Hancur

1114 Kata
Jovanka membuka mata, keningnya berkerut melihat langit-langit dan ruangan asing di sekitarnya. Ia bangun dari tidurnya tapi sangat syok melihat tubuhnya polos tidak berpakaian. “Apa…apa yang terjadi? Kenapa aku bisa seperti ini?” gumannya panik sambil mencari-cari pakaiannya. Pada saat ia menoleh, mata Jovanka melotot horor saat melihat siapa yang tertidur pulas di sampingnya. “Da..David? aku dan David?! Kenapa bisa kami berada di satu ranjang dan ah… ini tidak mungkin. Aku… aku harus meninggalkan tempat ini.” dengan terburu-buru Jovanka memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, memakainya dengan cepat lalu meninggalkan kamar itu. Rupanya ia masih berada di atas kapal yang sudah sandar, orang-orang juga sudah tidak terlihat lagi. Jovanka terus berjalan menuju kabinnya. Sesampainya di dalam, ternyata pakaiannya masih ada. Ia melihat jam dinding dan ternyata waktu sudah menunjukkan jam 4 subuh. “David, dasar pria b******k! harusnya aku tidak pernah mempercayainya. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat semuanya? akkhh….!” Pekiknya frustrasi. Buru-buru ia merapikan semua pakaiannya lalu keluar dari ruangan itu. Jovanka keluar dari kapal dan langsung menuju taksi yang sudah menunggunya. Jovanka tidak berhenti memikirkan apa yang telah terjadi pada dirinya dan David. Kenapa mereka bisa berada didalam satu kabin bersama? Apa yang sudah terjadi di antara mereka semalam, kenapa ia tidak bisa mengingat apa pun?” Jovanka menghela nafas gusar. Sang sopir menyadari kegundahan yang dirasakan Jovanka. Sopir itu melirik ke arah Jovanka. “Anda baik-baik saja, Nona?” tanya sopir taksi itu. Jovanka tersentak. “Ah, iya. Saya tidak apa-apa,” sahut Jovanka. “Drrrt…” ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk, dari nomor yang tidak dikenal. Jovanka membuka pesan itu dan betapa syoknya ia saat melihat isi pesan itu. Ia tanpa sadar menjatuhkan ponselnya. Tangannya bergetar, wajahnya pucat pasi. Dengan tangan yang masih gemetar, Jovanka berusaha menguatkan hatinya untuk kembali menatap gambit yang ada di ponselnya itu. gambir dirinya tengah mencium David, bukan hanya itu dirinya juga memeluk tubuh pria itu dengan posesif tanpa busana. “Terima kasih untuk malam ini, Jovanka. Kita akan bertemu lagi di lain waktu. Kau masih ingat kan, jika aku sudah menyukai sesuatu, aku akan mendapatkannya. Jangan coba menghubungiku, biar aku yang akan menghubungimu nanti. Sampai jumpa.” Tulis pesan yang di baca Jova. Mata Jovanka memerah menahan amarah, air matanya luruh tak terbendung. Ia ingin sekali menemui David dan membunuh pria b******k itu. “b******k…!!!” teriaknya tanpa sadar. Sang sopir terkejut bukan main, menoleh ke arah Jovanka dan melihat wanita itu menangis dengan tubuh gemetar. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain terus fokus menyetir. Air mata Jovanka terus saja mengalir tanpa henti membasahi pipinya yang memerah, sekarang apa yang harus ia lakukan? Bagiamana jika David menyebarkan foto itu atau yang lebih parah pria itu mengirim foto itu langsung kepada Abizar. Apa yang harus ia lakukan? “Tidak, apa yang sudah ku lakukan? Aku harus berbicara dengannya.” Jovanka menekan nomor asing itu tapi ternyata tidak tersambung. “Ah…sial…!!” Jovanka turun dari taksi dan langsung masuk kedalam rumah menuju kamarnya. Ia sudah sangat merindukan Abizar, suaminya. Dalam hati ia merasa sangat menyesal datang ke acara sahabatnya itu. Padahal suaminya sudah melarangnya untuk pergi. Seandainya saja ia mendengarkan ucapan suaminya, kejadian ini tidak akan pernah terjadi. ‘Maafkan aku Abizar,” ucapnya dalam hati sambil terus berjalan menuju kamarnya. Ia sangat menyesal. Jovanka membuka pintu kamar, tapi Abizar tidak ada di kasur. Jovanka menatap jam dinding. Waktu sudah menunjukkan jam 5 subuh. “Kemana, mas Abi pagi-pagi begini?” Jovanka mencari Abizar diseluruh kamar tapi tidak menemukannya. Jovanka duduk di tepi ranjang lalu merebahkan tubuhnya. mengusap wajahnya frustrasi. Gambar tidak senonohnya bersama David kembali terbayang di pelupuk mata. Jovanka bangkit dari rebahnya lalu berjalan keluar kamar. Ia berjalan menuju kamar Jelita. Ia sama sekali tidak yakin jika suaminya akan berada di kamar itu tapi langkahnya terus membawanya menuju kamar Jelita. Perlahan ia membuka pintu kamar, lagi-lagi ia syok melihat suaminya tengah tidur pulas sambil memeluk istri sirinya dengan penuh kehangatan. Bagai langit runtuh dan menimpanya, hatinya hancur berkeping-keping menyaksikan pemandangan itu. Lututnya lunglai tak mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh berlutut di ambang pintu kamar sambil berderai air mata. “Mas Abizar, teganya kau…” lirihnya terisak. Dengan susah payah, Jovanka bangkit dari tempatnya. Menatap mereka berdua cukup lama sebelum berlari menuju kamarnya. Jovanka menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dia mulai terisak. Hatinya bagian tersayat sembilu. Sakit dan perih. Ia sama sekali tidak ingin percaya apa yang baru saja dilihatnya, tapi kenyataan yang ada di depan matanya memaksanya untuk mengakui kebenaran bahwa Abizar kini sedang main hati dengan istri kontraknya. “Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jelita harus pergi dari rumah ini sebelum mas Abizar benar-benar jatuh cinta kepada perempuan tidak tahu diri itu. Lihat saja jelita, akan kubuat kau sadar di mana posisimu sebenarnya. Berani-beraninya kau berpikir untuk merebut suamiku,” ucap Jovanka dengan mata berkilat marah. Jovanka terus menyesali apa yang terjadi sampai ia kembali tertidur. Jelita membuka mata dan masih mendapati suaminya memeluk tubuhnya dengan erat. Ia menatap wajah Abizar sambil tersenyum. “Kalau tidur begini, Bapak tampak cakep. Hi..hi…” gumannya pelan sambil membelai rambut Abizar. Jelita tampaknya tidak ragu-ragu lagi menyentuh Abizar, jika awalnya ia masih takut-takut, sekarang ia sudah lebih leluasa terhadap Abizar dan hal itu membuatnya sangat senang dan bahagia. Merasa ada yang menyentuh kepalanya, Abizar terbangun. “Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?” tanya Abizar. Jelita dengan cepat melepas tangannya di rambut Abizar dan tersenyum malu-malu karena kedapatan menyentuh rambut suaminya. “Ah, selamat pagi, Pak. Tidur saya sangat nyenyak, Pak. Terima kasih.” Jawab Jelita. Abizar tersenyum mendengar itu. Ia lalu bangkit lalu berjalan menuju pintu. “Bapak sudah mau pergi?” tanpa sadar Jelita bertanya. “Hmm iya, apa kau masih butuh sesuatu?” tanya Abizar. ‘Huh, dia memang pria yang tidak peka,’ gerutu Jelita dalam hati. Jelita menggeleng. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti,” ucap Abizar sebelum keluar dari kamat jelita. Abizar berjalan gontai menuju kamarnya, dalam hati ia tiba-tiba bertanya kenapa Jovanka sampai sekarang belum pulang juga? bukannya acaranya hanya 3 malam saja? Abizar membuka pintu dan senyumnya mengembang saat melihat sosok yang tertidur pulas di atas ranjang. Abizar menghampiri istrinya, menatapnya lama dan membelai wajahnya. “Kau sudah datang rupanya, kau tidak tahu betapa aku sangat merindukanmu sayang,” ucap Abizar sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Jovanka lalu mengecupnya dengan lembut. Jovanka yang masih tertidur sedikit demi sedikit mulai tersadar karena kuluman bibir lembut tapi agresif suaminya. Jovanka terkejut, David memaksa untuk mencium bibirnya. Ia yang masih memejamkan mata dengan cepat mendorong tubuh Abizar sekuat tenaga sehingga ciuman Abizar terlepas. “David…!!!” tanpa sadar Jovanka berteriak dan itu membuat Abizar menatap istrinya dengan tatapan bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN