Memelukmu

1073 Kata
Abizar menatap Jelita lama, melihat istrinya gugup dan merona, ia tersenyum. “Kamu yakin mau tidur di sini? Atau aku yang ke kamarmu?” tanya Abizar. “Ter…terserah Bapak saja, yang penting saya bersama Bapak,” jawab Jelita malu-malu. Abizar mengangguk sambil terus menatap wajah merona istrinya. “Baiklah, saya ke kamarmu saja. Kau ke sana duluan, aku bereskan pekerjaanku sedikit lagi, tunggu saja,” ucap Abizar. “Baik, Pak,” ucap Jelita menurut. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan kembali ke kamar. Jantung Jelita berdegup kencang, ia tidak percaya bisa mengatakan hal seberani itu kepada Abizar. Kenapa ia bisa melakukan itu? bagaiman kalau Abizar nanti melakukan hal yang mengerikan seperti dulu? Tapi ini semua diluar kendalinya, ia sudah menahan sebisanya untuk tidak terpengaruh dengan keinginannya itu, tapi ia gagal mengontrol perasaannya dan berakhir dengan mengungkapkan kepada Abizar. “Apa aku bilang saja tidak usah, ya? tapi aku mau Pak Abi bersamaku. Duh, kenapa aku bisa memiliki keinginan aneh begini sih? Bikin malu saja. Bagaimana kalau Pak Abi memberitahu ibu Jovanka kalau aku memintanya untuk tidur bersamaku? Pasti dia akan murka. Duh, bagaimana ini?” Jelita berjalan ke sana ke mari kebingungan . Pintu kamar terbuka, Abizar masuk ke dalam. Jelita hanya bisa termangu di tempatnya menatap Abizar yang melangkah menghampirinya. “Jelita…” ucap Abizar melihat Jelita hanya berdiri terdiam. Jelita tersentak, pikirannya buyar . Ia melihat suaminya tersenyum. Betapa tampan suaminya ini, betapa baik dan lembutnya ia. Ibu Jova sangatlah beruntung mendapatkan pria sehebat ini dalam hidupnya. “Kau melamun lagi…” Jelita kembali tersentak mendengar suara Abizar. Ia tertunduk malu ketahuan melamun. “Terima kasih Bapak mau menyempatkan waktu untuk datang ke mari,” ucap Jelita. “Iya, sama-sama. Ini juga untuk anakku, mungkin ia yang menginginkan papanya untuk datang menemaninya malam ini. Jadi kau tidak perlu sungkan dan merasa tidak enak hati,” ucap Abizar lalu melangkah ke arah sofa. Jelita ingin berkata untuk tidur di ranjang saja bersamanya tapi ia takut kalau keinginannya itu akan keterlaluan. Ia berjalan ke arah ranjang dan melihat Abizar juga mulai merebahkan tubuhnya. Jelita gelisah di tempatnya, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Meskipun ia berusaha tapi tetap saja ia hanya bisa bolak-balik di atas tempat tidur. Ia melirik ke arah Abizar yang sudah terlelap, jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Jelita semakin gelisah. Ia bangun dan meminum segelas air putih. Jelita menatap Abizar dari jauh, ia melangkah menghampirinya. Menatap wajah yang tertidur pulas. Sungguh wajah yang sangat tampan. Kenapa ada pria yang setampan ini? apalagi saat memejamkan mata dengan damai seperti ini. Tangan jelita bergerak ingin menyentuh wajah Abizar tapi sebelum tangannya benar-benar menyentuh wajah tampan itu, gerakannya berhenti. Tidak jelita, kau tidak boleh menaruh perasaan lebih kepada pria ini. Ingat, kau hanya istri kontrak. Pekerjaanmu hanyalah melahirkan anak dari pria ini setelah itu kalian akan berpisah. Apa gunanya kau menyukai pria milik orang lain? kau hanya akan menyakiti hatimu sendiri. Batin Tiara bersuara. Mengingatkan dirinya akan hal yang nantinya ia akan sesali seumur hidup. Jelita beranjak dan mejauhi Abizar tapi baru saja ia melangkahkan kakinya, suara Abizar mengejutkannya. “Jelita…?” Jelita membeku, ia menoleh perlahan ke arah Abizar yang sudah duduk di sofa. Mata Abizar yang tajam menatapnya. “Kau tidak bisa tidur?” tanya Abizar. Jelita mengangguk tanpa berani menatap balik Abizar, pria itu beranjak dari duduknya, menggandeng tangan Jelita menuju ranjang. Abizar duduk di tepi ranjang. “Kemarilah,” ucap Abizar. Jelita duduk di sebelah Abizar. “Sekarang kau tidur, aku akan menemanimu di sini,” ucap Abizar dengan lembut. Jelita merasa senang sekali, ia tanpa sadar tersenyum. “Kau sesenang itu ya, aku temani di sini?” goda abizar. Senyum Jelita terhenti, ia merasa semakin malu, perempuan macam apa dirinya ini, meminta suami orang lain untuk tidur bersamanya. Sejenak wajah Jovanka terbayang dalam pikirannya. Ia merasa bersalah. “Maafkan saya. Pak. Saya seharusnya tidak meminta hal aneh ini kepada Bapak. Tapi saya benar-benar tidak bisa tidur. Saya jadi mengganggu tidur Bapak,” ucap Jelita merasa bersalah. Tangan Abizar bergerak mengelus kepala Jelita dengan lembut. “Sudah ku bilang tidak apa-apa. Jangan terus merasa bersalah. Aku tidak keberatan, kok. Bukankah kau juga istriku. Kau sebenarnya punya hak yang sama seperti Jovanka. Tapi maaf, aku tidak bisa memberikanmu hak itu secara maksimal. Aku rasa kau tahu alasannya, kan? Tapi untuk malam ini, aku akan menemanimu. Ayo, tidurlah, tidak usah berpikir macam-macam. Aku tidak mau anak kita stres juga nanti,” ucap Abizar sambil merebahkan tubuh Jelita dan ikut berbaring di sampingnya. “Pak…” panggil Jelita lirih. “Iya.” Abizar mendekatkan tubuhnya ke Jelita. “Bo.. boleh aku peluk?” tanya Jelita takut-takut. “Kau yakin mau memelukku? Apa tidak takut aku akan menyerangmu lagi seperti saat itu?” ucap Abizar menggoda Jelita lagi. Gadis ini lucu juga, pikir Anizar. “Aku tidak takut lagi, Pak. Aku tahu Bapak orang yang sangat lembut dan baik. Jadi mana mungkin menyakitiku lagi.” “Tahu dari mana kamu kalau aku ini lembut, aku juga kan seorang pria. Dan kau tahu pria itu seperti apa? Dia akan berubah seperti singa kelaparan jika sudah menemukan mangsanya,” ucap Abizar berbisik di telinga Jelita. “Ibu Jovanka yang bilang kepada saya, Pak. Saya juga yakin Bapak bukan pria seperti singa. Bapak itu orangnya penuh dengan kelembutan. Jadi boleh kan pak, kalau aku me….” “Sssttt…. Tidurlah. Ini sudah larut. “ Abizar memeluk tubuh kecil Jelita. Membuat Jelita terdiam merasakan kehangatan tubuh Abizar yang mendekapnya. Andai semua yang aku rasakan ini akan selamanya menjadi milikku? Andai Abizar mencintaiku seperti cintanya kepada Jovanka. Jelita membalas pelukan Abizar dan mencoba memejamkan mata. *** Jovanka duduk di kursi sambil memandangi laut malam yang gelap. Deburan angin laut malam dingin menusuk, tapi Jovanka terlihat betah di luar sana. Ia sedang berada di kapal pesiar, pesta Krinstin sedang berlangsung tapi ia keluar sejenak untuk menghirup udara segar. Pikiran Jovanka melayang, Ia teringat oleh suaminya, bagaimana menghadapi Jelita yang sedang mengandung agar hatinya tenang tinggal di rumahnya sendiri. Ia sudah meminta Abizar untuk memindahkan Jelita di apartemen tapi dengan tegas Abizar menolak dengan alasan jika wanita hamil harus merasakan kasih sayang dan perhatian penuh. Meskipun apa yang Abizar katakan itu ada benarnya, namun Jovanka merasa tidak nyaman Jelita berada di sekitarnya. Ia meneguk anggur merah yang ada di tangannya sambil terus menatap laut malam. “Apa aku boleh duduk di sini menemanimu?” lamunan Jovanka buyar, ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat David tersenyum penuh arti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN