Kesabaran

1035 Kata
Yonna menganggukkan kepala dan langsung memeluk erat tubuh Dion suaminya, jantung berdegub dengan kencang tidak ada yang bisa Dion rasakan selain kehangatan yang di berikan oleh Yonna kepadanya. Begitu tulus Yonna kepada dia. Dan tiba- tiba Yonna menyadarkan Dion, “Dion... kau kenapa hanya tersenyum saja, apa kau tidak mau membalas pelukanku?” Perlahan-lahan kedua tangan Dion memeluk tubuh Yonna, darah yang mengalir terasa di tubuh Dion untuk pertama kalinya memeluk dengan perasaan yang begitu dalam. “Dion...” panggil Yonna. “Apa Yonna?” “Apa kau tidak ingin memiliki anak dari rahimku?” tanya Yonna dengan wajah yang memelas. Dion bingung untuk menjawabnya, dan akhirnya dia berkata “Iya aku mau tapi tidak sekarang.” “Kenapa begitu?” “Sudah jangan di bahas lagi yang penting kau selalu ada untukku dan membuat diriku selalu nyaman.” Yonna bingung dengan ucapan Dion, tetapi dia merasa suaminya itu akan selalu menyayanginya. Hari-hari mereka jalani berdua sampai di mana Yonna yang masih berusaha ingin bermanja dengan suaminya, “Dion... kenapa kau selalu menghindari aku jika aku meminta itu kepadamu?” “Tidak apa-apa, sini peluk aku jangan kau menganggap aku tidak mau, hanya saja aku lelah jangan dulu ya malam ini.” Ucap Dion yang selalu memberikan kalimat untuk menenangkan hati Yonna. “Tapi kapan, aku ingin seperti suami teman-temanku yang selalu bermesraan bersama.” “Memangnya kita berdua tidak pernah bermesraan? Setiap waktu aku selalu memeluk mu, aku menyayangimu Yonna...” Ucap Dion. “Hm... apa aku tidak menarik di matamu sampai kau tidak mau menggauli aku dari malam pertama kita malah kau selalu begitu kepadaku, saat aku sedang klimaks kau membuat aku hancur dan merasa malu.” “Sudah jangan di bahas, aku tidak ingin kau mengingatnya.” Ucap Dion dengan tegas. Yonna langsung melepaskan pelukannya, Dion tersadar kalau istrinya sangat ingin bermanja dengannya. Dengan berat hati Dion melakukan aksi yang membuat Yonna bergetar. “Yonna... ayo kita lakukan.” Ucap Dion sambil membisikkan ke telinganya. “Ehhmmm... Yonna... lakukan terus...” Ucap Dion yang merasa ada denyutan yang berada di batangannya.  dia sangat terkejut setiap hentakan itu berusaha Yonna mau melepaskannya tetapi Dion masih ingin mengeluarkannya. Yonna berlari menuju kamar mandi dan dia merasa jijik pada cairan itu, lalu Yonna berkata “Kenapa kau langsung memuntahkannya? Cepat sekali?” “Huft... aku tidak tahu aku sudah merasa ingin mengeluarkannya.” Yonna merasa bersedih dia belum merasa titik kepuasan yang di berikan oleh Dion. “Ih... menyebalkan, kau sellau begitu tidak pernah membuat aku puas saat kita sedang melakukannya. Wajah Dion yang masih lemas itu membayangkan semua yang pernah dia tonton itu. “Yonna, apa kau menikmatinya?” Tanya Dion kepada Yonna. Yonna hanya menganggukkan kepalanya, dia meresapi apa yang di lakukan Dion kepadanya. Dan akhirnya Dion sudah mengeluarkan terlebih dulu dengan durasi hitungan detik saja. Dan tubuhnya terjatuh di atas tubuh Yonna. Yonna merasa jengkel kepada Dion, dia tidak pernah merasakan yang telah di berikannya. Begitu kesal dia melihat suaminya yang hanya melakukan permainan dengan singkat. “Dion aku ingin permainan ini dengan durasi lama, dan kita juga merasa klimaksnya bersama-sama, tetapi kau selalu saja mengecewakan aku. Aku lelah harus begini saja.” “Maafkan aku Yonna, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa secepat itu melakukannya padahal aku sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu.” Ucap Dion yang merasa dirinya tidak berguna. “Sudahlah, aku ingin tidur saja. Apa yang aku lakukan itu hanya membuat diri ini sakit saja.” Ucap Yonna dengan wajah ke kekecewaannya. Akhirnya Yonna tidak menghiraukan Dion lagi, begitu kesal hati Dion saat melihat Yonna yang tidak menghiraukan dia. Yonna yang begitu penasaran apa yang telah datang oleh suaminya, dia membawa Dion untuk memeriksa kesehatan mereka berdua, sebelumnya Dion tidak berpikir negatif tentang itu sesampainya di sana baru Yonna tahu kalau tujuan rumah sakit mengetahui tentang kesuburan dan kelainan pada batangan suaminya.  Setelah hasilnya keluar dia kebingungan ternyata hasil kesehatan terlihat bagus di antara mereka berdua. "Kok masih berpikir negatif tentang aku. Kau dengar sendiri kan dokter mengatakan kalau kita sehat-sehat saja, kesuburan kita berdua terjamin." Ucap Dion dengan percaya diri.  "Iya aku mengerti, sekarang bagaimana Kau buktikan kenapa kau begitu di saat aku belum klimaks sudah memuntahkannya terlebih dahulu, apa tidak kau bisa memuaskan aku, aku seperti tidak bernafsu saat melihatku. Berbagai usaha membuat diriku yang menarik di depan memakai pakaian tipis. "  "Hahaha ... Kau ini Yonna ada-ada saja saat memandangi aku. Sudahlah kita butuh usaha lagi, jangan pernah menyerah."  Saat mereka dalam perjalanan pulang tidak sengaja Dion bertemu dengan perempuan yang sangat cantik adalah teman waktu di SMA dulu, Yonna semakin heran dengan kedekatan seperti orang yang memiliki hubungan sangat dekat.  Di dalam hati Yonna sangat lah jengkel, "apaan sih wanita ini! Apa arti kata kerja sama Dion, padahal kan dia tahu kalau dia sudah punya istri tidak perlu harus cium pipi kanan kiri itu, ih sangat menyebalkan tidak tahu lagi harus menggunakan apa cemburu."  Setelah pertemuan mereka selesai Dion menggandeng tangan istrinya, lalu dia berkata "kalau kau memasangkan wajah itu kepadaku aku tahu apa penyebabnya?" "Apa?" "Kau cemburu kan? Katakan saja aku tidak masalah itu sangat wajar kok istriku, kau tahu lagi mana pun aku masih mengharapkan perasaan yang sangat dalam kepada kau Yonna, kita saling percaya saja." Ucap Dion Yang Doa Yonna. "Tidak! Sudahlah Aku malas Berbicara kepadamu saat kau tadi mencium pipi wanita itu, kan sakit Dion." "Ya sudah aku minta maaf tidak akan mengulangi lagi, aku tahu perasaanmu tak mungkin aku akan melukaimu terus, aku berjanji."  "Ya aku akan mengingat janjimu, kau tidak tahu betapa hancurnya aku kalau kau lakukan itu lagi."  Dion hanya tersenyum memandangi wajah istrinya yang begitu cantik saat cemburu, tidak tahu apa yang akan dirasakan sekarang yang terpenting saat ini harus menjaga perasaan istri.  Beberapa menit sampailah mereka di rumah, terlihat ada bulunya terletak di depan rumah mereka tidak tahu siapa yang mengantarkannya, tanpa ada alamat dan nama pengirim. Berusaha Dion untuk menanyakan hal ini kepada Yonna.  "Yonna, aku bertanya bunga ini apakah untukmu? Aku rasa ini pasti dari kekasihmu dulu si Alden dia masih berusaha untuk mendekati kau, hanya saja kau tidak menanggapinya lagi."  "terserahlah, aku tidak mau memikirkannya aku pusing bagaimanapun aku berharap ini hanya bunga saja yang dikirimkan jangan sampai dia datang." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN