"Kamu...kenapa kamu di sini?" tanya Nino dengan nada heran. Dia meletakkan gelas berisi air yang belum sempat diminumnya dan berjalan mendekat ke arahku. Tepat dia saat yang bersamaan teko air panas mengeluarkan suara, menandakan jika airnya sudah mendidih. Aku mematikan kompor dan dalam hati tidak habis pikir, kenapa Nino masih berada di rumah. Bukankah Mbak Rasti mengatakan jika sudah seminggu ini Nino lembur dan memilih tidur di kantornya? Dan apa yang aku dapatkan saat ini, Nino malah berada di dekatku dengan tampilan orang yang baru bangun tidur. "Aku nggak lagi mimpi, kan?" tanyanya masih dengan wajah penuh kebingungan. Aku ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Dari wajahnya yang kusut, Nino memang terlihat baru bangun dari tidurnya. Dia bahkan mengucek matanya beberapa kali. Kali

