Debaran jantungku terasa tidak terkendali. Debaran kali ini bahkan jauh lebih dahsyat dibanding saat Nino menciumku tadi siang. Aku bahkan kesulitan untuk menarik napas saat mendengar suara bel rumahku berbunyi. Itu pasti Nino! Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk mengatakan pada Papa dan Mama tentang kedatangan Nino, kedatangannya setelah lima tahun berlalu. Hari ini aku memang meninggalkan bakery lebih cepat dari biasanya. Hari masih sore saat aku mengajak Vio untuk pulang. Apalagi yang menjadi alasannya kau bukan karena Nino mengatakan jika malam ini dia akan datang ke rumah. Tidak ada maksud khusus, hanya bersilaturahmi setelah sekian waktu berlalu. "Om Nino!" Napasku tertahan saat mendengar suara Vio memanggil Nino. Aku bukan anak remaja lagi, tapi entah kenapa rasanya aku

