Satu Ranjang

1381 Kata
Beberapa saat mereka saling bertatapan sebelum Jovanka mengalihkan pandangannya dan tersenyum. “Kau tahu, setelah 3 hari di tempat ini, aku baru merasakan sedikit kesenangan dan itu setelah kita berdansa,” ucap Jovanka dengan jujur. “Oya? Kalau begitu kita harus merayakannya,” komentar David sambil mengangkat gelas yang berisi anggur merah, Jovanka tersenyum dan ikut mengangkat gelasnya. Mereka kemudian bersulam dan meneguk minuman masing-masing. “Kau senang karena berdansa atau karena aku adalah teman dansamu?” tanya David penasaran. Jovanka menatap wajah David. Pria itu terkesima memandang wajah cantik Jovanka yang merona karena pengaruh alkohol. “Tentu saja karena aku baru mendapatkan kesempatan menyalurkan hobiku berdansa lagi setelah sekian lama, dan juga karena berdansa denganmu. Kau tahu sangat hebat menari. Gerakanmu membuatku bersemangat tadi dan itu yang membuatku senang,” tutur Jovanka. “Kalau begitu mungkin kita bisa mengulanginya lain waktu,” ucap David memberi ide, Jovanka mengangkat alisnya tertarik. Jovanka kembali menatap David dengan tatapan dalam. “Tawaranmu boleh juga, sayang, aku tidak bisa melakukan itu lagi. Setelah hari ini, kita akan kembali di kehidupan masing-masing. Aku hanya bisa berterima kasih karena telah menemaniku merasakan sensasi hobi yang selama ini aku hampir lupakan,” ucap Jovanka sambil menghabiskan minumannya dengan sekali teguk. “Baiklah, teman dansa, aku pergi ya dan selamat tinggal. Senang berdansa denganmu,” ucap Jovanka sambil berdiri dari duduknya. Akan tetapi tubuh Jovanka tiba-tiba limbung sambil memegangi kepalanya. “Kau tidak apa-apa?” untungnya David dengan sigap menahan tubuh Jovanka agar tidak terjatuh. Jovanka masih mendengar sayup-sayup suara David memanggilnya sebelum semuanya gelap. “Aku tidak berencana berpisah lama denganmu, Jovanka dan itu yang akan terjadi,” guman David lalu tersenyum. *** Malam harinya, Jelita kembali gelisah. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari tapi ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Padahal malam sebelumnya ia berhasil tidur meskipun di bantu oleh pijatan Pelayan di tubuhnya. Malam ini, ia memutuskan untuk mencoba tertidur tanpa bantuan pijatan dan ternyata hasilnya Jelita sama sekali tidak bisa tidur. Jelita tidak berani meminta Abizar untuk menemaninya tidur lagi, ia takut Abizar akan berpikiran yang tidak-tidak terhadapnya. “Sebenarnya apa yang terjadi padaku? apakah ini pengaruh kehamilanku? kenapa akhir-akhir ini tidak bisa tidur malam?” Jelita hanya berguling di atas kasur tanpa merasakan kantuk sedikitpun. Jelita bangun dari rebahnya dan meminum segelas air putih, ia merebahkan tubuhnya lagi dan mencoba memejamkan mata. Beberapa lama kemudian, ia kembali membuka mata. “Hah…! bisa stres aku kalau begini terus. Apa aku bangunkan bu Sumi lagi ya? iya deh sebaiknya aku meminta tolong bibi lagi.” Jelita bangkit lalu berjalan keluar kamar. Kamar bi Sumi tepat di belakang dapur sehingga Jelita harus masuk ke dapur lalu menuju kamar pelayannya itu. “Loh, Jelita, kau belum tidur?” Jelita terkejut mendengar suara Abizar, ia melihat suaminya itu berdiri memegang sebuah botol air mineral dengan hanya mengenakan celana pendek. Penampilan Abizar itu membuat wajah jelita merona. ‘Duh, kenapa pak Abizar ada di dapur juga?’ ucapnya dalam hati. “Ah, iya, sa..saya ingin ke kamar bi Sumi, Pak?” jawabnya sedikit gugup. “Kenapa ke sana? Aku yakin bi Sumi sudah tidur. Kalau ada keperluan kan bisa minta tolong besok saja. Kau sebaiknya tidur,” ucap Abizar sembari menghampiri Jelita. Jelita mundur dengan cepat. “Ah, iya. Tapi, saya sebenarnya tidak bisa tidur lagi, Pak. Saya rencana meminta tolong bibi untuk memijat tubuh saya supaya saya bisa tertidur,” jelas Jelita jujur. “Jangan bilang kau selama 2 hari ini tidak bisa tidur karena aku tidak menemanimu, begitu Jelita?” tebak Abizar curiga. Mendengar pertanyaan itu Jelita salah tingkah, ia tertunduk sambil mengangguk. “Kenapa kau tidak bilang? Aku bisa menemanimu lagi, kan,” ucap Abizar. “Saya tidak berani, Pak. Takut Bapak terganggu. Lagi pula saya…” Jelita menahan ucapannya. “Lagi pula apa Jelita?” tuntut Abizar Jelita hanya menggeleng. “Jelita, kau tahu kan, kau harus memperhatikan kualitas tidurmu. Jangan begadang nanti tubuhmu lemah dan tekanan darahmu rendah. Kau rutin minum s**u kan?” Jelita mengangguk lagi mengiyakan. “Minum Vitamin?” Jelita kembali mengangguk. “Jadi apa masalahnya?” tanya Abizar bingung. “Saya juga tidak tahu, Pak. Saya hanya tidak bisa tidur saja jika malam hari. Kecuali kalau Bapak menemani atau bi Sumi memijat saya.” Akhirnya Jelita mengungkapkan kecemasannya. Kepalanya masih tertunduk. ‘Dasar bodoh kau Jelita, bisa-bisanya kau berkata jujur seperti itu. Pasti pak Abizar akan berpikir kalau kau sengaja menggodanya dengan alasan tidak bisa tidur,’ paniknya dalam hati menyesali perkataannya. Abizar menghela nafas dalam. “Kenapa kau tidak bilang terus terang, aku bisa menemanimu. Bukankah aku pernah bilang kalau kau butuh bantuanku, kau tinggal bilang saja? bayi yang ada di perutmu itu adalah anakku dan kenyamanan anakku itu adalah tanggung jawabku. Yang artinya jika kau merasa kurang nyaman, aku yang akan bertanggung jawab memberikanmu kenyamanan. Paham, Jelita?” ucap Abizar. Jelita mengangkat wajahnya dan menatap suaminya dengan tatapan sendu. “Tapi saya tidak bisa terus-terusan meminta bantuanmu Pak.” sanggah Jelita. “Kenapa tidak? Kau berhak memintanya.” “Tidak bisa, saya tidak bisa melakukan itu. Bagaimana jika Bu Jovanka tidak terima. Mungkin saat itu kita bisa melakukan ini tanpa kendala, tapi bagaimana jika Bu Jovanka datang dan tidak terima semua ini, dan bukankah seharusnya bu Jovanka sudah tiba malam tadi? Saya tidak akan bisa membayangkan reaksinya jika dia mendapati kita seperti 2 hari yang lalu, Pak. Terus terang saya merasa seperti wanita jahat yang sengaja menggoda Bapak untuk kesenanganku sendiri, saya tidak tidak boleh begini,” ucap jelita. Mendengar hal itu Abizar terdiam, ia seakan tersadar jika apa yang di katakan Jelita itu ada benarnya. Bagaimana jika Jovanka tidak suka ia terlalu dekat dengan Jelita meskipun tujuannya murni hanya untu bayi yang di kandungnya. “Tapi aku yakin Jova akan mengerti, Jelita.” “Bu Jovanka tidak akan bisa mengerti, Pak. Seorang wanita tidak akan rela melihat suaminya bersama wanita lain meski itu dengan alasan apa pun. Jadi biarkan saya meminta bantuan bi Sumi saja. Saya yakin bisa tidur kalau sudah di pijit.” Jelita akan melanjutkan langkahnya tapi Abizar menahannya. “Biarkan bi Sumi istirahat malam ini, jika kau butuh bantuannya besok malam saja. Sekarang ikut denganku,” ucap Abizar lalu menarik tangan istrinya menuju ke kamar. Abizar membuka pintu kamar Jelita dan membawanya ke ranjang. Merebahkan tubuh Jelita dan menyelimutinya. Abizar naik ke ranjang dan berniat merebahkan tubuhnya tapi Jelita dengan cepat menahannya. “Tunggu, Pak. Apa yang Bapak lakukan?!” panik Jelita. “Mau tidur, memangnya mau apa lagi. Ini sudah larut,” jawab Abizar. “Bagaimana bisa bapak tidur di sampingku tanpa memakai baju dulu!” ucap Jelita panik. Abizar menatap dirinya dan baru menyadari jika dia hanya memakai celana pendek. Ia tersenyum. “Apa kau malu aku tidur denganmu hanya menggunakan celana saja? memangnya apa yang ada di kepalamu ini, hmm?” ucap Abizar sambil mengacak rambut Jelita. “Bu..Bukan begitu maksud saya, tapi ini tidak benar.” Ucap Jelita asal. “Lo, apanya yang tidak benar, aku tidak melakukan kesalahan. Aku tidur dengan istriku sendiri, berada di kamar dalam rumahku sendiri. Mau aku berpakaian atau tidak pun tidak akan yang melarang. Jadi coba jelaskan padaku, dimana letak tidak benarnya sekarang?” ucap Abizar berpura-pura tidak mengerti ucapan Jelita. Ia hanya senang melihat rona memerah di wajah Jelita jika sudah malu-malu. Sungguh menggemaskan. Jelita tidak menjawab , Ia tidak tahu akan berbicara apa. semua yang Abizar ucapannya benar. Memang dimana letak tidak benarnya di sini? Mereka adalah suami istri, tentu saja ia bisa melakukan apa pun sebagai suami istri. “Sudahlah, ayo kita tidur. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan sesuatu seperti dalam pikiranmu itu. tapi kalau kau mau, tentu saja aku dengan senang hati akan melakukannya,” sekali lagi Abizar membuat Jelita tersipu. Mendengar itu, Jelita dengan cepat membungkus dirinya dengan selimut. Abizar merebahkan tubuhnya dan memeluk hangat tubuh Jelita. Benar saja, tidak lama kemudian, Jelita pun tertidur dengan lelap. Abizar menatap wajah cantik yang sedang tertidur pula di sisinya itu. Ada perasan hangat dan rasa tidak ingin jauh dari Jelita yang seketika timbul dalam hatinya. Membayangkan jika suatu hari nanti ia akan menceraikan istrinya ini, rasa tidak rela muncul. Ia menghela nafas lalu memejamkan mata. Pintu kamat terbuka dan Jovanka berdiri di ambang pintu dengan tatapan syok luar biasa melihat suami dan istri sirinya berpelukan mesra di atas satu ranjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN