Kenalan Baru

1219 Kata
“Istriku tidak hamil, dokter? Kenapa dokter menanyakan hal itu?” tanya Abizar , Jovanka juga ikut mengangguk meminta jawaban. “Eh, begini. Gejala yang dialami Pak Abizar ini kemungkinan besar adalah morning sickness yang biasanya di alami oleh sebagian besar ibu hamil. Penyebabnya bisa bermacam-macam, tapi kebanyakan terjadi karena sindrom couvade. Di mana Suami sangat menghawatirkan kondisi istri, kegelisahan akan menjadi seorang ayah yang semua itu akan menjadi gejala stress. Hal inilah yang menyebabkan morning sickness. Ya, ini masih diagnosis sementara saya dari gejala yang terlihat. Tapi karena istri Anda tidak sedang hamil, berarti keluhan Anda ini bisa saja hanya karena kondisi tubuh yang memang kurang fit, terlepas dari hasil dari pemeriksaan tadi. Begini saja, saya resepkan vitamin. Jika memungkinkan, perbanyak konsumsi air putih dan madu untuk menambah stamina Anda.” Dokter memberikan arahan. Keduanya terdiam mendengar ucapan dokter, Jovanka menatap suaminya seakan mengatakan jika ia benar-benar sedang mengalami morning sickness seperti yang di sampaikan dokter. Iya, Abizar mengalami itu karena istrinya yang lain sedang hamil. Ada sesuatu yang terasa menusuk di hati Jovanka setelah menyadari yang sedang terjadi, kenapa suaminya sampai mengalami hal semacam itu padahal perempuan yang hamil itu tidak ia cintai. Ataukah ini hanya kebetulan semata? “Baik dokter, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih. Ayo sayang,” ucap Abizar sambil menuntun Jovanka keluar dari ruangan dokter. Di dalam mobil Jovanka hanya terdiam, Abizar yang menyadari perubahan istrinya itu menatap Jovanka. “Kau kenapa? Sejak dari dokter tadi kau jadi pendiam?” tanya Abizar. Jovanka menatap suaminya, lalu menggeleng. “Tidak apa-apa sayang, aku hanya kepikiran kerjaan saja. Aku lega kalau kau tidak apa-apa. Mungkin memang hanya perlu istirahat saja,” jawab Jovanka menyembunyikan pikirannya. “Iya, sepertinya memang begitu.” sahut Abizar. Mereka pun terdiam di dalam mobil yang sedang melaju. Suara ponsel Jovanka membuyarkan lamunan mereka. “Ah, ini dari Kristin. Aku angkat dulu ya,” ucap Jova. “Halo Kristin…?” “….” “Oh, begitu rupanya, …. Oke tidak masalah. … jadi dong. Baiklah, bye…” ucapnya lalu mematikan sambungan telepon. Jovanka menoleh ke arah Abizar. “Mas, ternyata jadwal kapal berlayar di majukan, jadi aku harus segera bersiap-siap,” ucapnya bersemangat. Seakan kegundahan hatinya hilang, wajah Jovanka berbinar. “Apakah kau harus pergi di saat aku seperti ini?” protes Abizar. “Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku terlanjur sudah berjanji kepada Kristin untuk datang ke acaranya. Tidak enak kan kalau tiba-tiba membatalkannya begitu saja,” ucap Jovanka. “Tapi kau bisa bilang kalau aku sakit kan?” “Iya sih tapi tetap saja aku merasa tidak enak, lagi pula kau itu tidak sakit. Kau hanya butuh istirahat. Ada bibi yang akan menyediakan semua keperluanmu.” “Tapi yang aku butuhkan itu kau, Jova,” tuntut Abizar. “Udah ah, kau jangan manja begitu dong sayang. Aku hanya beberapa hari saja kok. Kau bersikap seperti aku akan pergi lama saja.” Abizar terdiam, ia seperti biasa tidak berdaya dengan kemauan istrinya. seakan ia benar-benar berada di bawah kaki istrinya karena rasa cinta yang begitu besar. Apa pun keinginan Jovanka pasti akan ia turuti bahkan jika harus di tukarkan dengan nyawa sekalipun ia pasti akan rela. Ia tidak benar-benar berdaya. Begitu mereka sampai rumah, keduanya langsung merebahkan tubuh setelah menyegarkan diri. Tidak ada percakapan di antara mereka, padahal Abizar ingin bercinta dengan Jova karena sudah hampir sebulan mereka tidak pernah melakukan itu. Tapi karena perasaannya sedang tidak baik dan juga Jova terlihat sama sekali tidak peka lagi menyangkut keinginan biologisnya, Abizar terpaksa lagi-lagi harus menahan keinginannya sambil berusaha untuk tertidur. “Kau benar-benar akan pergi?” wajah Abizar suram melihat istrinya sudah siap dengan koper kecilnya. Hatinya merasa sedih dan kecewa terhadap Jovanka. Mendengar suaminya terdengar seperti anak yang merengek pada sang ibu, Jovanka tersenyum. “Sayang, maaf tapi aku harus berangkat. Aku akan segera pulang kok. Ayo dong Mas, jangan menunjukkan wajah murung begitu. Biasanya juga aku tinggal seminggu nggak komplen. Aku segera kembali, sampai jumpa sayang.” Setelah memberikan ciuman di bibir Abizar, Jovanka beranjak menyeret kopernya meninggalkan Abizar yang hanya bisa menatap sendu. *** Jovanka tiba di sebuah hotel yang sudah di reservasi sebelumnya oleh Kristin untuk para tamu undangan. Jova melihat sahabatnya sudah menunggu dengan senyum lebar di wajahnya. “Hei lihatlah siapa yang datang tanpa pasangan malam ini,” goda Kristin sambil menyapa Jovanka. “Udah, kau jangan meledek, ya. suamiku sibuk. Dia gak ada waktu untuk acara seperti ini. Sebenarnya dia melangrang untuk pergi, tak lihat, demi dirimu, aku terpaksa meninggalkan suamiku sendiri. yuk ah, tunjukkan kamarku,” ucap Jovanka. “Waduh, kamu kok tega banget sih. Meninggalkan suami sendiri, nanti ada yang culik baru tahu rasa. Tapi makasih lo ya, kamu bisa hadir. Tapi tidak usah buru-buru masuk kamar, Kamarmu gak akan ke mana-mana, santai aja dulu di sini. Lagian mana seru tidur di kamar sendiri tanpa pasangan. Mendingan temani aku di sini dulu, aku lagi menunggu tamu spesial,” ucap Kristin sambil menatap Jovanka dengan tatapan penuh arti. “Tamu spesial? Siapa?” Jovanka ikut penasaran. “Nanti juga kamu tahu, dia itu teman suamiku. Dia di undang khusus oleh suamiku untuk datang kemari, padahal dia orangnya workaholic. Aku di minta suamiku untuk menyambutnya di sini mewakilinya, soalnya dia ada urusan sebentar,” Jelas Kristin. “Ya sudah kalau begitu,” ucap Jovanka mengalah. Lagi pula memang benar, dia tidak suka berada di kamar sendiri. Ia baru berpikiran, kenapa ia tidak meminta Abizar untuk ikut saja? “Nah, gitu dong. Kita di meja sana saja menungggu.” Mereka berjalan menuju lobi dan duduk di sofa yang tersedia. Setelah menunggu beberapa menit, seorang pria tinggi berjas dengan wajah yang tampan blasteran berjalan menuju mereka. Jovanka yang tengah sibuk membaca majalah tidak menyadari jika pria itu sudah berada di antara mereka. “Hei David, selamat datang. Aku harap kau masih ingat aku,” sapa Kristin sambil menyalami pria itu. Pria itu tersenyum. “Tentu saja, aku tidak pernah melupakan wajah istri dari sahabatku. Tapi kemana Roland, kenapa kau yang menjemputku di sini?” tanya David sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang, tapi tiba-tiba tatapannya terhenti pada sosok Jova yang masih terlihat belum menyadari keberadaannya. Pria itu menatapnya lama, menyadarinya hal itu Kristin tersenyum. “No..no, jangan bilang kau tertarik dengannya,” tegur Kristin. David hanya tersenyum mendengar ucapan Kristin. “Memangnya kenapa?” tanya David penasaran. Kristin menoleh ke arah Jovanka. “Jova, orang yang aku tunggu sudah datang.” Panggilnya sambil mencolek pinggang Jova hingga wanita itu terlonjak kaget. “Ah, eh…iya.” Jovanka tersenyum simpul sambil mengangguk sopan kepada pria itu. “Jova, sepertinya temanku ini ingin berkenalan denganmu, apa boleh?” imbuh Kristin menatap keduanya bergantian. “Ah, iya boleh saja, kenapa tidak?” jawab Jovanka tanpa ragu. Pria itu terlihat senang mendengarnya. “Baiklah. David, ini Jovanka sahabatku, Jovanka ini David sahabat suamiku juga temanmu,” ucap Kristin memperkenalkan mereka. David mengulurkan tangannya kearah Jovanka sambil tersenyum. “David, senang bertemu denganmu,” ucapnya sambil tersenyum. Jovanka menyambut uluran tangannya. “Jovanka, saya juga. salam kenal,” sahut Jovanka juga dengan senyuman. David menatap Jovanka tanpa kedip, tangan mereka belum terlepas, padahal Jovanka sudah ingin menarik tangannya dari genggaman tangan David, tapi sepertinya pria itu masih betah memegang tangan Jovanka. Jovanka sudah merasa kurang nyaman. “Eh maaf David, tapi apa bisa anda melepas tangan saya sekarang?” tegur Jovanka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN