Napasku terengah saat berhasil berlari menuju tempat Vio terjatuh. Di kepalaku hanya ada Vio. Aku begitu cemas sampai kebingungan untuk menemukan di mana keberadaan Vio saat ini setelah dia terjatuh. Remaja-remaja yang tadi berlarian tampak panik, beberapa diantaranya melompat ke kolam untuk menolong VIo. Seorang remaja terlihat mengangkat tubuh Vio. Dengan tubuh yang gemetar, aku berusaha mendekat. Pandanganku terasa kabur, kepalaku berputar saat melihat bercak darah di baju remaja yang sedang menggendong Vio. Tidak! Kepala Vio penuh darah dan matanya terpejam menahan sakit. Aku ingin marah pada remaja-remaja yang membuat Vio jatuh tapi rasa takut lebih menguasai dan membuat tubuhku bergetar dengan hebat, sehingga yang terjadi aku malah membisu tanpa suara. "Vio...!" jeritku tertahan s

