“Jadi seharian ini lo pergi sama Theo? Tanya Lingga lagi. “Gak gitu Ling, gue tadi ketemu dia di jalan. Dari dia gue juga tahu lo nyariin gue. Makanya gue nyuruh dia anterin gue balik.” Lingga menyipitkan mata dan meneliti raut-raut kebohongan di wajahku. Sepertinya anak ini tidak mudah termakan omong kosongku. “Ya udah yang penting kamu udah balik dengan selamat.” Timpal Dimas. Berbeda dengan Lingga, Dimas sepertinya tidak mempermasalkan soal kepulanganku yang di antar Theo padahal dibanding Lingga, Dimas lebih antipati terhadap Theo. Tapi kali ini sepertinya ia lebih mementingkan kepulanganku dibanding masalahnya dengan Theo. Dimas benar-benar pengertian, bagaimana aku bisa move on kalau perhatian sekecil ini saja bisa membuat hati aku goyah. “Ya tapi seenggaknya kalo pergi itu hap

