Jova menatap lama ponselnya yang terus bergetar. Ia kemudian melirik Abizar yang sedang menyantap makanannya. Buru-buru ia mematikan ponselnya, melanjutkan makannya, dan berusaha bersikap senormal mungkin.
Abizar melirik istrinya , rasanya ada yang aneh dengan sikap Jovanka. Ia menatap lekat istrinya.
“Kau baik-baik saja, kan? Tadi itu telepon dari siapa? Kenapa tidak di angkat?” tanyanya khawatir.
“Ah, bukan siapa-siapa, Mas. Tadi itu dari karyawan di butik, aku sudah bilang untuk mengurusnya nanti tapi dia tetap menghubungiku. Mengganggu saja,” gerutu Jovanka beralasan. Dadanya mulai bergemuruh saking tegangnya.
“Oh begitu, tapi siapa tahu itu penting,kan?”
“Tidak, Mas. Mereka saja yang tidak percaya diri dengan pekerjaan. Lupakan saja, kita makan lagi, ya,” ajak Jovanka. Abizar mengangguk, mereka pun melanjutkan makan dalam diam.
“O iya aku sepertinya akan pulang larut, ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan hari ini. Tidak usah menunggu, ya. Tidur saja dan jangan begadang,” ucap Abizar.
“Iya,” jawab Jovanka sambil mencium tangan suaminya seperti biasa. Abizar mencium kening istrinya dengan lembut lalu masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati, sayang…” ucap Jovanka sambil melambai. Lama ia menatap mobil Abizar hingga hilang dari pandangan. Jovanka kembali masuk ke dalam rumah.
Jelita tersenyum melihat kemesraan suami istri itu, betapa mereka saling mencintai. Sementara ia hanya seorang wanita malang yang berani mencoba masuk ke dalam kehidupan bahagia mereka.
Jelita merasa sangat tidak tahu diri menyadari perasaan terlarangnya untuk Abizar. ‘Kenapa aku bisa-bisanya punya perasaan ini? aku seharusnya tidak boleh berani sedikitpun menyukai pak Abizar. Hah, kau memang tidak waras, Jelita.’ Jelita menggeleng keras mengusir pikiran penatnya.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi. “Dari Bima, tumben anak itu nelpon?” gumannya.
“Halo, Bima. Ada apa?” sapa Jelita.
“Halo, Kak. Ada waktu hari ini, tidak?” tanya Bima dari seberang telepon.
“Hmm, ada sih. Memangnya kenapa?” sahut Jelita.
“Kata pak Yuda, kakak sudah hampir sebulan ini tidak datang menjenguknya. Tadi kebetulan aku mampir ke rumah dan pak Yuda bilang begitu. Beliau khawatir kakak ada masalah di sana. Makanya aku menelpon,” Jelas Bima.
“Aku baik-baik saja, di sini. Ya sudah aku akan datang.” Ucap Jelita.
“Baik, Kak. di tunggu ya. Sampai jumpa,” ucap Bima sambil tersenyum senang.
“Yes! Aku akan melihat Jelita lagi. Oh iya, aku akan beli cokelat kesukaannya, pasti dia suka,” gumannya sambil melompat naik ke atas motornya lalu melaju.
***
Jelita menghela nafas, ia jadi khawatir akan seperti apa reaksi ayahnya nanti kalau tahu yang sebenarnya.
“Sebaiknya aku bergegas, masalah itu aku pikirkan anti saja. Aku sudah kangen dengan ayah,” gumannya lalu melangkah ke kamar mandi.
“Bi sumi, aku berangkat dulu, ya.” pamitnya kepada pelayan.
“Baik, Non. Hati-hati,” jawab bi Sumi.
Jelita tersenyum lalu masuk ke dalam taksi dan melaju.
Sesampainya di rumah milik ayahnya, Jelita langsung masuk. Suasana di dalam sangat hening, ia bisa merasakan betapa kesepiannya sang ayah selama dirinya sudah menikah.
Selama ini ia dan ayahnya hidup berdua. Meskipun hidup mereka pas-pasan tapi kebersamaan mereka dan kehangatan cinta membuat hidup mereka selalu merasa sangat bahagia.
Akan tetapi sekarang, melihat rumah ini kosong, hati Jelita merasa sangat sedih. Jelita berjalan perlahan masuk ke ruang tengah. Ia melihat ayahnya yang sedang duduk ambil menonton televisi, Jelita tersenyum. Setidaknya kondisi ayahnya sudah jauh lebih baik, meski rambu di kepalanya masih belum sepenuhnya tumbuh, tapi ia melihat tubuh ayahnya sudah sedikit berisi.
“Ayah…” panggilnya.
Pak Yuda menoleh. “Oh, Jelita kau datang?” sambut ayahnya.
Jelita menghambur di pelukan ayahnya sambil menangis. Ia berusaha untuk tegar di depan ayahnya tapi air matanya ternyata tidak bisa bertahan untuk tidak tumpah.
“Loh kenapa menangis? Ayah tidak memanggilmu ke sini untuk menangis,” ucap sang Ayah sambil menatap wajah putrinya yang sembab memerah.
Jelita tersenyum meskipun air matanya masih keluar.
“Aku hanya sangat merindukan Ayah, Bagaimana kabar Ayah, sudah tidak ada keluhan lagi kan? Obatnya rutin ayah minum, kan?” cecar Jelita.
“Iya, Ayah tidak apa-apa. Obatnya juga rutin Ayah minum, kan kau sendiri yang memastikan itu di telepon,” ucap pak Yadi mengingatkan bagaimana Jelita tiap tiga kali dalam sehari menghubungi ayahnya untuk mengingatkan minum obat. Jelita tersenyum, ia menghapus air matanya lalu duduk di hadapan ayahnya.
Meletakkan sekeranjang buah yang bawanya lalu beranjak ke dapur untuk mengambil pisau dan piring.
“Bima kemana? Tapi dia yang meneleponku,” tanya Jelita sambil mengupas buah pir.
“Oh, tadi katanya ke luar sebentar,” jawab pak Yuda.
Jelita menatap ayahnya dengan tatapan dalam.
“Maafkan Jelita, Ayah. Karena akhir-akhir ini jarang menjenguk Ayah di sini. Ayah pasti sangat kesepian,” ucap Jelita sedih.
“Kau ini bicara apa sih, Nak. Tidak apa-apa, Ayah senang di sini. Bukannya setiap hari ada pelayan yang membantu kebutuhan Ayah di sini? Jadi kau tidak usah khawatir. Jelita, yang terpenting itu kau, asal kau hidup bahagia di rumah suamimu, Ayah pasti juga akan bahagia. Jadi, jika kau ingin membuat ayah bahagia, pastikan hidupmu di sana bahagia, Kau mengerti, sayang?” jawab pak Yuda sambil membelai kepala putrinya dengan lembut.
“Mata Jelita kembali berkaca-kaca mendengar ucapan ayahnya. Betapa mirisnya nasib yang sedang mempermainkan hidupnya kini.
“Maafkan aku ayah, aku terpaksa berbohong padamu tentang semuanya. Setelah semuanya berakhir nanti, aku akan membawa Ayah pergi jauh dari sini dan kita akan memulai hidup baru bersama lagi ayah. Tunggu aku sebentar lagi,” ucapnya dalam hati.
“Iya, Ayah tidak perlu cemas. Aku di sana sangat bahagia,” ucapnya sambil menggigit bibir menahan kegetiran hatinya. Pak Yuda tersenyum senang.
“Ini.” Jelita memberikan piring yang berisi potongan buah kepada ayahnya. pak Yuda pun memakannya dengan senyum senang.
“Wah, kakak sudah datang?” Bima muncul dengan kantongan di tangannya.
“Apa yang kau bawa itu?” tanya Jelita penasaran.
“Ah, aku tadi ke swalayan dan seseorang memberikan ini semua,” jawab Bima . Ia meletakkan kantongan itu di atas meja.
“Hah? seseorang memberikanmu ini?” tanya Jelita heran. Ia lalu membuka kantongan itu dan melihat banyak sekai cokelat dan buah serta beberapa cemilan kesukaannya.
“Kau yakin bukan kau sendiri yang membeli ini semua?” tanya Jelita curiga. Ia menatap lekat Bima.
“Hah? Yakinlah. Masa aku yang beli semua ini, yang benar saja. Tadi beneran ada temanku yang ngasih ini semua.” Bima mencoba berkilah.
Dicurigai seperti itu Bima gugup, padahal ia sudah berusaha bersikap biasa. Jelita memicingkan matanya, ia bertambah curiga melihat gelagat aneh Bima.
“Iya deh, aku yang beli.” Bima akhirnya mengaku.
Bima hanya bisa nyengir seperti kuda Karena ketahuan.
Jelita menghela nafas dalam. “Sudah aku bilang jangan hambur-hamburkan uangmu untuk hal-hal seperti ini. Lebih baik kau menyimpannya untuk keperluanmu sendiri, kenapa kau tidak mengerti apa yang ku katakana Bima?” Jelita mulai sedikit kesal dengan pemuda yang sudah ia anggap seperti adiknya itu.
Selama ini ia tahu keadaan Bima. Ia adalah seorang yatim dan sekarang tinggal di rumah pamannya. Ia bekerja sambil kuliah untuk memenuhi semua kebutuhannya. Paman yang menampungnya juga tidak begitu tulus terhadapnya dan selalu meminta uang kepada Bima sebagai bentuk balas budi karena sudah menampungnya. Makanya Jelita tidak pernah mau menerima bantuan dalam bentuk apa pun dari Bima.
Bima terdiam, hatinya sedih karena lagi-lagi Jelita tidak ingin menerima apa yang ia berikan.
“Apa Kak Jelita tidak menyukai pemberianku?” tanyanya.
“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin kau terlalu memaksakan diri untuk semua ini. Lebih baik kau fokus bekerja dan selesaikan kuliahmu, jangan mengeluarkan uangmu untuk kami lagi,” jelas Jelita.
Bima mengangkat kepalnya dan menatap Jelita. “Sepertinya memang Kakak tidak pernah mau menerima pemberianku. Baiklah, maafkan aku kalau begitu. ya sudah, kak. Kalau Kakak tidak menginginkan ini, aku akan bawa pulang. Paman, aku pulang ya, kakak Jelita juga sudah datang, aku ada tugas kuliah, jadi harus pulang dulu,” ucap Bima pamit, ia mengambil kembali kantongan tadi dan berjalan keluar dari ruangan itu.
“Bima…tunggu!!” seru Jelita menyusul pemuda itu keluar.
Bima menghentikan langkahnya. “Aku sudah paham, kak. Tidak perlu menjelaskan lagi maksud kakak. Aku pergi ya, sampai jumpa,” ucap Bima sambil menaiki motornya.
“Tapi Bima, aku…” Jelita tidak bisa menghentikan Bima lagi karena pemuda itu sudah melaju kencang meninggalkan Jelita yang hanya bisa berdiri mematung.