Ada sesuatu dari pandangan Indra yang tidak terlihat sesuai keinginannya. Hari ini niat Darwis hanyalah bersilaturahmi, tapi entah bagaimana niat itu berbelok begitu ia melihat Lina, lalu menyadari Iif dalam kondisi demikian. Darwis seperti melihat wanita tersayangnya tersakiti---dan hanya dimanfaatkan. Ia tak terima. Sayang, rasa tak terima itu meloloskan kalimat yang salah dari lisannya ketika ia menatap Iif untuk pertama kalinya lagi setelah sekian lama. Darwis bersumpah! Mata itu menyiratkan sorot kerinduan. Mata itu juga merasa bersalah melihatnya, sekaligus senang. Mana yang benar? Tapi, ia tahu intuisinya tidak pernah salah. Iif tak nyaman di sana. Bersama pria itu, Iif menderita. Mungkin tidak secara fisik. Namun, bukankah penderitaan psikis lebih berbahaya? Lihat saja sikap I

