Mendambamu

1185 Kata
“Anda? Ada perlu apa ke sini?” ketus Jovanka. Ia tidak ada mood untuk berbincang tidak penting dengan orang asing. Kepalanya dipenuhi oleh masalah kehidupannya. “Wah, ternyata Anda orangnya galak juga terhadap orang yang baru kenal,” sahut David sembari duduk di sebelah Jovanka. “Saya rasa Anda tidak bisa membedakan situasi ya,” sindir Jovanka saat melihat sikap David yang tidak mau tahu kalau ia tidak ingin di ganggu. “Aku cuma ingin menghirup udara segar, dan duduk di tempat di mana menurutku nyaman, aku rasa aku tidak melakukan kesalahan,” ucap David menatap jovanka. Jovanka tidak menjawab, ia hanya menatap laut lepas. Lama mereka terdiam, Jova kembali laru t dalam pikirannya sedangkan David hanya menatap lautan dan sesekali melirik ke arah Jovanka. “Aku berpikir, kenapa wanita secantik dirimu tidak datang dengan pasangan.” David memulai percakapan. Jovanka menoleh ke arah David lalu kembali menatap laut. “Jika kau tidak punya urusan datang ke sini lebih baik pergi saja, aku tidak suka orang lain berkomentar tentang diriku,” sahut Jovanka dingin. Ia benar-benar tidak ingin di ganggu, apalagi dengan seorang pria tidak jelas seperti David. Mendengar itu David terkekeh. “Aku suka sikap aroganmu, jarang ada wanita sepertimu di dunia ini. dan hal itu membuatku semakin bersemangat,” ucapnya tersenyum. Jovanka hanya memutar bola matanya jengah mendengar ucapan David yang semakin ngawur saja. “Apa-apaan pria ini, dia mau cari masalah, ya?” gerutunya pelan. “Apa ngomong sesuatu?” tanya David. Jovanka menggeleng. Ia harus pergi dari tempat ini sebelu emosinya meledak. “Maaf tuan David, sepertinya aku harus beranjak dari tempat yang nyaman ini karena terus terang saya tidak suka gangguan mala mini,” ucap Jovanka sembari beranjak dari tempatnya, namun tidak di sangka, David menahan langkahnya dengan memegang tangan Jovanka. Karena terkejut dan marah, Jovanka menepis dengan kuat pegangan tangan pria itu. “Apa maksudmu bersikap seperti tadi? Apa aku punya masalah denganmu? jika kau tidak ingin sikapku berubah menjadi permusuhan, lebih baik kau tidak pernah lagi menampakkan dirimu di hadapanku, Tuan David. Kau benar-benar membuatku muak,” cecar Jovanka penuh emosi. “Tunggu dulu Jovanka, aku hanya ingin mengatakan jika biar aku saja yang pergi dari sini. Kau bisa tetap di sini.” David mencoba menjelaskan maksudnya tapi tampaknya kesabaran Jovanka sudah habis. “Tidak, aku sudah tidak suka di sini lagi. Tolong jangan pernah menemuiku seperti ini lagi!” ucap Jovanka lalu pergi dari temat itu. “Jovanka, kau membuatku semakin penasaran denganmu.” ucap David sambil menatap Jovanka yang sudah hilang dari pandangan. Jovanka berjalan dengan terburu-buru, khawatir jika David nekat membuntutinya sampai di sini. Sungguh ia sekarang merasa kurang nyaman berada di tempat ini lagi. ia ingin pulang, tapi pestanya akan berlangsung selama 3 hari 3 malam di atas kapal ini. tidak mungkin ia meminta Kristin untuk mengehentikan pelayan hanya karena alasannya itu. “Jova, kau mau ke mana?” Kristin tiba-tiba muncul di hadapannya. “Ah, aku….” Jovanka tidak melanjutkan ucapannya. ‘Apa aku tanya saja kepada Kristin kalau aku mau pulang karena tidak nyaman dengan David? Tapi itu terdengar kekanak-kanakan.’ “Apa kau baik-baik saja, Jovanka?” tanya Kristin karena melihat Jelita diam saja. “Eh, iya. Aku hanya ingin istirahat sebentar di kamar. kau lanjutkan saja pestanya tanpa aku, jika sudah agak baikan, aku akan keluar untuk bergabung.” Ucap Jovanka memaksakan tersenyum. Kristin mengangguk. “Oke baiklah, jika butuh sesuatu, beritahu aku saja.” ucapnya sedikit khawatir. “Iya, jangan khawatir. Aku akan baik-baka saja.” sahut Jova. Jovanka melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar. ia merebahkan tubuhnya, kepalnya sedikit pusing. Ia tiba-tiba teringat dengan pria menyebalkan itu, kenapa pria itu mengganggunya? Dari semua orang yang ada di kapal ini, kenapa dirinya? Hah, menyebalkan? Jovanka menghembuskan nafasnya kesal. *** Cahaya pagi yang segar menyinari bumi. Kicau burung bernyanyi merdu menyemarakkan pagi yang cerah. Embun yang menetes menguap tanpa bekas diterpa cahaya matahari. Di dalam kamar yang hangat, tampak dua insan masih tertidur dengan pulas. Keduanya berpelukan saling membagi kehangatan. Jika di lihat sekilas, mereka adalah pasangan suami istri yang saling menyayangi dengan penuh cinta. Betapa merea terlihat tidak ingin kehangatan itu berakhir. Jelita membuka mata, dirasakan sesuatu yeng memeluknya dengan hangat. “Ah...!” Jelita menutup mulut dengan cepat saat pekikannya hampir saja keluar. melingkar Apa yang sudah terjadi tadi malam? Jelita tampak mengingat-ingat apa yang ia perbuat hingga suaminya itu memeluknya seperti ini. Tangan Abizar yang kekar dengan posesif di pinggang kecil Jelita. Wajah Jelita memerah, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia merasa senang dan bahagia. Ia tidak ingin apa yang ia rasakan sekarang berakhir degan cepat. Jelita kembali merebahkan tubuhnya, memandangi wajah pulas suaminya itu dengan penuh damba. Tidak apa jika menghabiskan pagi ini untuk memuja suaminya itu. Kamu tidak salah Jelita, dia adalah suamimu, kamu berhak menyentuhnya. Mendambanya sesukamu. Kamu punya semua hak atasnya. Tangannya bergerak ingin menyentuh hidung mancung Abizar, tapi tertahan. Ia takut jika gerakannya itu malah akan membangunkan Abizar dan kesenangannya akan berakhir. ‘Biarkan saat ini aku menjadi wanita yang tidak tahu malu karena menginginkan suami orang. Biarlah kebahagiaan ini aku rasakan lebih lama, karena setelah Abizar terbangun, ia tidak akan mendapatkan kehangatan seperti ini darinya. Jelita terkejut melihat gerakan mata Abizar yang masih terpejam, tampaknya sebentar lagi Abizar akan bangun. Buru-buru Jelita memejamkan matanya, ia berusaha keras menenangkan perasaannya agar deru jantungnya yang berdetak kencang tidak di sadari oleh Abizar. Abizar membuka mata, ia melihat Jelita masih tertidur. perlahan ia menggeser tangannya yang memeluk tubuh Jelita. Mengusap wajahnya dan bangkit. Abizar merapikan rambut Jelita yang menutupi wajahnya, pria itu tersenyum. “Kau sungguh gadis yang malang, maafkan aku. apa yang harus aku lakukan agar kau hidup bahagia setelah anak kita lahir? Apa kau akan pergi jauh setelah aku menceraikanmu? Aku besar-benar berharap kau akan hidup bahagia,” guman Abizar lirih lalu mengecup kening jelita dengan lembut. Abizar bangkit dan meninggalkan tempat itu, meninggalkan Jelita yang sudah berurai air mata. Air mata Jelita, hatinya hancur berkeping-keping mendengar ucapan Abizar. Suaminya itu sama sekali tidak memiliki perasan apapun terhadapnya, selain ras tanggung jawab. ‘Aku memang akan pergi jauh, Mas. Aku akan pastikan setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. iya, kau jangan khawatir.’ Batin Jelita. Pagi-pagi sekali Jelita sudah menyiapkan makanan di atas meja. Ia berusaha untuk tidak menambhakan bumbu bawang dalam masakannya. Ia harus memastikan sebelum ke kantor, Abizar harus sarapan. Abizar turun dari tangga, ia langsung menuju pintu utama tami Jelita menahan langkahnya. “Bapak jangan coba-coba meninggalkan rumah ini sebelum sarapan,” ucapnya memaksa. ‘Dan aku memaksa!” imbuhnya menuntut. Abizar menghela nafas lalu mengangguk. “Baiklah,” “Nah, begitu dong… aku senang sekali.” Ucap Jelita tersenyum lebar. “Kamu ini…!” Abizar mengacak rambut istrinya lalu berjalan kearah meja makan. Jelita menyajikan makanan ke dalam piring Abizar. Abizar menatap istrinya dan tersenyum. “Wah, ini sama sekali tidak ada bau bawangnya.” Ucapnya. ‘”Iya pak, aku sengaja tidak menambahkan bawang. Karena Bapak tidak suka.” Sahut Jelita. Abizar pun mulai menyantap makanannya dengan tenang, jelita senang sekali melihat suaminya makan dengan lahap. Ia juga ikut menyantap makannya. “Selamat pagi, sayangku…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN