Jelita berdiri memandangi jalan, meskipun mobil Abizar sudah lama menghilang dari pandangannya tapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Air matanya terus mengalir, hatinya sakit.
“Iya, Pak. Seharusnya memang seperti ini caramu bersikap kepadaku. Aku mohon teruslah seperti ini, agar hatiku tidak bertambah sakit,” gumannya di sela air matanya yang terus mengalir.
Setelah perasaannya kembali tenang, Jelita menghapus sisa air matanya. Memastikan tidak ada sisa kesedihan yang terlihat di wajahnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah.
Jelita melihat ayahnya duduk menunggunya, ia menggigit bibirnya menahan agar air matanya tidak keluar lagi. Menghela nafas dalam lalu menghampiri ayahnya.
“Ayo Ayah kita makan.” Jelita kemudian menyajikan makanan untuk ayahnya lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Ia tersenyum seperti biasa mencoba menyembunyikan perasaan hatinya dengan baik.
“Loh, bukannya Abizar sudah bangun? Ia tidur lagi? kenapa kau tidak mengajaknya makan. Setidaknya kalian makan bersama. Biar ayah yang makan duluan, kau tunggu suamimu makan, kalian makan sama-sama ya.” Ucapan ayahnya semakin membuat hati Jelita teriris.
“Tidak perlu menunggu Ayah, pak Abizar tiba-tiba ada telepon dari kantor dan harus segera pulang ke rumah untuk siap-siap. Katanya biar dia sarapan di kantor saja. Yuk kita makan saja,” ucap Jelita berusaha untuk tersenyum.
“Oh begitu, ya sudah.” Jawab sang ayah.
Mereka pun menyantap makanan dalam diam, Jelita menatap ayahnya yang juga terdiam, ia bisa merasakan sirat kecewa ayahnya karena tidak sempat bertemu dengan menantunya. Selama menunaikan Abizar memang tidak pernah duduk bersama berbincang layaknya seorang menantu pada umumnya. Padahal Jelita sangat tahu kalau ayahnya sangat ingin berbincang banyak dengan menantunya itu.
“Maafkan Ayah, pak Abizar selalu sibuk jadi tidak pernah sempat berbincang dengan Ayah,” ucap Jelita.
Pak Yuda mengangkat kepalanya dan tersenyum.
“Kenapa minta maaf, suamimu tidak salah. Kesibukan yang tidak bisa dihindari kan memang biasa terjadi. Ayah bisa memaklumi, ya tidak apa-apa, lain waktu kan bisa. Ayo makan lagi, tidak usah dipikirkan,” ucap pak Yuda meyakinkan Jelita. Jelita menatap ayahnya dan tersenyum. Mereka pun melanjutkan makan.
Abizar memasuki halaman, memarkirkan mobilnya. Ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia berjalan dan masuk ke dalam kamar. sesampainya di dalam, ia mendapati Jovanka sedang duduk terdiam di hadapan meja riasnya.
“Jam berapa kamu pulang semalam? Atau kau menginap lagi di rumah temanmu?” tanya Abizar dengan nada dingin.
Jovanka membalikkan tubuhnya dan menatap Abizar dengan tajam.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau sampai menyusul Jelita ke rumah ayahnya? Kau kan bisa menungguku di rumah seperti biasa. Kau tau Mas, sikapmu ini jadi membuatku curiga,” sahut Jovanka tidak kalah dinginnya.
“Apa maksudmu?” tanya Abizar.
“Mas, sebelum pernikahanmu yang ke dua ini, hidup kita begitu bahagia. Hingga aku berpikir alangkah lebih bahagianya jika kita memiliki anak. Itulah mengapa aku memiliki pikiran untuk menikahkanmu dengan wanita pilihanku sendiri agar kau tidak akan terpincut dengan istri barumu nanti. Begitulah keyakinanku selama ini. Aku percaya padamu sepenuh hati kalau kau tidak akan pernah mengkhianati cinta kita, karena aku tahu kau sangat mencintaiku.
Akan tetapi, setelah melihat segala bentuk perhatianmu yang aku anggap berlebihan kepada Jelita, aku jadi berpikir kalau mungkin rasa cintamu yang selama ini hanya untukku, telah sedikit demi sedikit terkikis untuk perempuan itu,” tutur Jovanka menahan perasaan hatinya yang sakit.
“Kau ini bicara apa, bukankah sudah ku katakan berkali-kali kalau semua yang kulakukan terhadapnya itu hanya karena anak yang di kandungnya. Tidak lebih! Kenapa kau selalu melebih-lebihkan masalah ini?” elak Abizar mulai sedikit kesal.
“Aku tidak melebih-lebihkan, Mas. Aku hanya melihat sikapmu yang sudah berubah menjadi lebih perhatian kepada Jelita,” ucap Jovanka.
“Susah berbicara denganmu lagi Jovanka, Kau selalu memaksakan semuanya dan tidak pernah mau mendengarkan. Sudahlah, aku mau berangkat ke kantor.” Abizar melangkah ke kamar mandi.
Jovanka hanya bisa menggigit bibirnya menahan perasaannya yang kacau.
***
Dia sebuah taman bermain dengan beberapa pengunjung, seorang gadis kecil usia sekitar 5 tahun tengah bermain riang dengan teman-temannya. Anak itu tertawa, berlari-lari dengan riangnya.
“Katrina, mainnya jangan jauh-jauh, sayang…!” seorang seorang wanita yang sejak tadi mengawasi gadis kecil itu berseru.
Gadis kecil itu menoleh ke arah wanita tadi dan melambaikan tangannya tanda mengiyakan ucapan wanita tadi. Wanita itu tersenyum dan membalas lambaian tangan Katrina.
Setelah beberapa lama, Katrina berlari menghampiri wanita tadi.
“Tante Sindy, Katrina mau minum,”ucapnya dengan wajah polosnya dan menggemaskan.
Wanita yang bernama Sindy itu lalu mengambil botol minum dari keranjang yang ada di sampingnya dan memberikannya kepada Katrina.
“Kamu haus,ya? makanya jangan terlalu banyak lari-larian nanti jatuh.” Tegur Sindy sambil membelai lembut rambut panjang gadis kecil yang cantik itu.
“Habis seru sih tante, aku senang sekali tante membawaku ke mari. Oiya tante, libur nanti aku mau ke sini lagi, boleh ya?” pinta Katrina dengan mata yang berbinar terang.
Sindy mengangkat alisnya. “Loh, memangnya kau lupa kalau mama akan datang menjengukmu hari minggu nanti?” tanya Sindy.
Katrina terdiam. Sindy lalu mengangkat dagu Katrina dan menatapnya lembut.
“Ada apa sayang, kok diem?” tanyanya.
“Aku benci mama! aku tidak ingin mama datang,” sahut Katrina tiba-tiba, matanya berkaca-kaca. Sindy mendadak bingung.
“Loh memangnya kenapa?”
“mama tidak menepati janjinya lagi. mama sudah 2 minggu tidak pernah datang lagi menjenguk Katrin. Mama janji akan menjenguk Katrin sekali seminggu tapi mama tidak pernah datang.” Air mata Katrina akhirnya berjatuhan. Anak itu berkali-kali menghapus air matanya dengan kasar tapi air matanya terus saja mengalir.
Sindy langsung memeluk Katrina dengan penuh kasih sayang, hatinya sangat prihatin melihat anak yang ada dalam dekapannya ini begitu sangat merindukan sang ibu.
“Sayang, dengarkan tante. Mama bukannya ingkar janji, hanya saja akhir-akhir ini mama memang sedang sangat sibuk, jadi tidak punya waktu untuk menjenguk Katrina. Mama itu sayang sekali dengan Katrina, jadi jangan pernah bilang benci sama mama, ya sayang? nanti mama akan sedih,” ucap Sindy membujuk.
“Tapi mama selalu saja mengingkari janjinya. Teman-teman Katrin selalu meledek Katrin, mereka bilang kalau Katrin itu anak tidak beruntung karena mama dan papanya tidak ada.” Ucapan Katrina seketika membuat hati Sindy kesal. Berani benar anak-anak nakal itu bicara seperti itu kepada Katrina.
“Kau jangan khawatir, sayang. Suatu hari nanti mereka akan melihat kau memiliki orang tua yang lengkap. Ada mama dan juga papa, tapi tante harap, Katrina harus bisa bersabar dulu, ya. Kan anak sabar di sayang Tuhan. Kalau teman-temanmu mengejek lagi, Katrina lapor saja sama guru, supaya mereka di hukum,” icap Sindy.
Gadis kecil itu mengangguk.
“Tante tidak bohong kan? Katrin suatu hari akan bertemu papa dan mama?” tanyanya polos.
“Pasti, sayang. Kau akan bertemu mereka dan hidup bahagia. Sekarang masih mau main lagi atau kita pulang saja?” tanya Sindy.
“Katrin masih mau main, tante,” pilihnya.
“Ya, sudah, sana main tapi jangan jauh-jauh, ya.”
“Iya tante..!" sahutnya sambil berlari ke arah teman-temannya.
“Jangan lari-lari begitu Katrin…!” seru Sindy khawatir.
Sindy menatap Katrina yang sudah kembali bermain dan kembali riang, wajah yang tadinya suram kembali cerah seakan kesedihan yang tadi di rasakan lenyap begitu saja hanya dengan bermain.
“Kau tenang saja, sayang. Mama dan papamu suatu saat akan bersatu kembali dan membawamu pulang.