Ruangan itu luas, memiliki beberapa ornamen tua yang kaya akan energi. Ada dua bola mutiara malam yang redup satu ada diatas meja kepala sekolah, satu lagi diletakkan didalam sangkar burung. Itu adalah burung nuri berwarna emas yang memiliki ukuran sedikit lebih besar dari burung nuri biasa, pupil matanya kecil dan merah dan saat berkicau itu memiliki suara lebih mirip symphoni dibandingkan kicauan burung biasa. Melihat mutiara malam, koin emas, dan juga satu berlian delima merah yang diletakkan di sangkar itu,kemungkinan burung itu sangat menyukai hal-hal berkilau atau mungkin memang menyukai hal-hal mewah.
“Namanya adalah Herlina. Sebenarnya itu adalah burung yang muncul saat kepala sekolah dan rekan-rekannya berhasil mengalahkan bos raid puluhan tahun lalu. Tidak ada yang tahu apa kelebihan burung itu kecuali nyanyiannya yang merdu dan sangat menyukai hal-hal berkilau. Almarhumah istri kepala sekolahlah yang membawanya dan merawatnya sampai beliau meninggal. Jadi setelah istrinya meninggal, kepala sekolah memilih menempatkan burung itu di ruangannya setelah melihat burung itu tidak berbahaya.” Eugine menjelaskan tatkala pandangan Julian terpaku lama pada sangkar burung itu.
“Apapun yang muncul di dalam dungeon bukankah seharusnya tetap diwaspadai? Jarang ada mahluk hidup yang tidak membawa kutukan jika itu berasal dari dungeon.”
“Ah, itu kau tenang saja, kau lihat kaki burung itu?” Eugine menunjuk pada kaki kanan burung Herlina.
“Bukankah kau melihat ada pola sihir pertahanan di kakinya itu? itu dibuat oleh dekan sendiri yang memungkinkan untuk membatasinya jika memang sewaktu-waktu dia akan menyerang.”terang Eugine.
Julian mengamati kaki burung itu, dan memang benar ada pola sihir kuat yang ditanamkan pada burung itu. Julian rasa kepala sekolah memang sangat berhati-hati.
“Kau bisa duduk dulu. Aku akan segera memanggil kepala sekolah. Kau tahu kan bahwa saat ini kita memiliki jumlah wartawan yang luar biasa dikarenakan tes pengujian bakat kemarin.”
Julian mengangguk—tersenyum maklum. Dia mengamati Eugine yang berbalik keluar pintu sampai pemuda itu melihat sahabatnya itu menutup pintu ruangan kepala sekolah, Eugine adalah salah satu bakat langka yang dulunya pernah ditawari untuk masuk ke akademi Royal dibawah sayap keluarganya. Namun sahabatnya itu menolak dengan tegas dengan alasan bahwa dia tidak mau menjadi anjing bangsawan setelah lulus. Ucapannya tidak salah, karena pada kenyataan siswa yang bukan dari keluarga kerajaan yang menjadi murid beasiswa di akademi Royal tidak lain hanyalah untuk menjadi bawahan atau tangan kanan dari keluarga kerajaan itu sendiri. Julian pun tidak mau hal itu terjadi pada Eugine.
Julian tahu hasil dari tes pengujian bakat kemarin jelas membuat gempar seluruh Asternal. Tapi terlepas dari itu, akademi Royal jelas merasa tertampar dan mulai mengkaji ulang tentang peraturan yang hanya memperbolehkan anggota kerajaan yang bersekolah disana. Masalah lain juga adalah status Arthur sendiri. Pada awalnya akademi Royal seolah membuang Arthur dikarenakan saat itu adiknya sama sekali tidak menunjukkan bakat pada bola kristal bakat. Siapa yang menyangka saat dia ‘dibuang’ di akademi Olympus, justru dia menjadi bintang keberuntungan akademi ini. Para tetua telah membicarakannya sejak hasil tes itu keluar dan media gencar menyampaikan hasil tes secara live, mereka ingin menarik kembali Arthur untuk masuk kedalam akademi Royal. Jika saja ayahnya tidak memberi alasan yang tegas untuk menghargai keputusan Arthur, tentu saat ini Arthur akan langsung dibawa ke rumah dan mengurus surat perpindahan.
Tapi masalahnya tidak semudah itu. Julian telah melihat perkembangan Arthur. Saat pertama kali keluarga menguji bakatnya bersama Adele, jelas Arthur menerima pukulan keras saat dia tidak memiliki bakat sama sekali. Kepribadiannya yang dulunya ceria berubah menjadi murung. Bahkan kepada Adele yang pernah memiliki hubungan paling dekat sekalipun, Arthur perlahan mulai menjaga jarak.
Namun saat Julian melihat Arthur hari itu, Julian merasakan bahwa Arthur telah berubah, keceriaannya kembali, dan yang lebih menarik adalah bahwa Arthur tampak memiliki wajah cerdas dan penuh ambisi. Selain itu, Julian masih penasaran dengan apa yang dikatakan Arthur pada temanya sebelum mereka melakukan tes pengujian bakat.
“Sebenarnya alat kedua ini tidaklah sempurna. Untuk tes bakatmu saat ini, memang tidak ada yang bisa diubah, namun bukan berarti itu bakatmu seterusnya, itu hanyalah bakatmu saat ini namun dengan pengalaman, dan penempaan yang benar, bakatmu akan semakin terasah. Bisa jadi saat ini kau memiliki bakat B, namun dengan latihan yang benar kau akan menjadi bakat rank-S.”
“Apa kau yakin itu Arthur?”
“Aku dapat menjamin itu, karena itu di alat nanti hanya dikatakan itu adalah perkiraan bakat awal. Bukan patokan bakat. Nah yang akan aku ajarkan kalian adalah untuk mengakali tes kedua yaitu pengujian fisik. Percayalah bahwa saat ini alat ini memiliki bug.”
“Apa maksudmu?”
“Pada alat itu, itu bukanlah pengujian fisik belaka. Melainkan pengujian mentalmu. Saat kau masuk sistem akan memindai hal yang paling kau takuti yang akan dijadikan replika. Saat itulah kau harus bertempur dengan ketakutanmu sendiri. Seremeh apapun ketakutanmu, jika kau dapat menyelesaikan atau menghadapinya, maka kau akan lolos dengan rank-S. Coba mulai dari sini kalian pikirkan hal apa yang membuat kalian takut. Namun pikirkan pula bahwa itu hanyalah ketakutan lemah, jika kau berpikir demikian, maka sistem akan merekap data ketakutanmu dan kekuatan dari ketakutanmu. Kalian akan mudah menghadapinya dengan rank-S. aku akan menjamin hal itu.”
“Wow! Arthur! Kau sungguh gila! Inikah kekuatan dari keluarga kerajaan? katakan padaku mekanik mana yang memberitahumu kelemahan mesin ini? Ini adalah mesin terbaru dari Asosiasi dan kau sudah mendapatkan bug.”
Arthur tidak dapat berkata-kata. Nyatanya semua ini murni dari ingatannya di masa lalu.
Julian sangat mengingat percakapan Arthur dan temannya saat itu dengan mengoptimalkan indra pendengarannya melalui penguatan mana miliknya. Awalnya Julian hanya mengira itu hanyalah bualan anak remaja dimana dia baru saja mendapatkan teman baru yang layak untuk sesekali pamer. Tapi semua keraguannya itu sirna tatkala semua teman yang dia beritahukan itu muncul sebagai rank-S pada alat tes pengujian bakat ke dua. Bahkan Arthur sendiri keluar dengan hasil yang bahkan belum pernah ada di Asternal selama ratusan tahun.
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya saat itu. darimana Arthur mengetahui hal itu? jika memang ada orang dibelakang Arthur yang mendorong pemuda itu menjadi seperti sekarang, maka siapa itu? jika memang itu benar, dia pastilah seorang legenda karena dapat mengetahui bug sistem pada alat pengujian bakat yang baru saja rilis.
Pintu kantor terbuka dengan suara decitan kayu beradu dengan lantai. Saat Julian menoleh, dia mendapati Prof. Xion yang merupakan kepala sekolah akademi Olympus datang dengan Eugine berjalan dibelakangnya. Kepala sekolah Xion adalah lelaki berumur hampir tujuh puluhan lebih namun dengan bakat rank-S miliknya dan sihir yang dipelajarinya, wajahnya masih sama seperti seorang pemuda dua puluh tahunan dengan rambut merah terang menjulur dibawah pinggang yang di kepang satu. Dia memakai jubah hitam dengan kacamata berbingkai kayu onx di wajahnya. Jika orang lain melihat pertama kali tanpa mengetahui statusnya, Julian yakin itu akan membuat hati para gadis terpaut.
“Oh tuan muda Julian, maaf telah menungguku lama.” Xion berkata meminta maaf. Lalu saat dia mengusap wajahnya dengan sapuan tangan, wajah muda yang dia tampilkan tadi kini berubah dengan wajah berwibawa terlihat seperti seorang lelaki berumur di awal empat puluhan. Kemungkinan tampilan muda tadi sengaja dia buat selama wawancara untuk kepentingan promosi.
“Ah, anda bahkan belum menerima minuman sama sekali dari Eugine.” bahkan dengan perubahan wajahnya, suara Xion pun ikut berubah menjadi lebih matang.
“Saya minta maaf, saya lupa untuk meminta pengurus asrama membuatkan secangkir teh untuk tuan Julian.” Eugine sungguh-sungguh meminta maaf dan cara bicaranya menjadi formal. Dia memang terlalu terburu-buru memanggil kepala sekolah hingg melupakan tata krama dasar.
“Maafkanlah kelalaian murid kami tuan Julian.” Xion kembali berucap.
Julian cukup kagum dengan hal itu. Terus terang di akademi Royal para profesor hanya menampilkan wajah muda mereka tanpa pernah menunjukkan bahwa itu hanyalah sihir yang dapat mengubah-ngubah wajah sesuai keinginan.
“Tidak masalah kepala sekolah Xion, saya cukup menikmati nyanyian Herlina.”
Prof. Xion tertawa bangga, “Dia memang burung yang baik.” lalu dia berbalik menatap Eugine dan berkata, “Tolong minta pengurus untuk membawakan teh untuk kami berdua.”
“Saya akan segera kembali.” kata Eugine.
Begitu Eugine mengatakan hal itu, pemuda itu langsung menghilang dari ruangan. Kini hanya ada keduanya didalam ruangan. Xion berjalan langsung menuju kursi miliknya yang berada tepat di hadapan dimana Julian duduk. Sekilas dia mengamati Julian, dari pengamatannya Xion merasa bahwa Julian memang di didik untuk menjadi penerus Duke saat ini. Pembawaannya tenang, wajah rupawan, dan tentu saja pandai mengekspresikan wajah untuk tetap terlihat tenang.
Awalnya Xion merasa heran kenapa seorang keturunan Dewantara yang memiliki anak-anak jenius memilih mentransfer murid Arthur ke akademi ini. Dia mengira itu adalah anak buangan yang tidak memiliki bakat. Namun siapa sangka bahwa ‘adiknya’ si Jenius ini ternyata adalah jenius langka dalam seratus tahun. Jadi Xion berpikir bahwa ada alasan tersendiri kenapa keluarga dewantara menempatkan Arthur sebagai murid akademi disini bukan malah akademi Royal. Namun tetap saja Xion merasa takut melihat bakat Arthur yang ternyata terlalu besar sehingga keluarganya ingin menarik kembali Arthur.
Eugine kembali tidak lama kemudian dengan mengantarkan teh beserta camilan dengan tangannya sendiri. Dia juga dengan baik membawakan semangkuk kecil buah kristal biru salah satu buah langka yang dapat menambahkan mana pada tubuh dan rasanya enak. Seperti namanya, buah ini berbentuk bulat bening seperti kristal yang memiliki warna biru cerah.Buah ini telah dibudidayakan di akademi sejak sepuluh tahun lalu setelah diambil dari lembah dungeon rank-S. Sejak mengetahui manfaat buah itu dari penelitian, setiap akademi memang diwajibkan menanam buah ini. Namun sayangnya buah ini hanya dapat tumbuh di akademi Royal dan Olympus saja. Dan tahun ini adalah tahun dimana buah matang setelah sepuluh tahun penanaman. Itu hanya sedikit bahkan tidak lebih dari dua puluh butir buah kecil yang ukurannya sebesar anggur merah,
Julian cukup puas melihat betapa mereka sangat menghargainya. Kemungkinan ini karena Arthur juga dia diperlakukan sangat spesial. Bahkan di akademinya, hanya raja Asternal—pamannya sendiri dan para pangeran yang dapat memakan buah ini. Dia paling hanya diberikan satu butir. Namun disini mereka sangat murah hati memberikan sepuluh butir buah dalam mangkuk kecil.
“Saya mohon maaf karena harus undur diri, setelah ini saya harus menghadiri kelas wajib.” Eugine berkata.
Saat melihat Xion membalas dengan mengijinkannya, Eugine tidak lagi lama-lama di ruangan dan segera pergi. Dia tahu bahwa saat ini keduanya membutuhkan pembicaraan pribadi.
“Jadi tuan muda Julian, apakah yang membuatmu kesini adalah karena ‘murid kami’ Arthur?”
Julian menaikkan salah satu alisnya. Entah hanya perasaannya atau memang sepertinya kepala sekolah dihadapannya ini menekankan kata ‘murid kami’. Seolah-olah menegaskan bahwa Arthur saat ini sudah menjadi bagian dari akademi Olympus yang tidak dapat seenaknya dipindahkan setelah mengetahui bakatnya.
“Kepala sekolah terlalu serius. Kedatangan saya kemari memang atas perintah resmi ayah saya. Namun itu bukan mengenai pencabutan sekolah adik saya. Tapi itu berbeda jika memang adik saya yang memintanya sendiri.” Julian menjawab. Dengan gerakan anggun, pemuda tujuh belas tahun itu mengambil secangkir teh di atas meja dengan tangan kanannya , sedangkan tangan kirinya menggunakan sihir untuk mengambil buah kristal biru dan memeras isinya untuk dicampurkan pada tehnya sebelum menyesapnya perlahan. Saat air itu membasahi tenggorokannya, Julian dapat merasakan aliran mana yang meningkat pada tubuhnya. Itu sangat menyenangkan.
“Ho-ho…saya akan memastikan adik anda mendapatkan fasilitas terbaik kami sehingga tidak akan berpikir untuk keluar dari sini.” ada raut kelegaan pada wajah Xion saat mendengar jawaban Julian.
Julian tersenyum dan meletakkan cangkirnya, “Saya rasa Arthur juga tidak ingin pindah dari sini. Kepala sekolah dapat tenang. Dan demi keamanan adik saya, latar belakang keluarga kami harap tetap terjaga rahasianya.”
Xion langsung menyanggupinya. Mengenai identitas Arthur hanya sedikit guru yang tahu. Itu adalah Dekan, dirinya dan wali kelas departemen Chronos dimana Arthur memilih departemen saat mendaftar.
“Langsung saja kepala sekolah, kedatangan saya kesini adalah untuk meminta rekaman video dari tes kedua pengujian bakat adik saya. Ini adalah surat perintah dari ayah saya.” dengan lambaian tangan, Julian mengeluarkan surat yang bersegel resmi duke Glerand—ayahnya dari cincin spasial kerajaan miliknya.
Peraturan setiap akademi adalah hanya kepala keluarga yang diperbolehkan melihat rekaman tes hasil pengujian bakat kedua yang direkam oleh sistem. Dikarenakan tes itu adalah tes dimana anak-anak melawan kelemahannya, itu bisa dijadikan senjata untuk melawannya. Keluarga bangsawan terlalu rumit. Bahkan tidak jarang banyak terjadi perang saudara. Jadi meskipun itu saudara, tanpa surat rekomendasi kepala keluarga, Julian tidak dapat melihat rekaman itu.
Xion membuka surat itu, setelah memastikan surat itu asli dengan adanya jejak mana sang duke Glerand dalam surat itu, Xion mengangguk. Beliau lantas menghubungi Dekan sebelum berbalik pada Julian.
“Mari kita temui dekan, semua rekaman ada di ruang arsip terbaru. Kita akan menemui dekan disana.”
“Baiklah kepala sekolah.”
***
Xion hanya mengantarkan Julian hingga di depan pintu arsip akademi sebelum meninggalkan Julian setelah merek melewati sihir pembatas pertama. Ruangan arsip untuk menyimpan data tes pengujian bakat siswa adalah bangunan baru yang dijaga oleh kakek tua yang sering dipanggil kakek Marcus oleh anak-anak dan para guru. Itu adalah teman lama dekan yang bahkan Xion sendiri tidak tahu identitas lelaki tua itu selain dia adalah seorang penyihir yang sangat mencintai buku hingga mau menjadi penjaga ruang arsip dimana tempat buku-buku level B sampai S disimpan. Kakek itulah yang memberikan tiga sihir pembatas yang merupakan simbol siapa saja yang boleh masuk. Setiap pembatas itu seperti sebuah ruangan kosong dengan perabotan lengkap meja , kursi, lemari dan bahkan makanan dan minuman disediakan. Tentu saja setiap pembatas akan berbeda bentuk ruangan yang ditampilkan.
Pembatas pertama bebas dilewati siapapun. Biasanya itu digunakan untuk bertanya pada kakek Marcus tentang beberapa hal seperti dimana buku mantra disimpan, alat sihir apa yang bisa di akses dan lainnya.
Pembatas kedua akan terbuka jika memang kalian memiliki ijin dari dekan. Di pembatas kedua itulah mereka yang berkunjung baru akan dapat melihat wajah kakek Marcus. Karena dalam perintah dekan hanya Julian yang diberikan akses, maka Xion hanya dapat mengantar Julian sampai pada pembatas pertama saja. Jadi saat pembatas sihir kedua terbuka, Julian langsung dapat melihat kakek dengan wajah penuh wibawa sedang duduk bersama Arthur! Julian tidak tahu bahwa Arthur juga akan dipanggil bersama dirinya.
Sangat aneh melihat kakek tua itu terbahak-bahak mengingat kepala sekolah mengatakan bahwa lelaki tua itu memiliki temperamen aneh yang jarang terlihat tersenyum.
Mendengar kedatangan Julian, lelaki itu berbalik menatapnya dan mimik wajahnya seketika berubah menjadi datar.
“Oh? Anak muda kau sudah datang.” katanya menyambut datar kedatangan Julian.