Hancur

1053 Kata
“Sudah ya Alden, tidak ada yang bisa kita jalani lagi selain menjalani kehidupan masing-masing. Aku dan kau hanya masa lalu yang bisa kita kenang saja buka di bina lagi Alden, Dion suamiku sudah ikhlas menerima aku, tidak mungkin semudah itu aku menyakitinya, aku harap kau bisa bisa mengerti maksud aku yang sebenarnya, jah dari pikiranku kalau kau masih ingin bersamaku. Pasti itu hanya sekedar balas dendam karena aku telah meninggalkanmu.” “Tidak! Aku tidak bermaksud untuk itu, aku memang tulus ingin selalu bersamamu Yonna. Sekali ini dengarkan aku, aku mohon Yonna.” Tiba-tiba Dion yang baru saja datang melihat Alden yang sedang menarik tangan Yonna dengan paksa. “Lepaskan tangan istriku!” Ucap Dion kepada Alden. Alden terkejut dan dia berkata “Dia masih kekasihku, jadi jangan kau memisahkan aku bersamanya.” “Dion tolong aku” “Alden dia adalah istriku, dan kau hanya masa lalunya saja, berhentilah untuk datang menemui Yonna.” Alden begitu sangat marah dengan ucapannya Dion, akhirnya dia pergi meninggalkan Dion dan Yonna. Saat Alden meninggalkan rumah Yonna dia mengumpat di dalam hati terus menerus, Alden masih mencari cela untuk mendapatkan Yonna kembali, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi kepada Yonna aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya jika dia memiliki pasangan asal aku bisa mendapatkannya kembali lagi pula tidak ada yang bisa mencegah lagi Ayahnya yang sudah meninggal untuk apa lagi harus di lakukan. Berbeda dengan suasana Yonna yang dingin membuat semuanya menjadi kaku, lalu Dion berkata dengan tenang, “Yonna, kau kenapa membawa dia lagi kemari? Kau tahu dia akan menyelakaimu jika dia datang. ” Yonna langsung membantahnya, “Alden tidak seperti itu Dion, dia hanya ingin aku kembali kepadanya, tetapi aku tidak menerimanya karena aku sudah menikah tetapi dia tetap tidak bertanya kalau aku sudah menikah atau tidak sama sekali, di luar pikiranku kalau dia melakukan kekerasan begitu.” “Yonna, itu sudah terlihat jelas kalau dia menarik sudah tanganmu dengan kuat itu bisa saja dia terkait atau sejenisnya, kau dari situ saja masih berpikir kalau dia baik dan tidak akan menyelakakanmu, jauh di pikiran aku kalau kau bisa tenang jika dia masih saja mengganggu kau Yonna. ” Jelaskan Dion yang sedikit emosi. “Terserah kau Dion, terbukti tidak terjadi apa-apa. Hanya kau datang kebetulan untuk menolongku saja. ” “Iya sudah aku malas berdebat denganmu yang dari tadi hanya belanja Alden saja, kau tidak pernah berpikir bagaimana sakitnya aku saat kau masih bersama mantan kekasihmu itu. Berusaha aku untuk tetap tidak melakukan hal yang membuat kau benci ke padaku. Sudah sangat jelas kalau kau mencintainya. ” “Tidak, aku sudah katakan kalau aku sudah melupakan dia, jangan kau pancing aku untuk melakukannya.” Ucap Yonna yang marah sangat kepada Dion. Mereka berdua terus saja berdebat sampai mereka tiba-tiba dia untuk melanjutkannya. Dion yang berusaha tenang saat dia memandangi wajah istrinya yang dari tadi hanya kesal. Lalu dia menghampiri Yonna yang sedang duduk di meja kerja Dion. “Yonna…” Panggil Dion. Yonna masih tetap keras untuk tidak menyaut panggil Dion, tidak ada satu pun yang bisa membuat Yonna menjadi luluh. Akhirnya Dion menentukan Yonna dari belakang dan berkata “Yonna maafkan aku, aku salah seharusnya aku tidak marah dulu, padahal kau sudah menjelaskan kepadaku tetapi karena cemburuku membuat emosi terpancing. Aku tidak mau menyakitmu lagi, aku hanya ingin kehidupan kita berjalan dengan baik dan aku bisa menjadi seorang suami yang terbaik untukmu. ” Ucap Dion dengan nada yang sangat lembut. Tetesan air mata itu jatuh di tangan Dion, pria itu sangat terkejut dan dia merasa kalau Yonna menangis, “Yonna ...” Panggil Dion kembali. Yonna membalikkan tubuhnya dan memandangi wajah Dion dengan tatapan mata yang berbinar-binar, tidak ada satu pun yang bisa membuat diri Yonna kembali luluh seperti Dion. “Dion, apa benar kau cemburu? Padahal kau dan aku tidak memiliki perasaan apa-apa.” Tanya Yonna. Dion tersenyum dan berkata sambil memegang kedua pipi Yonna, “Yonna, memang aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun kepadamu tapi itu dulu, sekarang seiring nya waktu berjalan aku bisa memiliki perasaan sayang dan ingin memiliki itu yang aku rasakan sekarang, karena kalau sudah menikah setiap harinya aku harus menerima apa yang telah dia hadapi selama ini seperti, marahmu, perhatianmu, dan cuekmu itu yang aku tidak bisa dapatkan dengan wanita lagi. Jadi aku harap apa yang sudah kita jalani ini dan apa masalah yang terjadi sebisanya kita hadapi bersama bukannya marah-marah saja seperti tadi.” “Iya, aku merasa bersalah sudah mengatakan itu kepada suamiku, padahal itu suatu ke kekhawatiran suami kepada istrinya tetapi aku malah membantah dan membuat kau marah lagi. Sekali lagi maafkan aku ya Dion...” Ucap Yonna dengan wajah manjanya. “Kau ini bisa saja memasangkan wajah manjamu di hadapanku, itu sangat menggemaskan. Yonna apakah kita bisa menjadi pasangan yang sangat romantis seperti ke banyakan orang di luar sana, aku sebenarnya takut untuk menikah.” Ucap Dion. “Ha! Takut menikah? Tapi buktinya kau bisa menjalankan pernikahan tanpa di dasarkan perasaan malah aku lihat kau begitu dewasa setiap ada masalah yang datang, aku belum tentu bisa seperti kau yang begitu sabar mengahadapi aku.” “Maksud aku itu, aku pernah kecewa dan saat itu aku memutuskan untuk tidak mengenal wanita lagi dan menjalani kehidupan aku yang flat saja sampai aku bosan dan memutuskan untuk menjalankan kehidupan normal kembali, saat itu juga aku bertemu dengan Ayahmu dan akhirnya kita menikah tanpa ada perkenalan dan aku di situ merasa perkenalan awal itu tidak terlalu penting kalau ujungnya akan gagal lagi.” Ucap Dion yang menceritakan kisahnya. Yonna semakin bingung apa yang Dion maksud, “Nanti dulu kehidupan Normal, memangnya kau tidak merasa hidup normal seperti orang lain?” “Hm... sudahlah, itu tidak terlalu penting untuk di bahas karena hanya membuat luka lama saja, sekarang kita hadapi dengan tenang apa yang telah kita jalani bersama saat ini, aku tidak mau melakukan hal yang tidak pantas di lakukan saat bersama.” “Hm... baiklah, yang terpenting kita berdua harus saling melengkapi dan saling menjaga apa yang telah kita bina dari awal, aku sekarang sudah mulai mengerti apa yang sudah tuhan berikan kepadaku sosok pria yang menerima apa yang telah ada di hidupku.” Ucap Yonna sambil tersenyum memandangi wajah Dion. “Hm... Yonna kau cantik saat tersenyum seperti itu, tetap pasangan wajah yang membuat hari-hariku semakin semangat ya.” Ucap Dion kepada Yonna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN