“Theo ditemukan meninggal, ia ditemukan sudah tidak bernyawa di dekat bantaran sungai.” suara tercekat Gerka kembali memenuhi kepalaku. Aku menutup kedua telingaku erat-erat berusaha memblokir suara-suara Gerka yang terus menerus berulang di telingaku dan tidak mau berhenti. Bersamaan dengan itu memori-memori kebersamaanku dengan Theo dan rasa bersalah tidak bisa menolongnya di detik-detik terakhir hidupnya menghantamku dengan telak. Aku menghantamkan kepalaku ke dinding rumah sakit berharap hal itu bisa mengurangi setidaknya sedikit sakit tak kasat mata yang kurasakan. “Kamu udah gila ya!” bentak Gerka yang masih berada didekatku. Ia menarikku menjauh dari dinding dan mendudukkanku kembali di kursi tunggu. “Theo hubungin gue juga dua hari yang lalu,” ucap Gerka membuka penjelasannya.

