Keduanya menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang wanita tua bersahaja berjalan ke arah mereka. Jelita tentu saja terkejut, ia baru pertama kali melihat wanita itu. Bagaimana kalau wanita itu berpikiran macam-macam terhadapnya? Ia dengan cepat berdiri.
“Oma? Kenapa tidak beri kabar dulu kalau mau datang? Kan aku bisa jemput.” Abizar bangkit dan menyapa sambil mencium tangan wanita tua itu.
“Tidak perlu sayangku, Oma hanya mampir sebentar lalu balik lagi. Oma kan kangen denganmu,” sahut Oma membalas pelukan Abizar.
“Ya sudah, kebetulan sekali kami sedang sarapan. Ayo kita makan bersama, ini masih banyak,” ajak Abizar.
“Oh ho.. baiklah kalau begitu. Wah, kelihatannya makanan ini enak,” ucap oma sambil melirik Jelita yang sedang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
“Oya Abi, ini siapa?” tanya oma, ia menatap Jelita dengan lekat dan tersenyum ke arahnya saat pandangan mereka bertemu.
“Oma tersenyum padanya? wah, ini hebat, kenapa aku tidak pernah melihat senyum Oma pada menantu cucu Oma? Oya, perkenalkan, ini istri dari sahabatku yang ke luar negeri. Dia untuk sementara waktu tinggal di sini. Karena sedang hamil dan dia sama sekali tidak punya keluarga, makanya Jovanka mengajaknya untuk tinggal di sini sementara waktu. Namanya Jelita. Jelita, ini Omaku,” ucap Abizar memperkenalkan mereka. Abizar tampak sangat tenang seakan situasinya sangat natural. Padahal Jelita seakan ingin mati saja menyembunyikan ketegangannya.
Jelita mengulurkan tangannya dengan takut-takut. “Saya Jelita, bu.” ucapnya.
Oma menjabat tangan Jelita sambil tersenyum ramah. “Nama saya Wulan, panggil saya Oma Wulan. Kau sangat cantik. Kasian sekali karena suamimu harus meninggalkanmu dalam kondisimu seperti ini. Tapi tidak apa, ada banyak orang di sini yang akan mengurusmu, kau tenang saja. Atau kau mau tinggal bersama Oma saja? kebetulan Oma tidak ada yang menemani.
Cucu Oma hanya Abizar, dan kau lihat sendiri kan, kalau Abizar sudah punya kehidupan dan kesibukan sendiri. Fia itu tidak pernah menjenguk Oma, pas sakit saja baru jenguk, itu pun kalau di hubungi. Kalau enggak, mungkin Oma mati pun dia tidak akan datang.” Oma malah mengadu dan mengeluh seakan Jelita adalah dewi yang akan menolongnya.
Mendengar hal itu Jelita tersenyum. “Oma jangan salah sangka terhadap Pak Abizar, Pak Abizar pasti sangat menyayangi Oma,” sahutnya.
“Ah, Oma hampir tidak pernah merasakan kasih sayang itu kalau memang dia benar sayang kepada Oma. Dia hanya sibuk dengan istri dan urusannya sendiri. Kau tahu Jelita, istri Abizar itu tidak pernah datang mengunjungi Oma sekalipun. Jadinya cucuku juga ikut-ikutan kebiasaan buruk istrinya itu,” celoteh Oma.
Jelita menatap Abizar dan melihat suaminya itu hanya tersenyum mendengarkan ucapan neneknya.
“Udah dong, Oma. Kasihan kan Jovanka di jelek-jelekin terus di depan Jelita. Bagaimana kalau Jelita bilang ke suaminya kalau istriku jahat,” sahut Abizar membela diri. Meskipun sang nenek berkata demikian, Abizar sama sekali tidak kesal. Abizar hanya tersenyum melihat neneknya bersemangat berbincang ramah dengan Jelita.
Itu mengejutkan, Mengingat selama ini sang nenek tidak pernah seramah itu kepada Jovanka. Neneknya tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap hangat terhadap istrinya.
“Biarkan saja orang tahu sifat asli istrimu itu. Jangan hanya ingin terlihat sempurna di mata orang-orang tapi ternyata apa yang di perlihatkan sama sekali bertolak belakang dengan sikapnya aslinya.” Oma masih saja menggerutu.
“Oya, jelita. Suamimu akan tinggal berapa lama di luar negeri, kenapa kau tidak sekalian ikut saja?” tanya Oma tiba-tiba.
Jelita tidak bisa menjawab, ia menoleh ke arah Abizar meminta pertolongan.
“Suaminya kebetulan mengurusi beberapa proyek penting di singapura, dan di beberapa Negara lain juga. Jadinya jika dia di sana juga akan sendirian. Kasian kan kalau suaminya terus-terusan meninggalkannya di tempat asing, apalagi proyeknya itu akan berlangsung selama 9 bulan.” Abizar menjelaskan.
Sang nenek mengangguk paham. “Kalian sangat beruntung ya, sudah akan dikarunia anak. Lain halnya dengan cucuku ini. Sampai sekarang mereka belum memberiku cicit.
Oya, Abi, kemana istrimu itu. pasti tidak ada di rumah lagi kan, dia hanya sibuk sama urusannya di luar.” Tanya Oma.
Abizar menghela nafas, memang yang neneknya ucapkan itu ada benarnya. Ia tidak bisa menyangkal kenyataan itu. Mungkin hal inilah yang membuat neneknya tidak menyukai Jovanka. Apalagi, kali ini kepergian Jovanka sama sekali tidak ia setujui.
“Dia ada urusan penting menyangkut pekerjaannya di luar. Oma, bisa kita bicara berdua?” ucap Abizar. Ia rasa perlu membicarakan hal ini dengan neneknya sebelum semuanya semakin runyam. Ia ingin neneknya menyukai Jovanka juga.
Wanita tua itu menatap Jelita dan Jelita hanya mengangguk setuju.
“Baiklah, tapi jangan lama-lama. Oma masih ingin berbincang degan Jelita,” ucap sang nenek sambil menggenggam tangan Jelita.
“Tenang saja, Oma. Jelita akan menunggu Oma dan kita akan berbincang sepuasnya,” ucap Jelita.
“Wah, iya baiklah. Oma pergi dulu yang sayang. Kau Abi, cepatlah. Jangan lama mengulur waktu,” ucap oma sambil beranjak dari duduknya.
“Iya,” sahut Abizar.
Keduanya pun meninggalkan jelita.
Jelita menghela nafas lega, ia tersenyum.
“Ternyata nenek pak Abizar sangat baik dan ramah, aku jadi senang,” gumannya. Ia pun melangkah menuju kamarnya.
***
“Oma, sampai kapan Oma ingin bersikap dingin kepada Jovanka? Dia itu cucu menantu Oma.” Abizar menatap neneknya dengan tatapan serius.
“Abi, dengar, Oma tidak akan pernah bersikap baik kepada wanita itu. sejak awal Oma memang tidak pernah menyukainya. Oma tidak pernah merestui kalian, dan terbukti, kalian tidak bisa memiliki keturunan yang kalian janjikan. Kau tahu, tapi kau tetap saja mempertahankannya. Kau sudah berjanji kan, jika kalian belum memberikan Oma seorang cicit kalian akan berpisah,” sahut Oma Wulan dengan penuh keseriusan.
“Oma masih saja mengungkit hal itu, aku sudah sangat mencintai Jovanka, Oma. Sangat tidak bijak jika Oma memaksa kaki untuk berpisah hanya karena seorang anak.” Abizar memberikan pembelaan.
“Tapi wanita itu penuh dengan kebohongan,Abi. Suatu saat jika kau tahu yang sebenarnya menyangkut istri yang kau sangat cintai itu, kau pasti akan sakit dan terluka. Oma hanya mencoba membuka matamu sayang, Oma tidak ingin kau hancur nanti,” ucap sang nenek.
Kening Abizar berkerut. “Aku sangat mencintainya, Oma. Kebenaran apa yang Oma maksudkan? Bukankah dulu Oma sangat menyayangi Jovanka? Oma bahkan memaksaku untuk segera menikahinya. Tapi kenapa sekarang Oma malah memusuhinya?” Abizar semakin tidak mengerti ucapan neneknya itu.
“Iya, itu dulu. Sebelum kecelakaan itu merenggut semua ingatanmu tentang Jovanka. Sekarang bahkan melihat wanita itu saja Oma seakan santa muak.” Sang nenek mulai terlihat kesal.
“Kenapa Oma berkata seperti itu? justru Oma seharusnya bersyukur karena aku dan Jovanka berhasil selamat. Harusnya Oma semakin menyayangi Jovanka.” Tuntut Abizar dengan perasan putus asa.
“Ingat ini Abi, Oma tidak akan pernah menyukai wanita itu sampai kapan pun. Terserah kau jika ingin mempertahankan wanita seperti itu. Oma yakin semuanya pasti akan terkuak suatu hari nanti dan kau akan mengetahui yang sebenarnya.
Sudahlah, Oma tidak ingn membicarakan hal tidak penting ini lagi. Jika Oma tahu kau akan membahas wanita itu tadi, Oma tidak akan mau. Lebih baik Oma menghabiskan waktu bersama Jelita. Entah kenapa Oma bisa langsung menyayangi perempuan itu, padahal baru pertama melihatnya.
Atau kalau tidak bagaimana kalau Jelita tinggal bersama Oma saja, mungkin akan lebih baik. Jelita bisa menemaniku di rumah sambil merawat kehamilannya. Pasti anak Jelita secantik dirinya. Atau akan setampan ayahnya. Loh..loh… kenapa oma malah antusias menunggu akan Jelita lahir ya. Ha..ha… ya sudah, Oma mau menemui Jelita dulu.”
Ucap sang nenek lalu melangkah meninggalkan Abizar yang hanya bisa menghela nafas frustrasi.