Kecewa

1429 Kata
Bima melaju bersama motornya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang lengang memudahkannya untuk tetap memacu kendaraannya. Hatinya panas, sakit dan kecewa menerima penolakan Jelita. ‘Kau memeng bodoh, Bima. percuma kau menumbuhkan taman bunga di dalam hatimu untuk Jelita jika dia saja tidak akan merawatnya? Taman bungamu akan terbengkalai sia-sia. Bodoh…bodoh…!’ Bima semakin memacu motornya hingga berhenti di sebuah taman hijau. Ia memarkirkan motornya lalu duduk di salah satu kursi taman. Bima hanya duduk terdiam memandangi rumput hijau dan bunga-bunga yang bermekaran. Hatinya hampa, ia masih terpukul dengan sikap Jelita yang tidak pernah mau menerima pemberiannya. Hah.. mungkin karena pemberiannya itu terlalu kekanak-kanakan. Hanya beberapa cokelat dan cemilan. Padahal suaminya seorang yang kaya raya, Jelita pasti sudah tidak menginginkan pemberian murahan seperti itu. ‘Mungkin jika aku sudah sukses, Jelita mau menerima pemberianku,” gumannya. *** Jovanka terlihat gelisah di tempatnya, ia berkali-kali melihat sekitar dan jam yang melingkar di tangannya. Ia berada di sebuah restoran dan sepertinya menunggu seseorang. Seorang pria tinggi berjalan menghampirinya. “Maaf, sudah membuatmu menunggu,” sapa pria sambil duduk setelah sampai di hadapan Jovanka. Jovanka hanya menatapnya tajam. “Sudah, tidak perlu banyak bicara, David. Katakan apa maumu!” tanya Jovanka dengan wajah kesal. David tersenyum. “Pembicaraan kita ini sepertinya akan berlangsung lama, bagiamana kalau kita makan siang dulu,” ucapnya dengan santai. “Tidak perlu! Aku tidak mau makan, apalagi dengan pria b******k sepertimu!” caci Jovanka emosi. David menatap Jovanka lekat, mendekatkan wajahnya ke arah Jovanka. ‘Rupanya kau perlu di beri sedikit penekanan, aku tidak suka mengancam seseorang, apalagi orang itu adalah wanita yang aku sukai. Tapi sikapmu yang keras kepala, membuatku ingin melakukannya. Bagaimana kalau kebersamaan kita malam itu di bagikan dengan suamimu?” ucap David dengan senyum licik. Jovanka menatap Davis tajam. “Kau ini sudah tidak waras. Aku pernah melakukan dosa apa terhadapmu? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini? Sudah aku bilang kalau aku sudah punya suami dan aku sangat mencintai suamiku. Kenapa kau malah bersikeras menggangguku?!” tanya Jovanka menahan emosinya. “Justru karena itu aku semakin bersemangat untuk merebutmu, Jovanka. Kau tahu, saat pertama kali melihatmu, pandanganku tidak pernah lagi teralihkan. Semua perhatianku tertuju padamu. Entah sihir apa yang sudah kau berikan padaku sehingga aku sama sekali tidak bisa berpaling darimu lagi, Jovanka. Aku memaksa Kristin untuk memberikan kontakmu walaupun sahabatmu itu dengan tegas menolaknya, tapi kau tahu, aku selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan,” tutur David sambil memandang Jovanka dengan penuh damba. “Candaanmu tidak lucu kau tahu, kau memang sepertinya harus memperbaiki otak supaya pikiranku kembali waras. Sudah cukup dengan omong kosong ini, aku akan pergi,” ucap Jovanka. Ia bangkit dari duduknya tapi langkahnya tertahan mendengar ucapan David. “Kalau kau pergi, foto itu akan sampai ke ponsel suamimu dan kau tahu pasti apa yang akan terjadi, kan? Sebelum itu terjadi bukankah sebaiknya kau mempersiapkan dirimu terlebih dulu? Jadi selama kau mau bekerja sama, tidak akan terjadi hal yang tidak kau inginkan, ” ancam David dengan senyum seringainya. Jovanka membeku, pria ini benar-benar telah menjadi masalah besar dalam hidupnya. Ia menatap tajam David seakan tatapannya itu bisa menembus tubuh pria itu. “Kau benar-benar b******k, David.” “Terima kasih,” jawan David dengan santai. ‘Sekarang duduklah dan makan,” perintah David dengan senyumnya. Jovanka terpaksa kembali duduk di kursinya. Jovanka menatap David dengan tatapan tajam. ‘Aku pasti akan membunuhmu, David’ ucapnya dalam hati. “Kau jangan berpikir untuk membunuhku, ya,” ucap David seperti mengetahui isi hati Jovanka. Jovanka sempat terkejut, tapi ia hanya mendengus kesal dan terdiam. “Makan!” David mengulang perintahnya. Dengan terpaksa Jovanka memakan makanan yang ada di hadapannya itu meskipun, ia sama sekali tidak ada selera untuk memakannya. “Setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ucap David sambil meminum anggur merah yang ada di tangannya. “Apa? tidak! Aku tidak ingin ke mana-mana bersamamu,” tolak Jovanka dengan tegas. “Sayangnya bukan kau yang memutuskan keinginanmu sendiri lagi, mulai sekarang dan seterusnya akulah yang akan mengendalikan keinginanmu, sayang,” ucap David menyeringai. Jovanka terkejut bukan main, ia tidak percaya apa yang di dengarnya. “Omong kosong apa yang kau katakana itu, David! Aku mohon jangan lakukan itu. Apa salahku sehingga menggangguku seperti ini?” Jovanka mulai frustrasi, apa yang di ucapkan David itu tak pelak akan membuat hidupnya berada di ujung tanduk. David tersenyum. “Anggap saja kau tidak beruntung bertemu denganku di kapal itu, Jovanka.” Jovanka tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya air matanya saja yang meleleh membasahi wajahnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi sekarang? Kenapa ia bisa bertemu dengan pria gila ini? Setelah beberapa lama, David dan Jovanka meninggalkan restoran itu. Jovanka awalnya tidak ingin ikut masuk ke dalam mobil David dengan alasan ingin memakai mobilnya sendiri, tapi tentu saja David menggunakan ancaman lagi untuk membuat Jovanka takluk. Hari sudah berganti malam, Abizar terlihat masih sibuk di ruangannya. Memeriksa beberapa file dan berkas. Tiba-tiba teleponnya berdering, keningnya berkerut karena ternyata Jelita yang menelpon. Ia menjadi khawatir terjadi apa-apa dengannya. “Halo Jelita, apa semuanya baik-baik saja?” tanyanya penasaran. “oh, iya Pak. Semuanya baik-baik saja. Saya ada di rumah ayah sekarang dan berencana untuk menginap malam ini, apakah boleh, Pak?” suara Jelita terdengar ragu-ragu di ujung sana. “Oh, begitu. iya tidak apa-apa, tapi apa kau yakin bisa tidur di sana tanpa bantuan?” tanya Abizar Tidak terdengar jawaban Jelita, mungkin ia berpikir. “Em, saya akan usahakan untuk tidur, Pak. Tidak perlu cemas, anak Bapak pasti akan baik-baik saja,” jawab Jelita. “Baiklah kalau begitu, baik-baik ya di sana. Salam sama ayahmu, aku juga mungkin akan pulang larut, banyak kerjaan di kantor. Kalau begitu sampai jumpa di rumah,” ucap Abizar lalu mematikan sambungan telepon. Abizar kembali fokus dengan kerjaannya, tapi tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Dan kali ini yang menelponnya adalah Jovanka. “Jovanka?” ucapnya sebelum menjawab panggilan istrinya. “Halo sayang? ada apa? apa kau sudah di rumah?” tanya Abizar. “Begini, Mas. Kemungkinan aku akan pulang larut. Kalau mas datang duluan, langsung tidur saja, tidak perlu menungguku, ya” ucap Jovanka dari sambungan telepon. “Loh, memangnya kerjaan di butik sesibuk itu sampai kau harus pulang larut juga?” tanya Abizar heran. Ini pertama kali istrinya pulang larut dari butik. “Iya, eh maksudku tidak juga. Tapi sekarang aku sedang berada di rumah teman. Temanku mengadakan pesta di sini dan akan pulang larut, jadi aku memberitahumu,” jawab Jovanka. Mendengar hal itu Abizar terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar. Terlihat sekali Abizar tidak setuju dengan hobi istrinya itu. “Jovanka, apakah kau tidak bisa sedikit mengurangi kegemaranmu berkumpul dengan teman-temanmu? Kau kan baru saja pulang dan sekarang kau keluar dan akan pulang larut lagi? kau bahkan sudah tidak pernah lagi memasak untukku,” ucap Abizar. “Sayang, kau kan tahu aku bukan tipe wanita yang akan duduk diam di rumah. Soal masak, aku janji besok malam aku pasti akan masak makanan kesukaanmu, oke?” entah kenapa suara Jovanka terdengar sedikit aneh di telinga Abizar, tapi karena kesedihan Abizar, pria itu tidak menyadari apa-apa. “Baiklah, kalau begitu. Jangan pulang terlalu larut ya?” ucapnya mengalah. Abizar mengusap wajahnya frustrasi, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memejamkan mata. Ia merasa Jovanka sudah banyak berubah. Ia tidak seperti dulu lagi, kehangatan dan rasa nyaman yang selama ini Abizar rasakan sedikit demi sedikit hilang. Beberapa saat kemudian, ia kembali melanjutkan perkejaannya. Waktu menunjukkan pukul 11 malam, ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya untuk hari ini. tapi ia masih terlihat duduk terdiam di kursinya. “Tok..tok..!” suara ketukan terdengar sebelum seorang pria masuk. “Bapak belum mau pulang?” tanya sang sekretaris. “Kau pulang saja, aku masih ingin di sini. Sebentar lagi aku pulang.” Ucap Abizar. “Baik, pak. Kalau begitu sampai jumpa besok,” Pamitnya kepada Abizar. Abizar kembali menghela nafas dalam, ia rasanya tidak ingin pulang ke rumah. Ia menginginkan sambutan Jovanka saat ia pulang tapi pasti hanya ada ada kamar kosong di sana. Tiba-tiba ia teringat Jelita, tapi kemudian ia menyadari jika Jelita juga tidak ada di rumah. Abizar lagi-lagi menghela nafas panjang. * Jelita masih belum bisa memejamkan mata, sudah jam 11 lebih tapi seperti biasa kantuk tidak pernah datang menyapanya di malam hari. Ia kemudian keluar kamar dan menuju dapur. Mengeluarkan air di dalam kulkas dan meminumnya. Ia kembali kamarnya dan mencoba memejamkan mata. Tiba-tiba ponselnya berdering. “Kenapa Pak Abizar menelpon malam-malam begini, ya? apa dia berubah pikiran dan tidak mengizinkanku menginap di sini?” gumannya . “Halo, Pak?” “Hah…!” mata bulat Jelita membulat mendengar ucapan Abizar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN