Tersadar

1535 Kata
“Tolong buka pintu, Jelita. Aku ada di rumah ayahmu sekarang.” Mata Jelita membola saking terkejutnya, kenapa pak Abizar bisa datang ke mari? Tanyanya dalam hati. “Apa?! Bapak ada di sini?” tanyanya masih tidak percaya. “Iya, tolong buka pintunya,” jawab Abizar dari seberang telepon. “Ah? Iya. Se…sebentar.” Buru-buru Jelita menutup sambungan teleponnya dan berjalan cepat ke arah pintu. Dengan degup jantung yang bergemuruh, Jelita membuka pintu. ia tertegun menatap suaminya berdiri di hadapannya. “Pak…” lirihnya. Jelita tidak percaya bisa melihat Abizar berdiri di hadapannya. “Apa kau hanya akan terus membiarkanku berdiri di depan pintu, Jelita?” ucap Abizar menyadarkan Jelita dari lamunannya. “Ah, maaf Pak. Ayo masuk, Pak.” Jelita mempersilakan Abizar masuk. Abizar duduk di kursi tamu, Jelita pun duduk di hadapannya. Jelita menatap suaminya yang terlihat letih. Ia jadi bertanya-tanya kenapa pria yang yang menjadi ayah dari anak yang ia kandung ini terlihat begitu tidak bersemangat. Jelita menuangkan segelas air putih dan menyerahkan kan kepada Abizar “Ini, Pak. minumlah dulu,” ucap Jelita. Abizar mengambil air itu dan langsung meminumnya. “Terima kasih, ya.” ucapnya. Abizar kembali memejamkan matanya dan bersandar di sofa. “Bapak kelihatan capek, tidur di kamar saja,” ucap Jelita menawarkan. Hatinya tidak tega Abizar tidur di sofa seperti itu. “Tidak apa jelita, aku tidur di sini saja,” tolak Abizar. “Bapak tidak boleh tidur di luar sini, lagi pula sofanya kurang nyaman untuk dijadikan tempat tidur. Ayo tidur di kamar saja, Pak.” Jelita berusaha membujuk. Abizar membuka matanya dan menatap jelita. Di tatap intens seperti itu membuat jantung Jelita kembali berdegup kencang. “Ma…maksud saya, Bapak kan capek habis lembur di kantor. Jadi butuh istirahat yang baik. Saya tidak bisa membiarkan Bapak istirahat di sini,” jelas Jelita. Ia tidak mau Abizar berpikir kalau ia sengaja mengajaknya tidur bersama. “Baiklah kalau begitu, tidak usah terlalu dipikirkan, memangnya di mana lagi aku bukan di kamar, ayo tunjukan kamarmu,” ucap Abizar. Ia bangkit dan berjalan mauk ke dalam. Jelita membuka pintu sebuah kamar, mereka pun masuk. Abizar menatap sekeliling, ruangannya tidak begitu luas, jauh jika di bandingkan dengan kamar di rumahnya. “Biar saya buka jasnya dulu, Pak.” Jelita kemudian membuka jas yang dipakai Abizar dan menyimpannya. Jelita kemudian berlutut di hadapan suaminya dan membuka sepatu yang masih di pakainya, tapi Abizar menahannya gerakan Jelita. “Jelita, apa yang kau lakukan? Tidak perlu seperti ini, biar aku saja,” ucap Abizar sambil membuka sepatunya sendiri. Jelita hanya terdiam menerima penolakan Abizar. “Saya tahu kalau saya sama sekali tidak berarti untuk Bapak. Saya hanya seorang istri kontrak yang sebentar lagi hilang dari kehidupan Bapak. Saya juga tidak berhak melayani kebutuhan Bapak karena saya buka siapa-siapa. Tapi bisakah Bapak menutup mata sekali saja dan menerima ketulusan saya dalam melayani Bapak? Saya sama sekali tidak bermaksud apa-apa, saya hanya ingin merasakan seperti apa melayani seorang suami,” tutur Jelita sedih. “Bukan begitu, kau jangan salah paham. Sebenarnya aku hanya sedikit tidak terbiasa saja dilayani oleh orang lain selain Jovanka, makanya aku tanpa sadar menolak. Tolong jangan salah paham, ya.” Abizar menjelaskan maksudnya. “Saya mengerti, Pak. Ya sudah, Bapak istirahat saja di ranjang. Biar saya yang tidur di sofa,” ucap Jelita sambil menyiapkan tempat tidur dan lalu berjalan ke arah sofa sambil membawa sebuah bantal di tangannya. “Apa yang kau lakukan, kau pikir aku akan membiarkanmu tidur si sofa sementara aku di kasur? kemarilah, kita tidur bersama. Bukankan kau tidak bisa tidur tanpa bantuan? Abizar memegang lengan Jelita menahan langkahnya. “Tapi, Pak. Saya sudah tidak berani lagi. saya tidak mau bu Jovanka salah paham,” elak Jelita. “Tidak apa-apa, Jovanka tidak akan mengetahuinya. Dan memangnya kenapa kalau dia melihat kita berdua di tempat ini. Kau istriku dan kita sah melakukan apa saja. Sudahlah tidak perlu memikirkan dia. Toh dia juga tidak pernah lagi peduli,” ucap Abizar menahan kekecewaan di hatinya. Jelita menatap Abizar dengan tatapan sedih. Sungguh besar cinta pria ini terhadap bu Jovanka. Tapi kenapa ia tampak kecewa, apa mereka bertengkar lagi? “Apa semuanya baik-baik saja, Pak? Tanya Jelita. Abizar tidak menjawab. “Bagaimana kalau bu Jovanka menyusul kemari, Pak.” tanya Jelita khawatir. Ia benar-benar tidak ingin terjadi kesalahan pahaman di antara mereka. “Itu tidak akan terjadi, dia tidak akan kemari. Sudah lupakan saja, Ayo kita tidur, aku ingin istirahat,” ucap Abizar lalu merebahkan tubuhnya. Jelita menghela nafas panjang lalu duduk di tepi ranjang menatap Abizar yang sudah memejamkan mata. Jelita perlahan merebahkan tubuhnya dan membalikkan tubuhnya memunggungi Abizar. Hatinya gamang, ia merasa semua ini tidaklah benar. Ia seperti wanita selingkuhan Abizar yang dikunjungi secara sembunyi-sembunyi. ‘Apa tindakanku ini benar? Apa aku bisa bersikap seperti ini di saat istri pak Abizar yang lain tidak berada ditempat?’ hatinya bingung dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jelita menghela nafas “Hah…” “Kau masih memikirkan hal tadi?” tanya Abizar, ia berbalik agar ia bisa menatap Jelita namun sayang, jelita memunggunginya. “Lihat aku Jelita…” panggilnya saat Jelita tidak merespon. Abizar tahu kalau istrinya ini tidak tidur. Abizar menyentuh lengan Jelita, membuat Jelita berbalik ke arahnya. “Jangan berpikiran macam-macam, kau juga jangan takut kepada Jovanka. Kau adalah istriku sampai kau melahirkan akan itu. Jadi, selagi kau masih menjadi istriku, kau tidak perlu mencemaskan apa pun. kau tidak melakukan kesalahan,” Ucap Abizar meyakinkan Jelita. Jelita hanya menatap Abizar yang juga menatapnya dalam. ‘Sekali, hanya sekali ini saja, aku akan bertanya kepada pak Abizar tentang perasaannya padaku.’ “Kenapa bapak kemari?” tanya Jelita tiba-tiba. Abizar diam sejenak, lalu menjawab. “Karena Jovanka tidak ada di rumah.” akhirnya Abizar mengakui kegundahan hatinya. Entah kenapa ada getir yang rasanya menoreh hati Jelita setelah mendengar pengakuan Abizar. Ia menggigit bibirnya. “Oh, seharusnya Bapak tunggu bu Jovanka di rumah, kenapa justru datang kemari? Bagaimana kalai bu Jova tiba di rumah dan tidak melihat Bapak?” tanya jelita memancing jawaban Abizar. Ia ingin tahu alasan kenapa dia datang. “Aku pikir dari pada di kamar sendiri, lebih baik aku kemari sekaligus membantumu untuk tidur. Bukankah sudah kukatakan jika kau tidak boleh begadang, nanti anak yang kau kandung bisa dalam bahaya,” ucap Abizar. Jawaban itu sudah cukup membuat Jelita sadar jika pria ini sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya. Ia sudah paham betul dengan hal itu tapi tetap saja hatinya tidak terima. Jangan bodoh Jelita, sadarlah, ia suami orang! Tegur suara hatinya. “Ayo kita tidur saja, Pak,” ucap Jelita. “Kau mau di peluk seperti waktu itu?” tanya Abizar tiba-tiba. “Hah? oh ti…tidak usah, Pak. Bapak cukup tidur di samping saya saja,” jawab jelita, wajahnya memerah. Untungnya I I malam hari kalau tidak ia akan ketahuan. Lagipula kenapa juga pria ini selalu membuatnya bingung dengan sikapnya. Akan lebih baik jika ia dingin sekalian, supaya perasaanku tidak goyah dan salah paham lagi. huh menyebalkan. Suara burung berkicau menyambut pagi yang cerah, cahaya matahari masuk ke dalam jendela dan menerangi seluruh ruangan. Jelita membuka mata dan merasa sesuatu yang terasa berat menghimpitnya. Saat matanya sepenuhnya terbuka ia melihat Abizar masih tertidur pulas dengan tangan dan kaki yang memeluknya dengan erat. Jelita tersenyum, disentuhnya rambut Abizar dengan lembut. “Kau seharusnya tidak bersikap seperti ini padaku, karena mulai sekarang aku akan menjauhimu sebisaku, sebelum semuanya terlambat,” ucapnya lirih sambil terus membelai lembut rambut Abizar. Perlahan Jelita bangkit dan menyingkirkan tangan dan kaki Abizar di tubuhnya lalu keluar dari ruangan. Abizar bergerak setelah mendengar ponselnya berdering, ia meraba ponsel itu dan membuka mata melihat siapa yang menelponnya. “Jovanka…” gumannya. “Halo…” “Iya, aku sekarang di rumah ayah Jelita. Tidak perlu, tunggu saja di rumah. aku akan pulang. Sampai jumpa,” ucapnya terdengar sedikit dingin. Abizar mengusap wajahnya lalu beranjak dari tempat tidur. Jelita tampak sibuk di dapur, Hari ini dia sangat senang karena untuk pertama kalinya akan sarapan bersama suami dan ayahnya, karena itu akan menjadi kenangan manis untuknya suatu hari nanti. Setelah semuanya sudah siap di meja, ia memanggil ayahnya. “Kapan Abizar datang, Nak. kenapa ayah tidak di bangunkan?” tanya ayahnya. “Tengah malam, Ayah. Ayah kan tidur masa jelita mau mengganggu tidur ayah sih. Lagi pula mas abizar langsung tidur, dia capek.” Jawab jelita sambil menuangkan air minum di dalam gelas. “Oh, tidak apa-apa. Toh sebentar lagi kita akan ngobrol banyak di meja makan. Ayah jadi tidak sabar” Imbuh pak Yadi yang juga terlihat senang karena menantunya datang kerumahnya setelah sekian lama. Abizar keluar kamar, Jelita cepat menghampirinya. “Bapak sudah bangun, ayo kita sarapan dulu. Ayah juga sudah menunggu.” Ajak Jelita tersenyum. “Maaf Jelita tapi aku tidak bisa lebih lama, aku harus segera pulang karena Jova menungguku di rumah. maaf ya,” ucap Abizar sambil melangkah menuju pintu utama. Jelita mengikutinya. “Tapi Pak setidaknya makanlah dulu sedikit, ayah menunggu.” Jelita sangat sedih tapi dia masih berusaha membujuk suaminya. Ia tidak ingin ayahnya kecewa. “Jelita aku mohon mengertilah, Jova sedang menungguku. Aku tidak punya waktu untuk tinggal lebih lama di sini. Sampaikan saja salamku pada ayahmu, aku pergi,” ucap Abizar lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan Jelita yang berderai air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN