“Aku ingin meminta ijin tidak masuk kerja pada hari Senin, karena itu adalah hari di mana Ibuku menjalani persidangan,” ucap Karin takut-takut. Ia menundukkan kepala tidak berani menatap Ryan, karena ia tahu dengan menyebut Ibunya di hadapan Ryan sama saja, dengan memancing kemarahannya. Tepat dugaaannya, ia dapat mendengar suara tarikan napas Ryan yang nyaring. Dan dapat didengarnya suara Ryan yang memerintahkan kepadanya untuk mengangkat kepalanya. Perlahan Karin mengangkat kepala dan netranya langsung saja bertatapan tepat dengan netra Ryan. Dapat dilihatnya netra itu menyala-nyala dipenuhi dengan amarah. “Kau pikir aku bersedia memberikan ijin bagimu, demi memberikan dukungan kepada seorang pembunuh!” Ejek Ryan. Air mata Karin langsung mengalir dengan tangan yang terkepal ia berte

