“Loh kok kita kesini?” tanyaku heran. Alih-alih membawaku kembali ke kos, Theo membawaku ke sebuah jalan yang sudah beralih menjadi sirkuit balapan liar. Bagaimana aku tahu kalau arena ini dijadikan balapan liar? Terang saja orang-orang di depanku ini yang sedang mencoba mengadu suara motornya yang memekakkan telinga itu sudah cukup menjadi bukti kalau sebentar lagi mereka pasti akan bertanding di jalanan ini. Theo menyuruhku untuk turun dari motornya, yang kulakukan dengan setengah hati. Lama-lama berada disini telingaku bisa rusak mendengar suara memekakkan deruman motor-motor teman Theo ini. Theo berjalan menuju salah satu motor yang aku tidak tahu jenisnya tapi bisa dipastikan itu adalah salah satu motor yang tujuan pembuatannya pasti untuk balapan. Theo mengikuti teman-temannya mema

