Satu jam berlalu. Ethan menggeliat pelan, namun sebelum ia benar-benar membuka mata, Kylla lebih dulu menyentuh dahinya. Alis Kylla langsung berkerut. Panas. "Ethan..." panggilnya pelan namun tegas. "Bangun." Ethan membuka mata perlahan, pandangannya masih sedikit kabur. "Hm... aku tidur terlalu lama, ya?" "Kamu demam," ujar Kylla cemas. "Tubuhmu panas sekali." Ethan mencoba duduk, namun kepalanya kembali terasa berat. Kylla sigap menahan bahunya agar tidak terhuyung. Tanpa menunggu persetujuan, Kylla meraih ponsel dan memanggil asisten pribadi Ethan ke dalam ruangan. "Tolong bantu saya," kata Kylla cepat. "Pak Ethan demam, kita harus ke rumah sakit." Asisten itu mengangguk dan sudah melangkah mendekat, namun Ethan mengangkat tangan, menghentikannya. "Tidak perlu," ucap Ethan denga

