Tidur Bersamamu

1178 Kata
David seakan tersadar dari lamunannya. Ia segera melepas tangan Jovanka. “Oh, maaf. Saya tidak bermaksud kurang sopan. Saya hanya terbawa perasaan saja,” ucapnya tanpa merasa canggung sedikitpun. “David, jangan coba-coba menaruh perasaan padanya. dia itu su…” “Ayolah, Kristin. Kau seperti ibu galak yang sangat melindungi anaknya, aku tidak bermaksud macam-macam. Tidak salakan jika seorang pria terpikat dengar seorang wanita?” ucap David sembari mengerling ke arah Jovanka. Jovanka hanya tersenyum santai merespon ucapan David meskipun dalam hati ia merasa sedikit risih dengan sikap pria itu. Ia seakan terang-terangan menunjukkan perasaan padanya, padahal mereka baru pertama kali bertemu. “Hei, aku bilang kau tidak boleh mendekatinya. Kau hanya akan membuang-buang waktu saja, aku peringatkan padamu, ya.” Kristin berceloteh kesal melihat David yang bukannya mundur, malah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Jovanka. “Sudahlah Kristin, lupakan saja. Tuan David hanya bercanda, sebaiknya kau tunjukkan kamarku saja. Aku cukup lelah sekarang.” Jovanka menengahi keributan yang sepertinya akan mereka mulai. “ya sudah, David terima kasih sudah datang. Roland sudah menunggumu. Tapi ingat, peringatanku masih berlaku. Kami akan pergi, sampai jumpa di kapal pesiar,” ucap Kristin. “Iya, sampai jumpa.” Sahut David sambil menatap dalam Jovanka yang sudah berjalan mengikuti langkah Kristin. “Kau bilah saja memperingatkan ku Kristin, tapi hatiku tidak bisa di hentikan lagi,” guman David sambil tersenyum. *** Setelah keberangkatan Jovanka, Abizar menyibukkan diri dengan kerjaannya di kantor. Ia langsung berangkat kerja dan pulang di malam hari. Para pelayan sudah menyiapkan makanan kesukaan Abizar tapi ia tidak sedikitpun menyentuhnya. Jelita keluar dari kamarnya berniat mengambil air di kulkas, melihat makanan di atas meja makan sama sekali tidak di sentuh. Jelita menghela nafas panjang. “Tuan sama sekali tidak menyantap makanan ini, Nyonya. Padahal saya tahu kalau tuan belum makan,” ucap Bu Sumi, pelayan berumur 50 tahun yang sudah bekerja selama 20 tahun di rumah Abizar. “Tidak apa-apa Bi, biar saya yang akan membujuk tuan untuk makan, Bibi tidak usah khawatir,” ucap Jelita. “Iya baik Non, kalau begitu saya permisi,” ucap Bi Sumi lalu meninggalkan Jelita. Jelita berjalan perlahan membawa nampan berisi makanan ke arah kamar Abizar. Menghela nafas lalu mengetuk pintu. Namun setelah mengetuk beberapa kali, tidak ada jawaban. Ia pun langsung membuka kamar dan masuk ke adalm. “Pak Abizar…?” panggilnya sambil melihat sekeliling. “Tidak ada orang, apa mungkin dia ada di dalam kamar mandi? Lebih baik aku simpan makanan ini saja dulu di atas meja. Kalau dia sudah selesai baru aku masuk lagi untuk membujuknya makan,” gumannya. Jelita berjalan menuju meja dan meletakkan makanan itu. Tapi baru saja ia berniat berjalan menuju pintu, pintu kamar mandi terbuka. Abizar keluar hanya memakai handuk pendek dengan rambut yang sedikit basah. “Jelita… kau ada perlu apa ke mari?” sapa Abizar sambil melangkah santai ke arah jelita. Sementara Jelita yang malu melihat Abizar setengah telanjang hanya bisa tersenyum canggung sambil mundur beberapa langkah. “Oh, i…ini saya hanya ingin mengantar makanan. Kata bi Sumi, Bapak tidak makan malam lagi,” ucapnya gugup. “Hmm begitu rupanya. Tidak apa-apa Jelita, kau tidak perlu repot. Saya sudah minum jus tadi jadi tidak akan apa-apa. Perut saja sudah terisi. Kau jangan khawatir. Sebaiknya kau pulang saja ke kamar dan istirahat. Ini sudah larut, kau tidak boleh begadang,” ucap Abizar penuh perhatian. Tangannya bahkan terulur ingin menyentuh perut Jovanka tapi gadis itu menghindar. “Ah, Ba..Bapak sebaiknya pakai baju dulu,” ucap jelita panik. Gerakan tangan Abizar tertahan, ia baru menyadari jika dirinya masih menggunakan handuk pendek yang membuat Jelita malu. “Oh, maaf. Saya tidak sadar. Kalau begitu saya pakai baju dulu,” ucap Abizar lalu berjalan menuju ruang ganti. Jelita menghela nafas lega, jantungnya hampir saja copot memandangi tubuh suaminya yang sangat menggoda iman. Ia mengakui jika Abizar memiliki tubuh yang sempurna. Otot atletis dengan d**a yang bidang membuatnya betah memandanginya. Andai saja Abizar bisa ia miliki, andai saja nasib pernikahannya tidak seperti ini. “Jelita…?” Jelita tersentak mendengar suara Abizar memanggilnya. “Iya, Pak?” sahutnya gugup. ‘Sejak kapan dia ada di situ?’ pikirnya. “Kamu melamun, ya?” tanya Abizar. “Ah, tidak Pak,” jawab Jelita seraya menggeleng. Abizar menatap ke arah Jelita lalu tersenyum. “Sebaikanya kau kembali ke kamarmu, istirahat yang banyak. Sudah minum s**u kan?” Abizar kembali bertanya dengan penuh perhatian. Hati Jelita terasa meleleh menerima perhatian dari Abizar, andai perhatian itu didasari oleh cinta darinya, betapa bahagia hidupnya. “Saya sudah minum s**u, Pak. Saya khawatir dengan Bapak saja, karena tidak makan. Bagaimana kalau Bapak sakit? memikirkan itu saya jadi tidak tenang.” Jelita mengambil makanan yang di bawanya tadi. “Jika Bapak ingin saya tidur dengan tenang, aku mohon Pak Abizar makan. Buka mulutnya, Pak, aa…” Jelita mendekatkan sendok ke mulut Abizar membuat pria itu tidak memiliki pilihan selain membuka mulut. “Nah, gitu dong,” ucap Jelita senang. ia tersenyum saat melihat Abizar mengunyah makanannya. “Kau ini ya, tidak mau dibilangin.Kenapa kau melihatku begitu?” ucap Abizar. “Saya senang sekali melihat Bapak bisa makan lagi, jangan terlalu memaksakan diri, Pak. Semua akan mengalir sebagai mana mestinya. Kalau sakit kan pasti semua orang yang menyayangi Bapak pasti akan sedih dan cemas,” ucap Jelita sambil mendekatkan sendok ke mulut Anizar, tapi pria itu menggeleng. “Sudah cukup, jelita. Aku sama sekali tidak nafsu makan. Jika kau terus memaksaku seperti ini aku mungkin akan muntah,” ucap Abizar menolak. “Tapi Bapak harus makan lagi, setidaknya makan beberapa suap lagi.” Jelita mencoba membujuk. “Tidak Jelita, aku benar-benar tidak kuat lagi mencium bau makana itu.” Abizar menutup mulutnya dan menggeleng. “Bapak sakit? kenapa reaksi Bapak seperti orang ngidam saja? seharusnya kan saya yang ngidam, kok malah Bapak yang…” Mata Jelita melotot, ia menatap Abizar yang sepertinya ingin muntah. “Apa Bapak mengalami morning sickness karena aku hamil?” tanya Jelita, ia tahu betul gejala morning sickness pada seorang pria karena saat ibunya mengandung dirinya, ayahnya mengalami hal serupa. “Apa mungkin itu benar, Jelita? Kata dokter gejala yang aku rasakan kemungkinan besar adalah morning sickness,” tutur Abizar. “Ya sudah Pak, sebaiknya Bapak minum air putih yang banyak. Jangan lupa istirahat. Makannya udahan saja kalau begitu,” ucap jelita. “Ini Pak di minum dulu.” Jelita memberikan segelas air putih kepada Abizar. Pria itu pun meminumnya. Jelita belum beranjak dari tempatnya, ia bahkan sama sekali tidak berniat meninggalkan Abizar. “Pak,…” ucap Jelita lirih. “Iya?” “Apa boleh saya tidur di sini malam ini?” tanya Jelita ragu-ragu. “Kenapa kau mau tidur di ranjangku? Kau tidak takut lagi padaku, hmm?” pancing Abizar. Jelita menggeleng. “Saya hanya ingin bersama Bapak malam ini. Saya tidak tahu tapi perasaan ini sangat kuat. Akhir-akhir ini saya tidak pernah tidur dengan tenang, saya gelisah. Saya… saya kepikiran Bapak terus, saya ingin bersama Bapak, itu kalau memang Bapak tidak keberatan.” Jelita menjelaskan maksudnya. Meskipun sebenarnya ia sangat malu mengungkapkan isi hatinya, tapi ia tidak bisa mengontrol perasaannya lagi. Abizar menatap Jelita tanpa kedip.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN