Cemburu

1423 Kata
Jovanka membuka mata dan melihat suaminya menatap penuh tanda tanya. Nafasnya masih memburu akibat mimpinya tadi. “Mas Abizar…” lirihnya tegang. Abizar menghampiri dan menyentuh wajahnya. “Kenapa kau tegang begini sayang? apa yang sudah terjadi? Dan, siapa David?” tanya Abizar menatap dalam Jovanka. “Hah?! Da.. David? Siapa David?” Jovanka berpura-pura tidak mengerti. Wajahnya berubah pucat. Kenapa ia bisa keceplosan menyebut nama David? “Oh tidak, mungkin aku yang salah dengar. Sudahlah, lupakan itu. Jadi bagaimana perjalananmu di kapal pesiar, pasti seru kan?” tanya Abizar. Jovanka menghela nafas lega, ia menatap suaminya dan tersenyum kecut. “I..Iya tentu saja sayang. Tapi di sana aku ternyata merasa bosan. Aku sangat menyesal tidak mengajakmu ikut serta,” Jawabnya lalu terdiam. Jovanka kembali mengingat foto itu, hal itu membuatnya gelisah. “Jovanka? Kau tidak apa-apa. Kau tampak tampak cemas? apa kau yakin semuanya baik-baik saja? lebih baik ceritakan padaku apa yang terjadi di sana sampai kau bersiap aneh seperti ini?” Abizar mulai curiga telah terjadi sesuatu kepada Jovanka. Kegelisahan di mata Istrinya itu sangat tampak jelas olehnya. “Ah, tidak terjadi apa-apa mas, sungguh, aku baik-baik saja. Semuanya berjalan lancar. O iya, tampaknya selama aku pergi kau dan Jelita semakin harmonis ya. Kau bahkan tidur dengannya malam tadi. Aku pikir pada saat tiba tadi kau yang akan menyambutku di kamar, tapi ternyata kamar kita kosong,” ucap Jovanka dengan wajah sedih, ia juga mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kau jangan salah paham dulu, aku hanya menemaninya tidur karena Jelita mengeluh tidak bisa tidur malam jika tidak di pijat atau di temani tidur. Aku pikir itu bawaan bayinya, jadi aku pikir aku harus menemaninya supaya Jelita bisa tertidur nyenyak,” Abizar menjelaskan. “Kau mulai melakukan semua itu dengan suka rela sekarang,” sahut Jovanka. “Apa maksudmu, tentu saja aku harus melakukannya untuk kesehatan bayinya. Kau pikir aku melakukannya untuk apa lagi?” tanya Anizar bingung. Jovanka menghembuskan nafas. “Aku hanya khawatir suatu saat kau akan melupakanku dan berpaling padanya.” Air mata Jovanka luruh, hatinya sakit meskipun suaminya sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Jovanka menangis, Abizar langsung memeluk istrinya. “Jovanka, apa yang kau katakan itu? kau sudah tidak waras? Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu demi wanita lain, kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu? Baiklah, kalau memang kau tidak ingin aku menemani Jelita lagi, aku tidak akan melakukannya. Nanti biar bi Sumi yang memijatnya.” Abizar mencoba menyakinkan Jovanka, hatinya ikut merasa bersalah melihat kecemburuan dan kesedihan Jovanka. Jovanka memeluk erat Abizar, perasannya semakin kacau. Sebenarnya ia menangis bukan hanya karena melihat suaminya tidur bersama Jelita, tapi juga menyesali kebodohannya telah tidur dengan David. Ia takut suatu saat nanti Abizar akan mengetahui semuanya dan akhirnya meninggalkannya. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. “Benarkah? Kalau begitu berjanjilah,” tuntut Jovanka. “Iya, aku berjanji tidak akan meninggalkanmu,” ucap Abizar dengan sungguh-sungguh. Keduanya kembali berpelukan, Abizar menatap Jovanka dengan tatapan penuh kerinduan. Abizar menundukkan kepalanya dan mengulum bibir Jovanka. Ia mencium seluruh wajah Jovanka dengan sedikit agresif seakan kerinduan dan hasrat yang selama ini Abizar pendam akan ia curahkan sepenuhnya. Desahan lirih Jovanka mulai terdengar saat lidah basah Abizar mulai menyapu area d**a Jova dan meninggalkan bekas di sana. Keduanya larut dalam kenikmatan hasrat. Abizar mulai membuka pakaian Jovanka hingga tidak ada yang tersisa kemudian membuka pakaiannya. Wajahnya yang memerah penuh gairah begitu tampan di mata Jovanka. Desahan nafasnya yang bergetar penuh hasrat bagai simfoni yang menggelitik birahi Jovanka. Jovanka membingkai wajah tampan Abizar dan menatapnya penuh cinta. “Aku sangat mencintaimu, aku akan melakukan apa pun demi mempertahankanmu di sisiku,” ucap Jovanka dengan pelan lalu kembali mencium bibir Abizar. Keduanya kembali saling membagi saliva penuh kehangatan. Mereka pun menyatukan tubuh dalam hasrat dan cinta dengan penuh kenikmatan hingga tubuh Abizar ambruk dengan deru nafas yang menderu. *** Jelita menata sarapan di atas meja, membantu bi Sumi dan 2 pelayan lainnya di dapur. “Nona, sudah bibi bilang tidak usah ke dapur. Wanita hamil muda tidak boleh banyak gerak. Lebih baik Nona kembali ke kamar saja,” ucap bi Sumi. “Tidak apa-apa, Bi. Ini kan bukan pekerjaan berat. Aku juga tidak bisa terus-terusan tinggal di dalam kamar saja seperti dulu. Aku bisa stress,Bi. Lagu pula, hari ini kan Bu Jovanka pulang, jadi tidak ada salahnya kalau aku sesekali menyajikan sarapan untuknya,” ucap Jelita. “Ya sudah, Non. Tapi harus tetap hati-hati ya. Saya tidak mau terjadi apa-apa pada non Jelita,” pesan bi Sumi. Jelita tersenyum dan menatap wanita 60 tahun itu, kehangatan wanita tua itu begitu sangat terasa menenangkan perasaan Jelita selama ia tinggal di rumah itu. “Terima kasih atas perhatiannya bi Sumi, aku janji akan hati-hati. Tenang saja setelah ini aku akan kembali ke kamar,” ucap Jelita sambil terus merapikan hidangan di atas meja. Ia sangat antusias karena Jovanka sudah kembali dan dia ingin menghidangkan makanan kesukaan Jovanka. Berharap madunya itu bisa kembali bersikap ramah seperti dulu. “Nah, itu mereka sudah turun!” seru Jelita melihat Abizar dan Jovanka turun tangga menuju meja makan. “Bu Jovanka, Pak Abizar,” sapanya dengan senyum mengembang. “Wah, makanannya banyak sekali. Kelihatannya lezat. Ini kamu yang buat, Jelita? Kebetulan sekali, perutku sangat lapar,” puji Abizar sambil menarik kuris untuk Jovanka duduk. Jelita mengangguk malu-malu. Sedangkan Jovanka hanya menatap Jelita dengan ekspresi dingin. “Ah, ini makanan khusus buat Pak Abi karena tidak suka bau bawang, jadi saya membuatkan makanan ini. semoga Pak Abi suka,” ucap Jelita sambil mendekatkan lauk yang ia maksud ke arah Abizar. “Wah, kau memang pengertian Jelita, terima kasih ya. Berkatmu aku bisa makan dengan normal.” Ucapan Abizar ternyata menyulut kekesalan Jovanka, Ia melirik kesal ke arah Jelita yang tersenyum senang. “Kau ngapain sibuk di dapur segala? kan ada pelayan. Kamu mau anak yang kau kandung terjadi apa-apa?” ketus Jovanka. “Tidak Bu, ini hanya pekerjaan kecil saja. Saya hanya bantu-bantu mereka di sini,” sahut Jelita. Abizar menatap Jovanka dengan tatapan menegur. “Sudah dong Jova, kau tidak perlu memarahi Jelita seperti itu. Ingat dengan bayi yang di kandungnya. Kau jangan buat ibunya stress dan akan berpengaruh pada si janin.” Jelas Abizar sambil mengambil nasi dan lauk ke dalam piring. Jovanka menatap suaminya dengan tajam, ia merasa tidak terima Abizar membela Jelita di depannya. “Yang aku katakan ini benar, Mas. Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayinya kalau ia banyak gerak. Lagi pula kenapa sih, di suruh diam saja di dalam kamar susahnya minta ampun. Kau itu sudah diperlakukan seperti putri di rumah kami tapi masih saja banyak tingkah. Dasar tidak tahu diri,” ucap Jovanka dengan tajam. Jelita hanya terdiam, wajahnya tertunduk sedih. Ia berusaha keras untuk tidak membalas ucapan Jovanka, menahan air matanya agar tidak tumpah. “Jovanka, sudahlah. Paling tidak hargai usahanya. Ia sudah susah-susah membuatkan semua ini untuk kita. Ayo, sebaiknya kita makan sekarang. Aku harus segera ke kantor, ada rapat pagi ini,” ucap Abizar menengahi lalu mulai menyantap makanannya. Jelita berniat pergi dari tempat itu tapi di tahan oleh Abizar. “Ikut sarapan saja dengan kita, Jelita. Kau belum sarapan kan?” ucap Abizar membuat kedua istrinya itu menatapnya. Jovanka melolot tdak setuju sedangkan jelita menatap Abizar sambil menggeleng. “Tidak usah, Pak. Saya makan di kamar saja. Kebetulan bi Sumi sudah menyediakan makanan saya di kamar, saya permisi dulu , Pak, Bu.” Ucap Jelita lalu melangkah pergi. “Kau lihat dia, tidak semestinya kau punya perasaan cemburu seperti itu terhadapnya. Kau tahu sendiri kan kalau pernikahanku dengannya hanya kontrak yang kau rencanakan? Tapi kenapa setelah semua rencanamu berhasil, kau malah memusuhinya? Kau seharusnya merasa berterima kasih kepada Jelita, karena ida sudah mengorbankan masa depannya hanay untuk mengandung dan melahirkan anak. Bukankan setelah dia melahirkan anak itu, aku akan segera menceraikannya? Kenapa justru kau seperti tidak sabar untuk mengusirnya pergi?” Abizar kembali menegur Jovanka atas sikapnya terhadap jelita, ia benar-benar tidak mengerti lagi jalan pikiran istrinya itu. “Aku tidak suka dia yang menatapmu seperti itu. Dia sepertinya menyukaimu. Aku juga tidak suka kau membelanya di hadapanku!” balas Jovanka sengit. “Membela apanya, aku hanya mengingatkanmu supaya jagan bersikap seperti itu. Nanti dia akan stress dan berpengaruh ke janinnya. Kenapa kau tidak pernah mau mengerti maksudku Jovanka.” “Iya…iya aku mengerti, tapi aku tidak bisa melihat dia mendekatimu lagi. aku akan…” “Drrrttt…drrrttt…drrrrttt…!!!” Ponsel Jovanka bergetar, sebuah panggilan nomor tidak di kenal masuk . Jovanka tampak berpikir sejenak lalu menjawab panggilan itu. “Halo sayang, apa kau merindukanku…? Wajah Jovanka seketika pucat mendengar suara dari ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN