“Aku mau ngomong sama Bu Iif, boleh?” Indra gusar. “Mau ngomong apa, Dek?” “Siapa, Dra?” Iif menyapanya, memotong perasaan gusar yang mengganggu begitu mendengar nama Darwis lagi di telepon ini. Dia nekat bangun dari kasur, berjalan kemari, tertatih. Dasar keras kepala, gerutu Indra dalam hati sambil menatap istrinya dari atas ke bawah. Indra menutup gagang teleponnya dulu dengan tangan sebelum menjawab, “Anaknya Darwis. Katanya mau bicara sama kamu.” Kernyitanlah yang menyambutnya. “Hah? Bicara apa?” Indra mengangkat bahu, lalu menyerahkan gagang telepon itu pada Iif. Beranjak, ia bersikap menunggu di sofa sana. Iif melirik tingkah itu sebagai sikap tak mau peduli. Baguslah. “Halo, assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam....” Suara di seberang sana terdengar tegas. “Dengan Ibu I

