Dansa

1412 Kata
Pesta hari terakhir di atas kapal pesiar pribadi milik Kristin sedang berlangsung, lantunan musik lembut mengiringi pasangan-pasangan yang sedang berdansa penuh keromantisan. Terlihat Kristin dan suaminya menikmati momen bahagia mereka dengan berdansa. Mereka sangat bahagia. Jovanka duduk malas sambil memandangi mereka, 3 hari berlalu dan perasaannya hampa. Ia sudah sangat merindukan Abizar. Ia ingin segera pulang dan menemui suaminya. “Baiklah, sekarang tibalah saatnya kita di acara yang di tunggu-tunggu…!” seorang MC berseru kepada semua tamu undangan. “Jadi kali ini, saya akan membuat sebuah permainan kecil yang harus melibatkan semua tamu undangan. Jika mereka menolak, tentunya akan ada hukuman kecil sebagai bentuk solidaritas antar tamu undangan yang ada di sini. Jadi tidak ada alasan untuk tidak ikut,” lanjutnya. Jovanka hanya acuh tak acuh menyimak MC yang sedang memberi pengumuman itu. “Jadi permainannya adalah Dansa berpasangan. Tapi dansa ini sedikit berbeda, ya. Adapun aturannya adalah, lampu akan di matikan dan kalian harus mencari pasangan dansa. Orang pertama yang kalian sentuh saat lampu dimatikan, dialah yang akan menjadi pasangan dansa kalian. Tidak perduli jika itu adalah wanita atau pria. Jadi jangan protes kalau kekasih atau suami kalian menemukan pasangan dansa lain, atau kalian menyentuh sesama jenis. Wah, itu sama sekali tidak masalah, ya. Jadi, jika tidak ingin mendapatkan pasangan yang tidak diinginkan, pekalah dalam menyentuh seseorang dalam kegelapan.” Suara riuh seketika terdengar sesaat setelah MC mengakhiri pidatonya, Jovanka mulai merasa tidak nyaman. Ia tidak ingin mengikuti permainan bodoh itu. Ia hanya ingin masuk ke kamat dan tidur. “Baiklah, tenang semuanya. Saya sudah katakan jika ini hanya permainan saja. Tujuannya adalah untuk lebih mempererat hubungan diantara kita semua. Supaya pesta meriah ini akan dikenang selalu, tidak ada maksud lain, ini murni untuk have fun saja, ya. Jadi sekali lagi jangan protes atau khawatir jika pasangan kalian menemukan pasangan dansa lain. Tapi akan menjadi tanggung jawab kalian jika sekiranya setelah berdansa, timbul perasaan lain terhadap pasangan dansa kalian, ha…ha…ha…” imbuh MC itu lagi. Tamu kembali riuh. “Sekarang, harap berkumpul di tengah ruangan. Saya harus memastikan semua tamu undangan ikut berpatisipasi. Jika ada yang berhalangan hadir, harap berikan alasan yang bisa di terima dan tentu saja tetap akan mendapat sanksi.” Ucap MC lagi. “Gawat, aku harus segera kabur sebelum mereka menemukanku,” ucap Jovanka lalu diam-diam pergi dari tempatnya. “Mau kemana Nona? Bukankah panitia sudah memberi arahan kalau Anda harus ikut berkumpul?” Jovanka mematung mendengar suara seseorang yang menghalangi langkahnya. “Maaf, tapi saya tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan. Saya mau ke kamar dulu,” ucap Jovanka beralasan. “Oh kalau begitu tolong nyonya tanda tangan ini untuk pernyataan ke dokter. Nona akan di cek dulu sa dokter, ya.” Panitia itu mengeluarkan kertas yang harus di tanda tangani Jovanka. ‘ini apa-apaan lagi. Ribet sekali urusannya,' gerutunya dalam hati. “ya sudah kalau urusannya dengan dokter, baik saya ikut saja.” Akhirnya Jovanka menyerah dan terpaksa ikut bergabung. “Nah, begitu dong, mari silakan.” Semua orang berkumpul di ruangan terbuka yang luas itu. Jovanka juga terpaksa harus ikut berkumpul. “Baik, karena semuanya sudah berkumpul. Kami akan mematikan lampu. Waktunya hanya 2 detik untuk mencari pasangan. Jadi tidak ada waktu untuk memilih atau membatalkan pasangan yang kalian sudah sentuh untuk mencari pasangan lain. Jika itu terjadi peserta akan didiskualifikasi dan akan mendapatkan sanksi. Ingat, orang yang kali pertama kalian sentuh, itulah pasangan dansa kalian! Saat ruangan menjadi gelap nanti, kalian harus menunggu aba-aba dari panitia sebelum memulai pencarian singkat kalian. Lampu di matikan!” Sesaat setelah MC mengucapkan kalimat terakhirnya, tiba-tiba ruangan menjadi gelap gulita. Hening, tidak ada suara sedikitpun. Mereka tegang menunggu aba-aba. “Waktunya mulai dari sekarang…!!” Sontak mereka langsung berebut mencari pasangannya masing masing, waktu yang sangat singkat itu membuat mereka tidak bisa mengganti pasangan yang sudah terlanjur mereka dapatkan. Hanya dua detik pencarian singkat itu sebelum lampu kembali menyala. Jovanka yang sejak awal malas berpartisipasi hanya diam tanpa gerakan. Ia tidak ingin memilih siapa pun. Tapi, sesaat setelah lampu di matikan, ia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya. Dan benar saja, setelah MC memulai pencarian, tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh seseorang. 2 detik kemudian ruangan seketika terang benderang, kembali suara orang –orang bergemuruh. Berbagai macam reaksi dari para peserta, Ada yang syok karena ternyata yang mereka sentuh adalah kekasih atau atau pasangan orang lain. Ada juga yang menjerit karena ternyata mereka berpasangan dengan sesama jenis mereka. Dan mereka yang berhasil menemukan pasangan yang sebenarnya tersenyum bahagia. Jovanka juga tidak kalah terkejutnya, karena orang yang memegang tangannya adalah David yang sedang tersenyum kepadanya. “Ternyata kalau jodoh tidak akan kemana, ya? halo pasangan dansaku. Senang berpasangan denganmu,” ucap David lalu dengan cepat mencium tangan Jovanka. “Apa-apaan Anda, jangan coba melampaui batasan!” ketusnya sambil menarik tangannya dari genggaman tangan David. “Maaf, ini cara saya menyambut pasangan saya.” “Jangan melebih-lebihkan, kita hanya pasangan dansa. Saya jadi heran, kenapa Anda bisa dengan cepat mendapatkan saya di sini. Jangan-jangan Anda sudah mengawasi saya sejak tadi, ya?” tanya Jovanka. David tersenyum. “Aku tidak bisa diam begitu saja sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan.” David berbisik ditelinga Jovanka, membuatnya terkejut dan marah. Jovanka segera menjauh, pria ini benar-benar tidak waras. “Nah, karena semua peserta sudah mendapatkan pasangan masing-masing, maka acara dansa akan di mulai. Ets, tunggu dulu. Dalam berdansa juga akan ada aturannya. Jadi, setiap pasangan harus bergerak sesuai lantunan musik yang di mainkan. Kalian harus mengikuti gerakan yang akan di tampilkan di layar besar. Jadi, bergerak sesuai irama dan gerakan yang ada di layar. Gerakan yang paling mendekati sempurna akan mendapatkan hadiah spesial dari Kristin dan Roland. Dansa di mulai…!” Music pun mengalun dengan syahdu, para pasangan mulai berusaha menunjukkan kemampuan terbaik mereka berdansa dengan mengikuti gerakan yang ada di layar besar di hadapan mereka. Jovanka terpaksa harus bersentuhan fisik dengan David, sungguh malam yang tidak menguntungkan. “Jangan terlihat terpaksa begitu, coba lihat pasangan dansa lelaki di sana. Mereka juga tidak menginginkan berdansa bersama tapi kerena solidaritas, mereka mengorbankan perasaan mereka. Bukankah kau sendiri yang bilang ini hanya permainan? Jadi bersikaplah professional. Aku tidak ingin kalah dari pasangan-pasangan lain,” ucap David. “Terserah kau saja,” respon Jovanka. Acuh tak acuh. David menyeringai, ia menyentuh pinggang langsing Jova dan mendekatkan di tubuhnya. Gerakan dansa yang ada di layar cukup intim. Mereka pun berdansa dengan sempurna, setiap gerakan mereka ikuti tanpa ada yang salah sedikitpun. Ternyata David lihai sekali dalam mengatur gerakannya begitu juga dengan Jovanka. Mereka berdansa dengan penuh penghayatan, seolah mereka adalah pasangan yang saling jatuh cinta. Tidak menyangka jika setiap detail gerakan mereka lakukan dengan penuh perasaan, seakan mereka pasangan yang sesungguhnya. Orang-orang bahkan sampai berhenti berdansa hanya untuk menyaksikan keduanya berdansa. Seakan David dan Jova lah bintang dari acara dansa itu. Keduanya benar-bear larut dan menghayati setiap irama dengan gerakan yang sempurna. Tatapan mata David seolah ingin menembus hati Jovanka, begitu juga dengan Jovanka. Gemuruh jantung David hampir tidak bisa ia kontrol. Ia terhanyut dalam suasana yang begitu sangat menyenangkannya itu. Tidak menyangka jika Jovanka juga sangat lihai dalam mengimbangi gerakannya. Benar-benar wanita yang ia gilai. Ia menjadi semakin menyukai wanita cantik yang ada dalam dekapannya ini. Mereka terus berdansa sampai akhirnya musik berhenti dengan tepuk tangan yang bergemuruh di seluruh ruangan. Tatapan mata dalam mereka untuk satu sama lain cukup membuktikan jika keduanya puas dan memuji kehebatan masing-masing. Keduanya baru tersadar saat suara MC menggema memuji gerakan dansa mereka, dan hasilnya, tentu saja bisa di pastikan jika David dan Jovanka lah pemenang dalam acara tersebut. “Hei, aku tidak menyangka kau masih lihai dalam gerakan dansamu, Jova. Kau bisa mengimbangi gerakan David dengan baik. Kau tahu, David ini sangat jago berdansa,” ucap Kristin antusias setelah menyerahkan hadiahnya kepada Jovanka. “Kau bisa saja, tapi benar juga, ya. Aku juga tidak menyangka masih bisa selihai itu. Selama menikah aku tidak pernah berkesempatan untuk latihan atau mencoba menari dan berdansa lagi. Dan kesempatan tadi membuatku senang,” sahut Jovanka antusias. Jova yang tadinya tidak bersemangat jadi banyak tersenyum seakan kegundahan hatinya hilang. Setelah acara berakhir, Jova kembali menyendiri menikmati terpaan angin dingin malam sambil menikmati anggur merahnya. Suasana hatinya cukup baik kali ini. Tiba-tiba sebuah kotak kecil muncul di hadapannya. Jovanka menatap tangan kekar yang memegang kotak itu. Bibirnya tersenyum melihat David berdiri di hadapannya. “Ini untukmu, anggap hadiah karena sudah memenangkan permainan tadi,” ucap David tersenyum. Jovanka menerima kado itu. “Terima kasih untuk kadonya,” Jawab Jovanka menatap David.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN