohon,” pinta Jelita sambil terus menangis. Karena tidak tega dan kasihan melihat Jelita menangis, Akhirnya Abizar hanya bisa meninggalkan Jelita yang terisak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN