*** “Alasannya, kalau kamu mau tahu, dia gak bisa menjadikan aku pelariannya ... dari ....” *** IIF mengetuk-ngetukan kakinya tak sabar. Ia tak sabar menanti sambungan telepon itu diangkat. Duduk di sofa sana, Mat memperhatikannya dengan wajah polos sambil mengemil sumpiah. “Sabar, If,” Mar menegurnya, “ini kan masih jam kerja. Nanti saja lagi teleponnya.” Ya, masih jam kerjanya Darwis, tetapi sudah jam pulang untuk mereka. Iif tak menggubris teguran Mar itu. Ia kekeh menempelkan telinganya ke gagang telepon, menunggu Darwis menjawabnya. Sayang, tak lama kemudian, nada sambungan tak terjawab itu terdengar. “Ugh,” Iif mengeluh, “berapa nomor telepon Fitri?” Ketika tak ada jawaban dari Mar, Iif kembali menoleh. “Dia di Bogor juga atau masih di Plara?” Menjawabnya, Mar meng

